Kepulangan Cinta

Cklik… *bunyi shutter camera*

“Kukira, aku yang lebih dulu pergi. Ternyata kau,” ujarnya sambil merebut kamera dari tanganku lalu memeriksa beberapa fotonya yang kuambil secara candid sore itu. “Sudah berapa banyak yang kau ambil?” sambungnya dengan tatapan menyelidik.

Aku merebut kameraku dari tangannya. Gagal, dan nyaris membuat tubuhku terpelanting. Untung tangannya sigap memegang lenganku. Ia tersenyum dan mengembalikan kameraku.

Aku memeriksa kameraku, takut ada beberapa foto yang ia hapus. “Tenang, nggak ada yang aku hapua kok,” ucapnya.

“Huh!” sunggutku.
“Ada berapa banyak yang kau ambi? Hmm.. Pasti lebih banyak dari model-model kece yang pernah kau potret. Kau kan ngefans berat samaku. Iya, kan? Ngaku!” ucapnya dengan wajah yang menyebalkan.

Saat melihat foto-fotonya yang tersimpan di laptopku, percakapan sore itu di rooftop sebuah bangunan tua di kota Jakarta kembali terulang dalam ingatan. Nyaris sudah 2 tahun aku tak bertemu dengannya. Aku rindu dengan kekonyolannya. Mengingatnya kembali membuatku ingin segera menamatkan studiku di negara ini.

*
Dia, Arya Prambudi, lelaki yang telah menebar benih-benih cinta di hatiku belasan tahun lalu. Dia cinta pertamaku, cinta yang tak pernah berhasil diungkapkan suara hatiku. Aku mengenalnya saat usiaku belum genap sepuluh tahun. Hari itu, aku dan ibuku bersilaturahmi ke rumahnya sebagai tetangga baru. Aku dan Arya pun bersekolah di SD yang sama. Ia kerap menjahiliku di kelas. Dari permen karet yang ia tempelkan ke rambutku, sampai memyembunyikan pakaian olah ragaku yang membuatku dihukum. Berulang kali ulahnya kuadukan pada ibu dan ibunya, tapi mereka selalu tertawa menanggapi aduanku. Ibu selalu mengatakan Arya senang menjaholi dan menggodaku, karena ia tertarik padaku. Pipiku sempat bersemu merah saat itu. Kukira ucapan ibu ada benarnya, tak ada siswi lain yang dijahilinya selain aku. Sampai kelas 6 SD ia sering menjahiliku, tapi aku selalu bisa membalasnya.

Saat SMP aku tak satu sekolah, namun tetap kalau di lingkungan komplek rumah kami, aku dan Arya saling perang kejahilan. Setelah SMA sikap Arya berubah, lebih manis terhadapku. Kami satu sekolah, dan aku sering sekali mendapatinya mencuri-curi pandang terhadapku saat di kantin. Dan tatapannya selalu membuat detak jantungku tak biasa. Dan aku baru menyadarinya sekarang bahwa aku jatuh cinta padanya.

Ketika lulus, aku memutuskan berkuliah di Jogja. Ia mengantarku ke stasiun. Di peron ia memelukku. Erat. Meski bibirnya tak berkata apapun, aku tahu ia berat melepasku. Saat berkuliah di Jogja aku sempat berpacaran dengan beberapa lelaki, salah satunya yang paling lama Rindra, seniorku di fakultas ilmu komunikasi. Saat aku putus dengan Rindra, Arya jauh-jauh datang dari Bandung ke Jogja hanya untuk sekadar menenangkan kesedihanku. Dan anehnya ia berhasil melakukannya.

Aku lulus kuliah lebih dulu darinya. Aku memakluminya, Arya selain kuliah, ia juga menyambi bekerja. Ia harus menjadi orangtua bagi kedua adiknya. Ayah dan ibunya meninggal karena sebuah kecelakaan. Aku sangat sedih ketika mendengar kabar itu. Aku tak bisa menenangkan kesedihannya seperti yang pernah ia lakukan padaku. Saat kejadian itu terjadi, aku tengah menghadapi ujian tengah semester.

Dua tahun setelahnya, ia lulus dengan membanggakan dan diterima bekerja di kantor yang sama denganku. Kantor majalah anakmu terkemuka di kota Jakarta. Ia bekerja sebagai copywriter, sementara aku photographer. Kami sering menghabiskan waktu sepulang kerja dengan menikmati senja di sebuah rooftop bangunan tua yang sudah tak terpakai. Aku menyukai suasana menjelang malam, sementara ia menyukai senja. Dari rooftop bangunan tua itu, senja terlihat lebih dramatis jatuh ke balik cakrawala, itu kata-katanya dulu, ketika kutanya kenapa tidak menikmati senja dari tempat lainnya. Hingga di suatu hari aku menikmati suasana itu sendirian. Dan aku baru tahu, hari itu saat ia tak datang, ia sebenarnya tengah mengantre di depan kedutaan Belanda untuk mendapatkam formulir beasiswa. Aku pernah bercerita padanya, aku ingin berkuliah lagi. Meski orangtuaku mampu, aku ingin berkuliah dari hasil keringatku sendiri. Aku sempat ngambek padanya. Saat ia datang ke kosku, aku tak memedulikannya. Sampai akhirnya Bik Minah, penjaga kosku, mengetuk kamarku dan memberikan selembar formulir beasiswa. Bik Minah mengatakan, Arya sudah pergi ke Bandung, adiknya sakit. Tiba-tiba rasa sesalku tumbuh.

*
Setahun berlalu.

Akhirnya aku kembali. Di bandara ayah dan ibu menjemputku. Sesungguhnya aku memgharapkan Arya juga ikut menjemput. Di sepanjang perjalanan, aku melihat wajah ibu selalu murung. Perasaanku mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan. Semakin aneh, ketika ayah justru membawaku ke tempat pemakaman. Aku bertanya, mereka tak mau menjawab. Di sebuah perkuburan yang masih basah, berdiri dua orang yang kukenal. Dilla dan Artha, mereka adik-adiknya Arya. Dan di atas perkuburan itu tertera nama Arya Prambudi. Air mataku jatuh berderai. Ibu coba menenangkanku.

Aku masih shock. Di dalam kamar tak ada yang bisa kulakukan selain menangis dan mengutuki diri. Andai aku kembali lebih cepat. Aku bisa menemani dalam masa-masa tersulitnya. Membayangkan penderitaannya saat dikemoterapi, membuatku tak bisa memaafkan diriku yang selalu alpa saat di mana ia butuh keberadaanku. Ibu .emgatakan, Arya berpesan, apapun yang terjadi pada dirinya aku tak boleh diberitahu. Ia ingin aku dapat berkuliah dengan tenang di Belanda. Ibu juga memberiku sebuah surat yang Arya tulis sehari menjelang kematiaannya. Dalam surat itu aku bisa mendengarnya ia mengatakan ia mencintaiku. Mencintaiku sejak pertama kali bertemu denganku belasan tahun lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s