Lain Dunia

“Sama seperti halnya rahasia dunia rahim yang hanya bisa kamu ketahui ketika kamu sudah tak lagi berada di dalam rahim, begitupun dengan rahasia kehidupan yang hanya dapat kamu ketahui ketika dirimu berada di luar sistem kehidupan,” jelas dosenku, Kirana Prameswari

Kuliah filsafatku sebenarnya sudah kelar setengah jam lalu. Entah darimana  timbulnya keberanian dalam diriku ketika mengajaknya berdiskusi perihal kematian. Kirana Prameswari untuk ukuran seorang dosen filsafat dia terlihat jauh lebih muda dari beberapa dosen yang kukenal. Perempuan macam apa yang rela menghabiskan masa mudanya dengan segala kerumitan-kerumitan filsafat, aku tak pernah bisa mendefinisikannya, sungguh. Hmm… sesuatu yang terlampau indah memang sulit untuk didefinisikan, bukan?

Kembali pada bahasanku dengan Kirana, mengenai dimensi lain dari kehidupan. “Kalau begitu, seseorang harus merasakan kematian terlebih dahulu untuk mengetahui semua rahasia tentang kehidupan, Mbak?” tanyaku. Kirana memang lebih suka dipanggil Mbak ketika tengah berdiskusi. Bukan denganku saja, tetapi dengan mahasiswa lainnya. Kecuali kalau ia tengah mengampu, sebaiknya panggilan ‘Mbak’ diganti dengan ‘Bu’.

“Ya, bisa dibilang seperti itu. Tapi bukan berarti saya menganjurkan kamu untuk mati. Saya juga masih ragu apakah setelah mati orang masih ingin mengetahui rahasia kehidupan, karena mereka memang tak punya kepentingan apa-apa lagi perihal kehidupan.”

“Hmm… Kalau rahasia kehidupan tak lagi penting, kira-kira apa yang dirasakan orang-orang yang telah mengalami kematian mengenai kehidupan?” tiba-tiba aku tercekat dengan pertanyaanku sendiri. Tanpa sadar aku telah menyinggungnya. Seperti isu-isu yang mengemuka di kampus bahwa Kirana pernah mengalami mati suri, dan karena alasan itulah sebenarnya aku memberanikan diri berdiskusi dengannya.

Kirana menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Ia lalu membereskan beberapa berkas di mejanya, dan kemudian menyandarkan punggungnya di kursi. “Seperti seorang yang telah dewasa, ia tahu bahwa ia pernah ada di dalam rahim ibunya, tetapi ia tidak pernah benar-benar ingat bagaimana rasanya di dalam rahim yang sempit itu selama 9 bulan 10 hari. Kamu ingat rasanya di dalam rahim ibumu? Sesakkah?”

Aku menggeleng, “Tidak ingat, Mbak.”

“Nah, yang kita bisa pelajari bukan bagaimana rasanya. Tetapi bagaimana kita bisa hidup di dalam rahim itu selama 9 bulan 10 hari. Kita tak perlu mengingat, tapi kita tahu kalau plasentalah yang mengirimkan makanan dan membuat kita tidak kelaparan selama waktu di dalam kandungan. Begitupun dengan dunia kematian, kita tahu kita pernah hidup, tapi kita benar-benar tidak tahu bagaimana rasanya kehidupan. Ada selubung tipis yang membuat kita lupa di saat kita berada di dunia transisi antara dunia kehidupan dan dunia kematian.

“Makanya saya bilang saya ragu jika orang-orang yang berada di dunia kematian ingin mengetahui rahasia kehidupan, karena bagi mereka perjalanan setelah di dunia kematian jauh lebih penting dari rahasia kehidupan itu sendiri. Berbeda dengan kita yang ingin mengetahui rahasia dunia rahim, karena kita masih punya kepentingan dengan dunia rahim. Itu sebabnya ada dokter kandungan, tetapi kamu tidak akan pernah menemukan dokter kematian, bukan?” senyum Kirana sesaat setelah mengakhir kalimatnya menyelamatkan aku dari kepenatan memahami penjelasannya.

“Mbak, saya ingin tahu bentuk dunia kematian itu bagaimana. Yang saya tahu selama ini hanya dari versi agama, saat menyebrang dari dunia materi ke dunia spiritual, atau dalam agama saya dikatakan sebagai sakaratul maut itu sungguh sangat menyakitkan. Benarkah? Mbak Kirana kan pernah merasakan…” sebelum selesai menamatkan kalimatku Kirana segera memotongnya.

“…mati suri? Saya pun lupa, seperti yang saya katakan tadi, ada selubung tipis di dunia transisi, kalau di agamamu disebut sebagai sakaratul maut, selubung tipis yang membuat semua informasi menjadi terpolarisasi. Ketika saya “dihidupkan” kembali, saya pun harus melewati selubung itu. Dengan kata lain selubung itu telah membuat rahasia dunia kematian tetap aman. Namun ada beberapa hal yang sengaja olehNya dibiarkan diketahui oleh saya. Yang membuat saya akhirnya menyadari sebuah kesalahan yang pernah saya buat. Itu saja. Ah, saya kira kamu mau mendiskusikan judul skripsimu tadi. Ternyata… sudah ya”

Kirana melangkah keluar kelas, namun saat di depan pintu ia menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya. “Lain kali kita berdiskusi lagi. Saya tahu kamu masih penasaran. Simpan rasa penasaranmu,” ujarnya.

“Siap, Mbak!” sahutku

*

Kematian dan dunia kematian telah menarik minatku beberapa waktu belakangan ini. Tepatnya setelah mimpi itu mendatangiku berkali-kali. Sebelumnya aku tak pernah mempercayai apa pun yang mimpi hadirkan dalam tidurku. Namun mimpi belakangan ini seperti membawa pesan, ya pesan kematian. Entah untuk siapa, atau untuk apa.

Dalam mimpiku itu ada seseorang yang tengah berdiri di tepi jurang. Seseorang yang wajahnya terlihat samar. Ia berdiri di tepi jurang sambil menekuri lembah yang dalamnya tak mampu lagi dapat kuukur, yang terlihat hanya kelam dan kelam. Dari dasar lembah itu terdengar suara-suara erangan, teriakan, dan tangis, yang membuat seseorang di tepi jurang itu ragu untuk melonjat ke dasarnya. Ia justru malah menatap langit. Aku pun mengikutnya menatap langit. Tak seperti langit biasanya. Langit yang kutatap bersama seseorang di tepi jurang itu warnanya merah jambu dan matahari yang menghiasinya berwarna hijau. Dari atas langit itu pun terdengar suara-suara, namun tak seperti suara di dasar lembah yang memilukan. Suara dari atas langit itu terdengar merdu. Aku mengira itu suara dari sebuah harpa yang dimainkan begitu piawai entah oleh siapa. Tak beberapa lama kemudian sebuah tangga berwarna putih muncul di hadapan seseorang yang tengah berdiri di tepi jurang. Tangga itu tak terlihat ujungnya, menuju langit. Dan lagi, seseorang itu ragu melangkah. Aku hendak menggapai seseorang itu, tetapi ada kekuatan yang menarikku dari belakang punggungku. Kekuatan yang membawaku memasuki semacam lubang hitam. Di dalam lubang hitam itu aku melihat jutaan peristiwa hilir-mudik memasuki pikiranku. Aku mengenali peristiwa-peristiwa itu sebagai kenangan silamku. Hingga sebuah peristiwa menghentikan tarikan dari lubang hitam itu.

Sebuah ruang tamu dengan dinding bercat hijau, aku mengenali ruang tamu itu sebagai rumahku. Dan banyak tamu yang hilir-mudik memenuhi ruangan itu. Namun anehnya para tamu itu tak menghiraukan kehadiranku. Semakin aneh saat para tamu yang hilir-mudik itu dapat menembus tubuhku. Di sudut dalam ruang tamu itu aku mendengar suara isak yang tengah berhadapan dengan sebujur tubuh kaku yang telah tertutup kain. Aku sudah mati, pikirku. Bukan, bukan aku. Aku mengenal betul peristiwa ini. Aku berlalu dari ruang tamu menuju kamarku. Dan benar saja perkiraanku. Tubuhku masih di sana, meringkuk dan terisak. Ini sebuah kenangan yang sedang me-reka ulang dirinya. Entah mengapa aku dibawa kembali ke peristiwa yang sebetulnya ingin aku lupakan. Kembali lubang hitam itu menarikku dari belakang punggungku dan memepat. Rasa sakit yang teramat sangat membawaku kembali ke kamarku. Masihkah aku bermimpi? Adalah pertanyaan yang hadir pertama, sebelum Rere menggedor kamarku, dan aku tersadar aku berada di kamar kosku.

“Res… bangun! Katanya mau CFD-an” pekik Rere dari depan kamarku.

Mimpi dengan plot yang sama itu bukan hanya terjadi sekali, hanya saja baru malam ini terasa lebih lama dan menyakitkan. Dengan sedikit keberanian, aku mencari tahu. Dari googling dan mencari referensi di perpustakaan, hasilnya tak menuntaskan rasa keingintahuanku. Hingga di suatu siang yang terik, di sebuah kantin kampus yang agak kumuh, aku mencuri dengar pembicaraan dari sekelompok Mahasiswi. Dalam pembahasannya mereka menyinggung tentang peristiwa yang baru-baru saja terjadi di kampus. Kirana Prameswari, dosen paling cantik di kampus ditemukan pingsan di meja kerjanya. Beberapa jam kemudian dari klinik yang berada tak jauh dari kampusku, kabar kematian Kirana menyeruak. Saat itu semua civitas kampus berduka, terlebih para Mahasiswa yang sering menggodanya. Namun kabar kematiannya tak lebih mengejutkan dari kabar ia hidup kembali beberapa hari kemudian.

Setelah mencuri dengar pembicaraan mereka, terbersit dalam benak, untuk mengetahui dunia kematian, pikirku tak ada informasi paling valid selain dari seseorang yang pernah mengalami kematian itu sendiri. Aku putuskan akan bertanya pada Kirana Prameswari mengenai hal itu selepasnya mengampu.

*

Waktu seakan berjalan lambat, terlebih ketika malam mulai membentangkan sayap kelamnya. Sejak mimpi-mimpi itu memburuku, kegelapan malam telah memberiku pemandangan baru. Dulu, dulu sekali, bagiku kegelapan adalah kawan yang selalu dapat diandalkan untuk menyembunyikan rasa kesepian dan kesedihan. Namun kini berbeda, aku takut kegelapan malam meninabobokan aku, dan membuatku bermimpi. Mimpi yang begitu membuat sekujur tubuhku nyeri.

Kembali selepas kirana mengampu aku berdiskusi dengannya. Kali ini bukan hanya perihal kematian yang kami perbincangkan. Mengambil tempat di sudut kantin sambil menikmati sepiring batagor yang ditraktir oleh Kirana, aku mulai menceritakan mimpi-mimpiku yang membuatku tertarik pada dunia kematian.

“Jadi mimpi itu memdatangimu setiap kamu tertidur?” tanya Kirana sambil mengunyah batagor di mulutnya. Saat melihatnya demikian, membuatku ragu, benarkah ia seorang dosen filsafat.

“Ya, plotnya semua sama. Namun setiap masuk ke dalam lubang hitam itu, saya dibawa ke mimpi yang berbeda-beda. Mimpi itu seperti ingin mengingatkan saya pada semua kenangan yang berusaha saya lupakan,” sahutku.

Kirana menarik-embus napasnya. Matanya mengawang, semacam ada yang berkelindan dalam pikirannya dan hanya mampu ia benamkan dalam benak. “Meramal atau membaca mimpi bukan keahlian saya. Tetapi saya pernah membaca sebuah artikel, menjelang kematian biasanya seseorang akan dimimpikan oleh hal-hal yang akan membuatnya mengingat masa lalu. Saya membaca artikel itu setelah saya mengalami mati suri. Ya, tapi kamu jangan percaya hal itu, sebab sebelum saya mengalami kematian yang singkat itu, saya tak pernah memimpikan apa pun,” ujarnya seraya bangkit dari tempat duduknya. “Saya ada kelas lagi. Anggap saja mimpi-mimpimu itu sebagai teguran dari Ibumu supaya kamu cepat meyelesaikan skripsimu dan lulus,” sambungnya sambil menepuk pundakku dan berjalan menjauh dari tempatku yang masih terpekur.

*

Mimpi dengan plot yang sama itu kembali mendatangiku. Dan kembali lubang hitam di belakang punggungku menarik tubuhku, hingga membuatku terjatuh di sebuah ruang hitam. Ruang itu meski yang terlihat serba hitam dan tak ada cahaya sedikitpun, aku dapat mengetahui ruang itu begitu luas. Aku bisa bergerak ke manapun, bahkan berlari. Di dalam ruang hitam itu suara menggema. Apa yang aku teriakan, kembali ke diriku, tetapi tidak melalui telinga namun langsung menuju merasuk ke dalam benak. Di dalam ruang hitam itu waktu terasa begitu lama. Tak ada yang bisa aku lakukan di ruang hitam itu selain dari menunggu dan menunggu. Entah siapa yang aku tunggu.

Di tengah kebosanan menunggu, tiba-tiba ada suara yang menggema dalam benak. Dari ujung ruang hitam yang entah di mana, aku dapat melihat titik cahaya yang perlahan mendekati diriku. Dan titik cahaya itu semakin membesar saat mendekatiku. Lalu diriku seperti dilahap olehnya. Cahaya yang menyilaukan itu membuatku memejamkan mata, setelah kilaunya berangsur-angsur memudar. Perlahan aku membuka mataku. Pemandangan yang menghampar di hadapanku sejenak membuatku takjub. “Inikah Surga?” ujarku dalam benak. Tempat itu menjawab melalui pikiranku, ia berkata tempatku berpijak sekarang ini bukanlah Surga, tempat ini adalah ruang transisi dari dunia materi menuju dunia spiritual. Tiba-tiba aku teringat dengan selubung tipis yang pernah dijelaskan Kirana. Kalau dalam dunia rahim selubung itu dinamakan ketuban.

Tempat ini kembali lagi berkata padaku melalui pikiran. Di tempat ini waktuku tak banyak. Sebelum menuju dunia spiritual, diriku harus terbebas dari beban dunia materi, dengan begitu akan mudah melewatinya. Lubang hitam yang seringkali kulihat dalam mimpiku menampakkan diri, tetapi kali ini ia tak menghisapku, namun justru mendedahkan semua kenangan-kenangan yang tersimpan rapat dalam pikiranku. Kenangan itu serupa sekumpulan kaset DVD, dan aku seperti seseorang yang tengah marathon menonton film saat weekend, hal itu mengingatkanku pada Mamet teman kosku yang tiap minggu meminjam DVD Playerku. Agak aneh memang melihat seluruh kenangan tentang diri sendiri

Prosesi pemutaran film mengenai kenangan diri sendiri selesai. Aku berpikir sudah saatnya aku menuju dunia spiritual, menjemput kematianku, memeluk kepulangan abadi. “Akhirnya, aku pulang, Bu.”

*

Hening dan dingin adalah sensasi pertama yang aku rasakan. Langkahku gontai, dinding yang kupakai sebagai tumpuan tak lagi bisa kupegang. Satu pertanyaan menyeruak, bukankah aku sudah “pulang”? Lambat-laun aku bisa mendengar suara orang berkerumun. Suara-suara itu kemudian berubah menjadi suara yang sungguh mengganggu, semacam ribuan lalat mengerubungimu. Dan berdetik setelahnya suara itu terdengar makin jernih. Suara-suara itu tak lain adalah suara orang-orang yang tengah membaca surat Yassin. Di hadapan mereka ada sebujur tubuh yang telah kaku. Aku mengenal ruangan ini, ucapku sambil memandangi dinding berwarna hijau. Ya, itu ruang tamu rumahku. Lalu siapa yang mati? Kembali, ada suara yang menggema dalam benakku. Suara itu suara ibu. Sekejap aku merasa tanganku ada yang menggenggam. Dari genggaman tangan itu kemudian berangsur-angsur tubuh ibu terlihat jelas. Kini ibu di sampingku, menggenggam tanganku. Ia berkata, tapi tak bersuara, aku hanya bisa merasakan getarannya. “Itu kamu. Sekarang ibu menjemputmu, agar kau tak tersesat.” Dari belakang punggungku, aku merasakan hangat, lubang yang tak lagi berwarna hitam itu menarikku dan ibuku. Dan semua terasa begitu mudah. Begitu ringan. Inikah kematian? Ternyata benar, di dalam dunia kematian aku tak lagi peduli lagi dengan rahasia dunia kehidupan.

***

Semarang, 1-3 Desember 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s