Buku Harian Gadis: Lemari Asing

Jam antik yang tergantung di dinding dekat pintu masuk outlet menunjuk pukul 08:30. Tidak seperti biasa outlet barang-barang antik milik Wak Haji Darmian masih begitu sepi, padahal ini hari Minggu. Sebenarnya penurunan minat pembeli sudah mulai terasa sejak awal bulan, saat harga nilai tukar dollar mulai merangkak naik. Hanya ada beberapa pengunjung yang sekadar melihat-lihat atau berpotret ria untuk mereka unggah ke akun Instagram milik mereka. Wak Haji tidak keberatan untuk hal tersebut, karena pikirnya itu sebagai media promosi gratis. Sebab juga tak jarang ada pembeli yang datang ke outlet karena melihat barang-barang antik yang mereka cari diunggah seseorang di akun Instagramnya.

“Dis, Uwak pergi kondangan sebentar ya. Kalau kamu capek dan pembeli juga sepi sudah tutup saja tak apa. Lagi pula ini kan hari Minggu, memangnya tidak ada yang ngajak kamu jalan? Oh, ya, Uwak lupa, kamu kan jomlo ya. Hehehe…” Wak Haji tiba-tiba muncul di ambang pintu yang memisahkan antara outlet dan rumah pribadi Wak Haji Darmian.

“Uwaaakk… ah… Nggak apa-apa jomlo yang penting bahagia,” elak Gadis sambil menekuk bibir tipisnya. Memang sejak putus dengan Timur, Gadis belum terlihat menggandeng pria lain untuk dikenalkan pada Uwaknya. “Wak, itu lemari di pojok, kayaknya Gadis baru lihat deh. Bagus, Wak, ukirannya.”

“Oh, yang itu. Iya, kemarin ada orang dari Semarang jual lemari itu. Cuma lima ratus ribu dia jualnya ke Uwak. Padahal itu dari kayu jati tua lho, Dis. Kalau di galeri bisa dihargai sampai sepuluh jutaan,” Uwak Haji menjelaskan sambil mengelap lemari itu dengan kemoceng. Sejak kemarin datang lemari itu memang belum tersentuh tangan Uwak Haji.

“Kok bisa ya orang itu menjual lemari antik ini dengan harga yang begitu murah. Lagi butuh uang barangkali. Mau dijual berapa, Wak?”

“Uwak belum terpikir berapa harga yang pantas, nanti sajalah kalau sudah Uwak bersihkan dan pernis ulang baru Uwak pikirkan. Nanti misalnya ada yang Tanya, bilang saja belum dijual.”

“Siap!” sahut Gadis seraya memberi hormat seperti seorang tentara.

Sepeninggalan Uwak Haji, Gadis masih tercenung memandangi lemari yang di matanya terlihat begitu indah meski di beberapa bagian lemari itu terlihat kusam, tapi tak mengurangi keindahannya. Justru kekusamannya itu yang membuat lemari ini terlihat berbeda dari barang-barang yang ada di outlet Wak Haji. Gadis, perempuan berusia 23 tahun ini memang begitu menggemari barang-barang antik. Selain karena sejak ia lahir hidupnya selalu bersentuhan dengan barang-barang antik, ia juga menganggap setiap barang antik memiliki kisahnya masing-masing. Jikalau barang-barang antik ini diperkenankan berbicara, barangkali betapa ramainya outlet Wak Haji dengan kisah-kisah yang mereka ceritakan. Gadis tersenyum membayangkan hal itu, tetapi matanya tak lepas memandangi lemari tua di pojok outlet. Ada kekuatan aneh yang menggerakan tubuhnya. Kekuatan yang timbul dari rasa ingin tahunya. Gadis mendekat ke lemari tersebut. Dengan hati-hati ia menyentuh permukaan lemari itu. Saat jemarinya menyentuh lemari itu, ia melihat seperti ada lubang yang membawa ke sebuah ruang gelap. Gadis terhisap ke dalamnya.

“Tolong aku…”

Sebaris kata yang lebih pantas disebut bisikan membawa Gadis kembali ke realitas. Ia terkejut mendapati dirinya berdiri mematung di depan lemari itu. Dan bisikan tadi sekejap saja membuat bulukuduknya merinding. Bergegas ia menutup outletnya.

                                                                 *

BERSAMBUNG…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s