Cinta Tak Harus Bersama

Dia lelaki yang tiba-tiba memenuhi relung hatiku dengan warna merah jambu. Lelaki asing yang kuizinkan menelusup ke setiap celah pikiranku. Bersamanya aku menemukan diriku yang lain. Aku menemukan persamaan sekaligus perbedaan dengannya. Bersamanya aku lengkap. Aku dan dirinya sama-sama mencintai kata-kata, aku dan dirinya sama-sama menyukai senja, aku dan dirinya sama-sama pernah dilukai cinta. Ia sempat berkata, “Lama-lama aku akan mengenali kau sebagai aku, dan aku sebagai kau. Kita.” Aku tahu saat ia berkata demikian sesungguhnya ia tengah menyatakan perasaannya padaku. Aku tahu, karena aku adalah dia dan dia adalah aku. Tetapi, ia juga berbeda denganku. Ia yang perfeksionis bisa melengkapiku yang agak ceroboh. Aku merasa lengkap, tetapi lengkap belum tentu sempurna. Ia tak pernah menyempurnakanku sebagai wanita. Aku tahu, ia bukan tak ingin menyempurnakanku. Ia hanya takut, terlalu takut untuk melukaiku lagi.

Juni 2013, aku tahu ia takkan datang ke resepsi penikahanku, meskipun undangan untuknya sudah kukirim jauh-jauh hari. Aku pun akan melakukan hal yang sama dengannya bila aku ada di posisinya. Aku teringat ia pernah mengatakan, “Ada dua cara menyempurnakanmu, keduanya sama-sama baik. Hanya saja aku rasa aku tidak pernah bisa melakukan kedua cara itu. Menghalalkanmu atau mengikhlaskanmu. Tetapi kalaupun harus memilih, aku akan memilih mengikhlaskanmu. Aku tahu, aku tak pernah mampu untuk membuatmu bahagia. Maka dengan tidak membuatmu bersedih, adalah cara yang paling layak yang dapat kuambil. Mengikhlaskanmu bahagia dengan seseorang yang mampu membuatmu bertukar tawa sepanjang usia. Menikahlah dengannya. Hatiku akan baik-baik saja, sebab di sana selalu ada kau.” Ia ucapkan itu saat aku mengatakan aku dilamar oleh seseorang yang kukenal sejak kuliah.

Ia benar, seseorang yang telah menjadi suamiku dan telah memberiku permata hidup adalah satu-satunya lelaki yang bisa menyempurnakanku. Meski hidup tak melulu mulus, bertukar tawa dengannya membuat hidup jauh lebih mudah. Ia, suamiku, perlahan kukenali sebagai napas lain bagi hidupku.

*

Ia tak pernah alpa hadir di setiap hari-hari istimewaku. Ia masih memandangi langit senja meski tanpaku. Ia masih menuliskanku. Ia masih membuatkanku puisi. Dan aku rasa ia masih mencintaiku, mencintai dengan caranya sendiri. Dan aku tak pernah ingin menyakitinya, sama sepertinya yang tak pernah ingin menyakitiku.

“Dan aku tak punya hati untuk menyakiti dirimu. Dan aku tak punya hati untuk mencintai dirimu yang selalu mencintai diriku, walau kau tahu diriku masih bersamanya.” (Andai Aku Bisa – Chrisye)

***

Di atas Bus BRT TransSemarang, 7 Desember 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s