Surat Merah Jambu

Aku masih mengingat jelas kerlingan mata dan pendar senyumnya yang ia bungkuskan untukku ke dalam surat bersampul merah jambu. Surat cinta yang kubacanya sebagai cinta yang ragu. Entah, apa yang sebenarnya ia ragukan. Kesungguhanku yang beberapa waktu lalu kuutarakan padanya di sela-sela perayaan karnaval ulang tahun kota atau ia ragu pada hatinya sendiri, bahwa benar akulah lelaki yang Tuhan peruntukkan untuknya? Tak jelas keraguan apa yang tersiratkan dalam frase-frase yang ia tuliskan. Tapi mataku tetaplah mataku yang fasih membaca keraguannya, meskipun di setiap spasi dalam suratnya ia menyisipkan senyum ataupun kerlingan mata.

*
Beberapa waktu sebelum surat bersampul merah jambu itu tergeletak di atas meja kerjaku pagi tadi. Hari itu adalah hari perayaan ulang tahun kota tempat di mana aku tinggal. Dan pada hari itu EO yang baru beberapa bulan kudirikan mendapatkan kesempatan untuk mengurusi salah satu dari sekian banyak acara yang diadakan dalam rangka menyemarakkan HUT kotaku. Bersyukur aku memiliki tim yang solid. Acara yang dipegang EO-ku berjalan lancar, hanya terkendala cuaca yang tak menentu, yang membuatku sering was-was pada keberlangsungan acara. Beruntung EO yang kudirikan ini memiliki crew yang andal. Kupercayakan yang memimpin sebagai head-crew adalah Frida Renia. Benar prediksiku, dia memimpin dengan cukup cakap sampai berakhirnya acara yang ditangani EO-ku. Sebagai buah dari kecakapannya, aku mengajaknya dan seluruh crew yang dipimpinnya makan malam bersama merayakan kesuksesan kami. Sebagai EO yang baru seumur jagung dan sukses menangani pergelaran yang cukup besar dan meriah di kota tempatku tinggal, rasa-rasanya hal demikian tak berlebihan.

Setelah makan malam, seluruh crew pamit, mereka ingin juga melepas kepenatan setelah beberapa hari belakang bekerja siang-malam. Mereka ingin menikmati acara puncak Night Carnival. Tinggallah aku dan Frida di antara makanan yang belum mereka habiskan. Entah angin apa yang menyekap kami. Dalam kebekuan, kami saling menunggu siapa yang lebih dulu akan mencairkan suasana. Kebekuan itu hadir bukan tanpa alasan. Kebekuan itu dihadirkan oleh kecupanku yang kudaratkan di bibirnya dan bibirnya dengan sukarela menangkap bibirku sesaat sebelum aku mengajaknya dan crew yang dipimpinnya makan malam bersama.

Aku menyukai Frida sejak pertama kali melihat surat lamaran yang ia kirimkan ke EO yang baru saja kudirikan. Rasa suka yang kemudian berlanjut menjadi perasaan sayang, lalu cinta. Frida, perempuan berkacamata yang biasa mengikat rambutnya menyerupai ekor kuda itu berhasil mengobrak-abrik ketenangan hatiku. Senyum dan kerlingan matanya seperti angin puyuh, sementara hatiku ladang ilalang yang disentuhnya.

Kebekuan sehabis makan malam itu gagal kucairkan. Ia sepertinya begitu tangkas melihat kekikukan wajahku. Lalu ia mengajakku menyusul crew yang belum beberapa lama pamit meninggalkan kami. Di tengah geliat karnaval malam dengan riuh-rendah tetabuhan dan orang-orang berbusana unik, juga pola-pola cahaya yang dihamburkan lampu laser. Malam begitu semarak. Hatiku pun. Tanpa canggung Frida ikut menari mengikuti hentakan alat musik ritmik. Menari bersama orang-orang lainnya, merayakan pesta rakyat setahun sekali. Sementara aku hanya bertepuk-tangan. Kakiku kaku mengikuti hentakan kakinya. Tetapi ia bersikeras mengajakku menari. Kulihat bulir keringat mulai tumbuh di dahinya. Kuhentikan geraknya, kemudian kuseka keringatnya dengan saputanganku. Lalu kupegang kedua tangannya. Matanya menatap mataku. Tak tahu darimana datangnya kekuatan itu. Tiba-tiba sebaris kata meluncur dari bibirku. “Aku mencintaimu.” Suara tetabuhan karnaval sesaat lenyap dari pendengaranku. Yang jelas terdengar hanyalah detak denyut jantungku dan jantungnya yang tak beraturan, sampai akhirnya seorang crew dari EO-ku menemukanku dan Frida ikut dalam keriuhan karnaval juga. Ia yang kembali menghadir tetabuhan kembali merasuki ke telinga kami.

*
Kulipat kembali surat itu, lalu kumasukan ke dalam sampulnya yang berwarna merah jambu. Selain surat itu ada surat lainnya yang ia berikan padaku. Surat pengunduran diri. Aku teringat sesaat sebelum ia masuk ke dalam rumahnya setelah kuantar malam itu, ia berkata ia tak bisa bekerja dengan profesional jika harus melibatkan hati juga dalam pekerjaannya. Ia akan memilih di antaranya, hati atau pekerjaan.

Aku tersenyum sambil menekuri langit-langit di ruang kerjaku. Di sana sejumput harapan tentangnya kugantung.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s