Kota yang Menyimpanmu Sebagai Kenangan

Jalan-jalan lengang dengan deretan bayang-bayangmu memadati tepian jalan, menciptakan sebuah pertanyaan. Mana yang lebih dahulu dipadamkan pagi; lampu-lampu jalan berwarna kuning gading yang harus menyerah lebih dahulu atau kau yang ditumbuhkan malam lalu kemudian tanpa ampun dibunuh srengnge pagi yang cahayanya memaksa masuk menusuk-nusuk celah mataku dan membakar ingatan tentang adanya dirimu?

Memasuki kota dengan bangunan-bangunan ringkih berdinding rapuh, seperti menyelami tubuhku sendiri. Bangunan-bangunan tua yang dibiarkan tak berpenghuni, keriput, dan menolak dirobohkan waktu atau mungkin dipaksa tetap berdiri — menciptakan rindu bagi arus waktu ke masalalu. Mengingatkanku padamu. Dan, ada yang tiba-tiba mendesak, begitu terasa sesak. Kota yang menyimpanmu sebagai kenangan, tak ubahnya residu racun masalalu yang membunuhku pelan-pelan.

Bukan lampu-lampu jalan, juga bukan kau yang dipadamkan. Tetapi aku yang terbunuh pagi itu.

2 thoughts on “Kota yang Menyimpanmu Sebagai Kenangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s