Pergilah Kasih

Adakah yang lebih menyeramkan dari menyadari bahwa ada hal misterius yang tengah bersembunyi di dalam dirimu? Kurasa hal itu sulit dipahami oleh orang lain, bahkan oleh orang yang menganggap dirinya paling mencintai dan memahamimu. Terlahir sebagai anak Indigo yang mampu melihat kejadian beberapa jam ke depan tak selamanya menyenangkan. Apa lagi hal itu berkaitan erat dengan seseorang yang kau sayangi. Aku menyadari bahwa aku salah satu dari beberapa juta orang di dunia yang memiliki keistimewaan itu, ya sebagian orang menyebut hal itu sebagai sebuah  keistimewaan. Dulu, saat pertama kali aku menyadari hal itu, aku menganggapnya sebagai kutukan. Teman-teman sekolahku menjauhiku saat mereka mengetahui aku dapat melihat kejadian beberapa jam ke depan, hal itu terjadi ketika aku menolak ikut bertamasya ke Puncak dan mengatakan akan terjadi kecelakaan dengan bus yang kutumpangi. Mereka dan guru-guruku tak percaya, namun kejadian itu benar-benar terjadi. Hanya beberapa orang yang selamat dari kecelakaan itu. Setelah kejadian itu ibu memindahkan sekolahku karena didesak oleh beberapa guru dan walimurid yang takut aku akan membawa ramalan-ramalan terkutuk lagi.

Bayangan-bayangan kejadian yang mengerikan kerap berkelindan di kepalaku. Tetapi aku bertekat tidak akan mengungkapkannya lagi, ibuku pun mewanti-wanti agar lebih baik hal itu dipendam saja dalam diri seperti menelan pil pahit.

Beranjak remaja dan dewasa, bayangan kejadian mengerikan perlahan memudar. Entah mengapa, barangkali sudah terlampau banyak hal rumit yang memenuhi pikiranku, hingga bayangan-bayangan itu terdistraksi. Atau entahlah. Hingga bayangan-bayangan itu kembali muncul dan menguat sesaat setelah aku mengenal Arini.

Gadis manis keturunan arab itu datang ke meja kerjaku dengan membawa hasil laporan investigasi mengenai tambang ilegal yang dibekingi oleh salah seorang anggota dewan. Untuk ukuran wartawan junior yang baru pertama kali ditugasi meliput ke luar kota, laporan Arini terbilang sistematis, hanya butuh sedikit revisi tetapi tak mengubah substasi apa yang telah ia kerjakan. Jujur saja ada keraguan saat menugasinya ke luar kota. Namun berhubung tak ada wartawan lain yang stand by, terpaksa aku menugasinya. Dan dari sanalah kedekatanku dengan Arini bermula.

Singkat kata aku dan Arini berpacaran. Dan beruntung di kantor berita ini tak ada peraturan yang tak membolehkan seseorang memiliki kekasih dalam satu divisi pemberitaan yang sama. Hanya saja demi profesionalisme aku meminta dipindahkan ke divisi pemberitaan Ekonomi, sementara Arini tetap di divisi pemberitaan Sosial & Politik, aku rasa karier dia akan cerah di sana.

Jelang anniversary ketiga tahun hari aku dan Arini memutuskan berpacaran, sebuah pesan singkat dari Arini kuterima. Ia mengatakan petang nanti akan menuju Makassar, ia ditugaskan menggantikan rekannya meliput pemilihan kepala daerah di sana.Sebenarnya sudah jauh-jauh hari aku mengatakan padanya untuk mengosongkan jadwal liputan. Kerena aku paham betapa sibuknya wartawan di divisi pemberitaan Sosial & Politik, apalagi menjelang pilkada serentak. Setengah agak kecewa aku mengantarnya ke Bandara petang itu. Dalam perjalanan menuju Bandara, bayangan itu kembali menghampiri pikiranku. Aku mencoba menyangkal bayangan yang terus menerus berkelindan di kepala dengan sesekali memandang tawa dan senyum Arini yang duduk di sampingku. Arini membaca wajah cemasku, “Takut kangen ya?” selorohnya kala itu.

Sebenarnya Arini tahu apa yang aku pikirkan tanpa perlu kuberitahu. Arini juga tahu aku memiliki keistimewaan itu. Sekali waktu ia pernah mengatakan padaku, kalau aku melihat bayangan-bayangan mengerikan mengenai dirinya, ia tak ingin diberitahu. Ia sama seperti ibuku. Dulu ibuku pun mengatakan hal yang demikian. Sesuatu yang hingga kini aku sesali, padahal andai saja aku mengatakannya, ibu akan terhindar dari penembakan itu. “Hidup, maut, dan rezeki itu takdir Tuhan. Sekeras apapun kamu coba mengubahnya, tak akan bisa. Yang kamu bisa lakukan hanyalah mengisi hidupmu dengan hal-hal baik, berserah, berserah, dan berserah. Itu saja,” ucap Arini saat aku menceritakan hal itu padanya. Lalu apa guna keistimewaan yang Dia berikan padaku ini, jika aku tak bisa menyelamatkan orang-orang yang aku sayangi dari kejadian yang mengerikan? Dan aku ingat kata-kata Arini sebelum ia masuk ke dalam Boarding Room, “Keistimewaan yang kamu punya bukan untuk mengingatkan orang lain, juga bukan untuk menyelamatkan orang lain. Tetapi untuk dirimu sendiri. Lihatlah betapa indahnya hidup. Kau tahu kenapa aku mengatakan indahnya hidup, karena hidup itu begitu singkat. Aku tak bisa membayangkan jika hidupku seperti Edward Cullen yang abadi. Membosankan sekali tentunya. Terkadang dari hal-hal  yang mengerikan kamu akan menemukan sisi keindahannya. Ya, begitupun hidup. Dan rasa-rasa sudah saatnya aku memelukmu. Hei, kau belum memberikan hadiah anniversary untukku kan? Simpan baik-baik, hari senin nanti sepulangnya aku dari Makassar akan kutagih.”

Aku ingin mengatakan padanya, barangkali apa yang dikatakannya saat itu benar. Hidup itu indah karena hidup itu singkat. Tiga tahun pun  waktu yang terlampau singkat, sesungguhnya aku masih ingin bersamanya lebih lama lagi.

“Arini, aku masih menyimpan hadiah anniversary untukmu. Sebuah cincin yang terasa akan begitu manis melingkar di jari manismu. Maukah kau menikah denganku? Aku rasa kau tak bisa menjawabnya. Aku rasa kau hanya akan menganggukkan kepala. Hmm… Kau terlalu singkat mengisi hidupku dengan tawa, Arini. Tetapi karena itu kau terasa begitu indah dalam benakku. Selamat beristirahat, Arini. Aku selalu mencintaimu.”

***

Semarang, 20 November 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s