15 Menit yang Menentukan

Aku mengenalnya di Pesta Pernikahan sahabatku. Sudah sejak dari pandangan pertama aku tahu lelaki ini lah yang aku cari. Tapi sejujurnya aku tak pernah mempercayai bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada. Lelaki ini baru menatap matanya saja sudah membuatku mempercayai hal yang selama ini tak pernah kupercaya. Setelah dari momen Pesta Pernikahan sahabatku, hubunganku dengannya semakin intens. Ia selalu meneleponku tiap malam meski yang diperbicangkan adalah hal-hal yang sudah diperbicangkan di hari lain. Tetapi aku tak pernah bosen mendengarnya bercerita. Suaranya begitu teduh seperti gemerincik rintih hujan. Ia tertawa ketika aku mengatakan hal demikian.

Sebulan setelahnya kami memutuskan berpacaran. Tidak, tidak. Ketika ia menyatakan cintanya padaku ia tidak mengajakku berpacaran, ia ingin aku menjadi ibu bagi anak-anaknya kelak. Hal yang membuatku terharu. Karena selama ini lelaki yang pernah “menembakku” tak pernah mengatakan hal semanis ini.

Enam bulan kemudian ia melamarku. Jujur saja itu surprise yang tak pernah kusangka-sangka. Ia datang ke rumahku bersama keluarga besarnya. Keluargaku belum mempersiapkan apapun, karena semalam saat ia datang ke rumahku tak sedikitpun menyinggung mengenai lamaran. Aku bahagia, haru, sekaligus sangat terkejut.

Di bulan November yang basah pernikahan kami digelar. Semua berjalan lancer, meski di berbagai ruas jalan ibukota terendam banjir, tamu tetap memenuhi venue. Tak menunggu lama, sebulan setelah pernikahanku dengannya perutku telah terisi janin. Kami memang tidak menunda kehamilan secara usia kami yang sudah berkepala 3. Tiga bulan setelahnya aku mendapat kejutan kembali, ternyata di rahimku terisi sepasang janin. Betapa bahagianya diriku, aku pun melihat dia begitu bahagia hingga sampai ada setetes air mata yang memaksa jatuh dari matanya.

Hari yang di tunggu-tunggu tiba. Hari kelahiran sepasang buah hatiku. Selama hampir 9 jam aku berjuang untuk buah hatiku, dan ia tetap di sampingku, menyemangatiku. Meski aku tahu ia tak begitu tahan dengan darah atau bau darah.

*

Dua tahun kemudian.

Aku sungguh bahagia memiliki keluarga kecil. Si kembar sudah masuk PAUD, tiap pagi aku yang mengantar sebelum aku berangkat ke kantorku, nanti pulangnya ibuku yang menjemputnya. Si kembar benar-benar anak yang tangguh, mereka bukan tipe anak-anak yang pemalu. Meski keingintahuan mereka cukup tinggi dan menguras energy guru-guru PAUDnya.

Hari ini Suamiku ada meeting di daerah Bogor. Ketika berteleponan dengannya tiba-tiba kepalaku terasa sakit, seperti dibentur-benturkan ke tembok. Jelas hal itu membuatnya panik, ia memintaku untuk izin pulang dan kemudian ke dokter keluarga. Aku lakukan.

Setelah pemeriksaan di dokter keluarga kami, sang dokter mendiagnosaku aku punya penyakit seperti yang pernah diderita Almarhum Ayahku. Penyempitan pembuluh darah di belakang tulang leher. Suamiku menelepon lagi, meski aku sudah katakan aku tidak kenapa-kenapa, kesan suaranya masih terdengar seperti orang panik. Ia memintaku untuk menunggu, karena 15 belas menit lagi kemungkinan ia sudah sampai di tempat praktek dokter keluarga kami. Ia juga sudah menelepon Bang Nassir, sopir ibuku menuju ke tempatku untuk membawa mobilku. Kutunggu terasa lama sekali, akhirnya aku putuskan untuk pulang dengan membawa mobil sendiri. Di tengah perjalanan tiba-tiba rasa pusing yang teamat sangat itu datang kembali dan membuatku pingsan. Aku tak ingat apa-apa lagi selain benturan antara kedua bemper mobil.

Dalam kecelakan itu aku selamat sementara pengendara mobil lainnya tidak, ia tewas di tempat kejadian. Aku koma selama dua bulan di Rumah Sakit. Pertama kali yang mengetahui aku tersadar dari koma adalah adik iparku, kemudian ia memanggil seluruh keluarga yang saat itu sedang menjenguk. Kakakku yang pertama memelukku, lalu ibuku, ibu mertuaku, dan ayah mertuaku. Aku bertanya-tanya di mana suamiku dan anak-anakku. Mereka sedang di rumah, kata ibuku. Aku tersenyum karena jawaban ibu. Aku yakin sekali meraka pasti kangen denganku dan dengan masakanku. Setelah seminggu aku sudah diperbolehkan pulang, tapi tetap saja ada pertanya mengganjal, mengapa suamiku selama seminggu ini setelah aku sadar dari koma tidak juga datang ke rumah sakit atau paling tidak meneleponku. Aku ingin tanyakan hal itu pada ibu, tapi aku urungkan.

Sesampainya di rumah Si Kembar sudah menyambutku. Mereka memelukku erat. Dari matanya aku melihat ada kerinduan, juga terdapat kedukaan. Aku dibaringkan oleh kakakku di ranjangku. Sebelum ia pergi, aku menggenggam tanggannya. Ia tahu aku ingin menanyakan sesuatu. Ia bilang, ibu yang akan menjelaskan. Ia kemudian memanggil ibu. Bukan hanya ibu yang masuk ke kamarku, tapi juga ayah dan ibu mertuaku. Ibuku mengatakan dengan terbata, air matanya meleleh melewati pipi. Ia mengatakan suamiku telah tewas saat kejadian kecelakaan itu. Jadi saat itu yang aku tabrak adalah mobilnya, sementara ia tengah melaju kencang untuk menjemputku. Aku menangis sekeras-kerasnya. Aku tahu tangisku takkan membawanya kembali. Ini hanya sebuah jeritan penyesalan, andai saja aku menunggu 5 menit lagi. Andai.

Tiga minggu setelah kenyataan itu terdedah, aku baru bisa mengikhlaskannya. Baru berani keluar kamar, di mana di ruang keluarga Si Kembar tengah bermain puzzle bersama adik iparku. Ibuku menuntunku, ia menyerahkan album foto. Aku tahu itu album foto penguburan suamiku. Aku sebenarnya belum sanggup melihatnya, tapi kupaksa. Hari berikutnya, kami sekeluarga ziarah ke makam suamiku. Di atas pusaranya seluruh penyesalan aku haturkan bersama rangkaian air mataku yang tak henti-hentinya menjatuhi tanah perkuburannya.

**

Semarang, 16 Maret 2016

Berdasarkan cerita sebenarnya yang tentunya sudah ada sedikit banyak penambahan cerita

One thought on “15 Menit yang Menentukan

  1. Turut berduka cita, setidak nya dengan menuangkan nya dalam bentuk artikel seperti yh bisa dilihat semua org, itu merupakan semangat yg luar biasa. #respect

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s