Ciuman Panjang Umur

Ini cerita tentang kawanku, Ranu. Ia pernah bercerita padaku, di waktu yang terlalu tua disebut petang dan masih terlalu muda dipanggil malam, ia didatangi seseorang berjubah warna hitam dengan paras yang terlihat sudah terlampau sepuh. Seseorang itu mengatakan ia adalah kerabat jauh paman dari paman ibunya Ranu. Sembari mengingat-ingat, Ranu mempersilakan “Paman”-nya itu masuk ke rumahnya. Tapi ia menolak, ia mengatakan sudah tak memiliki banyak waktu. Merekapun berbincang di beranda.

“Aku sudah tua. Sementara aku tak punya anak untukku turunkan ilmuku. Dari sekian banyak keponakanku yang kuterawang, kau memiliki kemampuan menerima ilmuku ini. Ilmu ini warisan dari buyut kita. Maukah kau membantuku?” ujar Lelaki sepuh itu.

Ranu terperangah. Otaknya masih mencerna apa yang baru saja dikatakan Lelaki sepuh itu.

“Ilmu ini akan membuat kau panjang umur,” Lelaki sepuh itu memecah keheningan di dalam pikiran Ranu.

“Baiklah, aku akan membantumu. Tetapi beritahu aku dulu, kau ini Pamanku yang mana? Ingatanku tak menemukanmu.”

“Tak ada waktu lagi untuk menceritakan hal itu, Ranu. Kau bisa mengetahuinya sendiri, besok.”

Lalu Lelaki sepuh itu membisikan sesuatu di telinga Ranu. Ranu mengatakan itu mantra yang begitu panjang, tetapi anehnya ia bisa memghafalnya. Sementara untuk rumus-rumus fisika yang begitu pendek ia kesulitan.

*

Pagi harinya pintu kamar Ranu diketuk bertubi-tubi tanpa memberi jeda sejenakpun.

“Ranu… Bangun, Ran! Anterin Mamah Takziah ke rumah uwak Husin.”

“Iya Mah, iya! Sebentar.”

Sejenak Ranu terdiam memikirkan kejadian tadi malam. Serasa mimpi, tapi amat nyata. Dan telinganya pun masih mengingat apa yang dibisikan Lelaki sepuh itu. Belum habis lamunan Ranu, Mamahnya kembali mengetuk pintu kamarnya bertubi-tubi tanpa memberi jeda sejenakpun.

“Iya Mah, iya!”

*

Uwak Husin, Ranu baru mengenalnya saat itu. Wajar, selama ini Uwak Husin tinggal di salah satu bangsal di rumah sakit jiwa. Dan alangkah terkejutnya Ranu, ketika melihat wajah Uwak Husin. Lelaki sepuh yang semalam mendatanginya tak lain adalah Uwak Husin. Tetapi bagaimana bisa Uwak Husin menemuinya. Kata tetangganya, Uwak Husin sudah terbaring sakit seminggu. Lagi pula rumah Uwak Husin dengan rumah Ranu jaraknya begitu jauh. Keringat dingin tiba-tiba mengucur di seluruh tubuh Ranu.

Begitulah cerita awal mula kawanku Ranu mendapatkan ilmu panjang umur. Kau tahu ada syarat lain selain membaca Mantra, kau harus mencium 7 gadis dalam setahun. Kata Ranu padaku di suatu sore. Setelah itu aku jadi tahu mengapa Ranu bisa seagresif itu. Masih di sore itu, dengan wajah murung, ia mengatakan kalau dalam setahun targetnya tak terpenuhi, hidupnya akan berakhir seperti Uwak Husin.

“Andai aku tak membaca mantra itu. Ah, andai…” sesalnya.

*
Aku bercerita tentang kawanku ini karena semalam tiba-tiba ia datang ke rumahku. Padahal setahuku sudah nyaris dua pekan ia dirawat di rumah sakit jiwa.

“…Ndra, maukah kau membantuku?” ujarnya semalam.

2 thoughts on “Ciuman Panjang Umur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s