Lelaki di Balik Jendela

Entah pagi yang selalu datang terlambat di matamu, atau memang karena matamu lebih gemar menyimpan malam lebih lama. Entahlah. Seperti pagi ini, ketika setiap orang bergerak gegas, memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lainnya dan berjibaku dengan monster-monster jalan raya, kau masih menyibukkan isi kepalamu sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama seperti pagi lalu. Bibir jendela dengan teralis berwarna karat jadi kawan setia. Sepiring cemilan yang berganti-ganti tiap hari, kadang singkong rebus, kadang pisang goreng, juga kopi pahit tak alpa menemanimu. Selalu seperti itu setiap pagi, sampai sinar matahari berhasil menyentuh pucuk kepalamu, kau baru akan memulai harimu.

Tak ada yang istimewa darimu. Bahkan di sekitar lingkungan rumahmu kau tak lagi dianggap ada. Namun kau tak mempermasalahkan hal itu, kau masih sering menyapa orang-orang yang melintas di depan jendelamu meski orang-orang itu tak membalas sapamu, bahkan bergidik ngeri.

Aku kerap mendapati kau tertawa sendiri. Lalu matamu meneropong langit. Kau seperti sedang membangun duniamu sendiri dengan tawa. Aku selalu tersenyum ketika melihat kau tertawa. Bukan, bukan senyum mengejek seperti orang-orang yang melintas di depan jendelamu. Aku hanya ingin tahu, dunia apa yang sedang kau bangun. Sebab jarang aku melihat wajahmu memurung setelah ‘hari itu’. Kau seperti memberi jarak antara dunia yang tengah kau ciptakan dan kesedihan.

Usiamu nyaris menyentuh angka 30. Dulu, dulu sekali, saat pagi masih datang tepat waktu di dalam matamu. Kau bercerita padaku, cerita yang tak seorang pun kau bagi kisahnya. Kau pernah mencintai seorang wanita. Wanita yang kau katakan di bibirnya berdiang separuh keindahan surga dan dari matanya tumbuh keteduhan yang mampu mengapung-hanyutkan seluruh kesahmu. Kau mencintainya meski temu hanya berbatas angan. Kau mencintainya walau dalam diam. Setiap kau berkisah tentangnya, matahari harapan menyembul dari balik kepalamu. Namun akhirnya, hari setelah hari itu, aku hanya selalu menemukan malam dalam dirimu. Tak ada lagi kisah-kisah wanita kesayanganmu itu.

Tak ada yang tahu ke mana perginya dirimu. Sampai saat orang-orang melupakanmu. Dan tak lagi menganggapmu ada. “Apakah benar cinta dapat ‘melenyapkan’?” satu pertanyaan yang selalu ingin kutanyakan padamu suatu saat nanti ketika kau kembali. Dan aku percaya, jika cinta yang membuatmu pergi, makan cinta pula-lah yang akan membawamu kembali.

Terserah, pagi mau datang terlambat atau matamu yang memang gemar menyimpan malam. Aku selalu ada 3 meter darimu.

*Untuk seseorang terkadang aku iri denganmu, kau masih dapat bermimpi selagi kau terjaga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s