Senja Melankolia

Kepada Nona Cahaya Jingga

Denting waktu melambat manakala kau melintas di garis khayalku, seperti srengenge sore yang rebah dalam peluk cakrawala. Hangat mengusap keningku. Dan kini aku tersadar, tak ada lagi yang kumiliki, sisa pelukmu hanya meninggalkan wangi parfum di kemeja yang lambat laun menjadi residu bagi indera penciumanku. Wangi yang meresap dalam ingatan. Berkumpul dan berkoloni. Bermufakat menjebakku dalam kenanganmu yang tak berkesudahan. 

Dan lantas kan kuciptakan batas-batas bagi diriku sendiri. Dinding tebal, mengurung segenap keinginan bertemu, menutup seluruh kesempatan untuk kembali terlukai. Kita telah di ujung jalan. Kisah kita pun telah dimakamkan. Pergimu adalah mati untukku.

Senja, barangkali memang akan selalu seperti itu. Sesaat datangnya, untuk mengantar pekat malam, lalu kemudian pergi kembali dengan meninggalkan sederet pertanyaan, juga ingatan; sesuatu yang kelak menjelma jelaga di bawah ceruk mataku.

Aah… Denting waktu melambat, kau melintas di garis khayalku. Tubuhku menggigil kelu, beku, inikah yang dinamakan rindu, Nona?

Tertanda,

P.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s