Masihkah Kau Menantikan Surat Dariku?

Umur senja masih beberapa menit sebelum akhirnya petang datang dan menggantikannya. Desir angin pantai sore itu begitu keras menyentuh tubuhku, meskipun dua helai kaos dan sehelai baju hangat membungkus tubuhku tetap saja aku dapat merasakan angin itu berhasil menyentuh hingga ke tulang-tulangku. Bukan hanya tubuhku, helai-helai rambutku pun dimasaikannya.

Tiap sore, di bulan-bulan hujan, aku selalu berdiri di pantai itu. Menatap garis horizon nun jauh di sana dan berharap dia, lelaki yang telah kuhibahkan hatiku pun melakukan hal serupa. Dua tahun sudah ia pergi merantau ke tanah seberang, aku masih ingat betul sore itu di bulan hujan ia memelukku sesaat sebelum kapal yang membawanya mengangkat sauh. Aku ingat betul kemeja yang ia kenakan, aku masih ingat betul wangi parfum yang ia pakai, aku masih ingat betul kata-kata patah yang ia bisikan ke telingaku. Kata-kata yang membuatku selalu berdiri memandangi garis horizon tiap sore di bulan-bulan hujan.

Seminggu selepas ia pergi ke tanah seberang, surat pertama darinya kuterima dengan hati riang semacam gadis yang baru pertama kali mendapatkan surat cinta. Ia mengabarkan bahwa ia telah mendapatkan pekerjaan di tanah seberang. Dan tiap minggu surat-suratnya selalu kunanti. Akupun selalu membalas surat-suratnya.

Semua berjalan terasa baik-baik saja. Hingga surat-suratnya tak lagi mendatangiku, tetapi aku tetap menuliskannya surat.

*

Senja di bulan hujan senantiasa mengingatkanku pada wajah sendu gadis itu. Tak terasa sudah dua tahun aku di tanah rantau, kerinduanku pada gadis itu kian menumpuk. Aku tak pernah bisa lupa pada wajah yang berbalut kerudung berwarna marun ketika melepasku pergi ke tanah rantau. Aku tak pernah bisa lupakan air matanya yang menetes melintasi pipi, andai saja syariat membolehkan aku ingin sekali berwudhu menggunakan air matanya (red: pinjam kata-kata Azzam pada Aya di PPT 1).

Sesampainya di tanah rantau seminggu setelah mendapat pekerjaan, ingin rasanya memberi kabar baik padanya. Apa yang aku lakukan di tanah rantau ini tak lain dan tak bukan hanya untuk dirinya. Aku ingin menikahinya. Seperti selayaknya pemuda-pemuda lain.

Setiap minggu aku tak pernah alpa mengiriminya surat. Terkadang aku menyisipkan prangko agar ia bisa segera membalas suratku. Hingga suratnya yang terakhir kuterima. Dalam suratnya ia hendak dinikahkan dengan anak Tetua adat, ia memintaku melupakannya. Dan tentu saja aku tak bisa melupakannya. Semakin berusaha, semakin aku tersiksa.

Sebuah tawaran menarik dari rekan kerjaku aku dapatkan. Ia mengatakan bahwa dua hari lagi Kapal pesiar Belanda dari Batavia akan merapat ke dermaga dan kebetulan ia memiliki Paman yang bekerja di Kapal itu sebagai koki dan kerap menawarinya untuk bekerja dengannya di Kapal itu. Ia tak suka kerja di Kapal, laut selalu membuat perutnya terguncang-guncang hingga membuatnya mabuk. Ia menawariku untuk menggantikannya. Tentu tawarannya aku terima. Semakin aku jauh darinya, semakin mudah aku melupakannya, pikirku.

*

Umur senja masih beberapa menit sebelum akhirnya petang datang dan menggantikannya. Desir angin pantai sore itu begitu keras menyentuh tubuhku. Tetapi aku tak merasakan dingin, justru ada hangat yang memelukku erat. Aku menatap lekat garis horizon nun jauh di sana. Kini aku tahu apa yang telah membuatmu berhenti menulis surat untukku. Maafkan aku, maafkan orangtuaku. Tubuhku bisa di sentuh oleh apa dan siapapun, tetapi hatiku tetap kuhibahkan padamu.

*

Senja di bulan hujan senantiasa mengingatkanku pada wajah sendu gadis itu. Dan sekali lagi aku mengingat begitu detail wajah gadis berkerudung warna marun itu, sebelum akhirnya air memasuki dek dan menenggelamkan Kapal.

***

Semarang, 31 Januari 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s