Aku Lelakimu

Pukul 9 malam Rusdi masih terduduk di bangku depan bangsal persalinan. Wajahnya senantiasa tertutup oleh sepasang telapak tangannya. Tertunduk.

Semestinya ia berbahagia, malam itu bidan yang merujuk istrinya ke rumah sakit terbesar di kotanya mengatakan Halimah akan melahirkan. Tak bisa secara normal, sebab posisi jabang bayi menyamping, lebih sulit dari sungsang. Terpaksa dilakukan operasi ceasar.

Semestinya Rusdi berbahagia, ketika bayi yang dilahirkan memecah kesunyian malam dengan tangisannya yang lantang. Tetapi Rusdi justru tertunduk lemas dengan sepasang telapak tanfan masih menutupi wajahnya. Rusdi belum ingin masuk ke dalam bangsal menemui istrinya, keinginan memeluk bayinya pun belum tumbuh dalam benaknya. Tidak, Rusdi tidak membenci bayinya. Ia diberitahu oleh suster putrinya itu putih, berhidung bangir, bibirnya tipis sewarna delima mengkel. Bayi yang terlampau cantik untuk dibencinya.

Semestinya ia berbahagia, sebab semua biaya persalinan sudah ditanggung oleh Juragan Kasim, pemilik peternakan sapi, tempatnya biasa bekerja memerah susu. Juragan Kasim pun berjanji padanya, ia boleh mengambil susu gratis dari perternakannya.

Semestinya Rusdi berbahagia malam itu, andai kata malam sebelumnya Juragan Kasim tak mendatangi gubugnya di pinggiran kandang sapi.

“Kau tahu kan, Rus, istriku itu mandul. Sementara kau sendiri kata istrimu, payah di tempat tidur. Aku cuma ingin membahagiakan istrimu, dan aku pun butuh seorang penurus bagi perternakan ini. Ini sama-sama menguntungkan, bukan? Rusdi, bayi yang dikandung Halimah itu adalah anakku. Aku tahu kau marah. Sangat marah. Bahkan kalau sekarang kau membunuhku, aku bisa memahami kemarahanmu itu. Tapi kau tak lagi punya pilihan, Rus. Besok istrimu akan dirujuk ke rumah sakit, bukan? Kau butuh biaya yang besar, bukan? Kau tak perlu memikirkanya, biar semua biaya persalinan aku yang bayar. Yang perlu kau lakukan, jaga rahasia ini dari siapapun, sampai bayi itu berusia 17 tahun.” ujar Juragan Kasim sambil menyerahkan hak kuasa atas perternakan untuk bayinya.

Semestinya Rusdi berbahagia malam itu. Ia telah mempertahankan egonya sebagai lelaki. Ia bunuh Juragan Kasim, sesaat setelah Juragan yang terkenal dermawan itu memberinya uang untuk biaya persalinan.

“Tunggu, saya ingin bertemu dan memeluk istri dan anak saya dulu,” ucap Rusdi pada anggota polisi yang menjemputnya di rumah sakit.

***

3 thoughts on “Aku Lelakimu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s