Salju di Langit Jakarta: Sebuah Kado Natal Terindah

Rasti masih termenung di balik jendela kamarnya. Matanya menangkap bulir-bulir hujan yang tak henti-hentinya dijatuhkan langit petang itu. Usianya belum genap 7 tahun. Ia gadis kecilku.

Aku patut bangga padanya. Saat usianya 5 tahun, ia sudah pandai membaca, menulis, berhitung perkalian. Hal ini pun tak lepas dari campur tangan Tatiana, istriku. Meski seorang wanita karier, ia selalu berusaha menempatkan dirinya menjadi ibu yang baik bagi Rasti. Tak peduli seletih apapun di kesehariannya, Tatiana selalu berusaha menemani Rasti belajar. Singkatnya, keluarga ini keluarga kecil yang bahagia. Andai saja peristiwa itu tak terjadi.

“Kak Rasti kok belum tidur?” tiba-tiba istriku masuk ke kamar Rasti karena melihat lampu di kamar Rasti masih menyala. “Besok pagi-pagi sekali kita harus ke Gereja, sayang. Ayo cepat tidur. Kak Rasti mau Mama temani?” sambungnya.

Rasti menggeleng dan tersenyum menatap istriku.

Istriku mendekat dan berdiri di samping Rasti. Dan mendapati selembar kertas di hadapan Rasti masih kosong. “Surat untuk Om Santa  belum selesai, Sayang?”

Rasti mengangguk.

“Bingung?”
“Iya, Ma, Rasti bingung ingin menulis apa.”
“Kalau bingung, tulis saja seperti natal tahun lalu. Nggak apa-apa, Sayang.”
“Boleh, Ma?”
“Boleh. Kamu kan anak baik, Om Santa pasti akan mengabulkan keinginanmu.”
“Iya, Ma. Mama tidur dulu saja.”

Istriku mengecup kening gadis kecilku. Dan beranjak ke kamarnya. Sementara Rasti mulai menuliskan sesuatu di dalam surat keinginannya.

Setelah selesai, Rasti menuju pintu kamarnya, di sana sebuah kaus kaki tergantung. Gulungan surat itu ia taruh di dalamnya. Sebelum beranjak tidur, sesaat ia berdoa.

*

Tak lama kemudian istriku keluar kamarnya kembali. Menilik Rasti yang sudah terlelap dalam mimpi dan pengharapannya dan merapikan selimut di tubuh Rasti. Setelahnya ia mengambil surat keinginan yang tadi Rasti taruh di dalam kaus kaki untuk ditukar dengan kado natal terindah yang sudah ia siapkan. Namun beberapa menit setelah membaca gulungan surat itu, wajah istriku terlihat murung. Langkahnya gontai menjauh dari kamar Rasti dan membawanya ke sofa di ruang keluarga.

“Aku tahu saat-saat seperti ini akan terjadi, Mas. Tapi tak secepat ini. Aku belum siap. Aku harus jawab apa, Mas?” ujarnya sambil memandangi pohon terang di hadapannya. Aku berusaha menyentuh dan membelai rambut istri kesayanganku.

‘Kepada Om Santaclaus

Om, natal tahun lalu kamu memberiku boneka Teddy Bear yang besar sekali. Aku suka. Terima kasih ya, Om Santa. Natal kali ini aku nggak ingin kado apa-apa. Aku nggak ingin boneka Marsha, permen gulali, atau penjepit rambut warna-warni. Aku ingin ayah, Om. Tiap sehabis libur natal teman-temanku sering bercerita tentang liburan mereka bersama ayahnya. Aku ingin seperti mereka, Om. Om Santa bisakan membawa ayah pulang? Kata Mama tadi, kalau anak baik, keinginannya pasti terkabul. Aku anak baik kan, Om?’

Pantas saja wajah istriku murung sehabis membaca surat keinginan gadis kecilku. Andai saja 7 tahun lalu aku bisa menunda keberangkatanku ke Manado dan lebih memilih menemani istriku yang akan melahirkan, tak lagi perlu ada kesedihan di malam natal. Dan aku bisa memberinya sebuah kado natal terindah.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s