Dari Kata-kata

Dear kamu…

Dari kata-kata aku menemukan kamu. Dari kata-kata aku mengagumimu. Dan dari kata-kata aku menumbuhkan mimpi-mimpi tentang kamu, tentang kita. Hanya sebatas mimpi yang berani kutempuh untuk merengkuhmu. Jarak pada akhirnya menjadi hal yang mampu menyadarkanku untuk tak terlampau tinggi memimpikanmu.

Kau, gadis manis dengan jari-jemari yang pandai membuat kata-kata menjadi kembang gula. Ah, tidak, tidak… mungkin karena hatiku yang terlampau mudah menjatuhkan diri di tangan-tangan gadis yang lebih banyak menghamburkan kata-kata tidak dengan mulutnya, tetapi dengan jemarinya. Dari kata-kata aku mendapati diriku jatuh cinta padamu.

Namun, untuk setiap kata-kata yang terlahir di jemarimu, aku tak berani melangkah jauh. Aku tak berani menebar benih harap di hatimu dan lantas menyiramnya dengan segenap perhatian, hingga benih harap itu tumbuh dan berkembang menjadi bunga harapan. Aku tak berani. Jarak yang pada akhirnya mampu menyadarkan aku, bahwa aku takkan pernah bisa memetik bunga harapan itu untuk kuletakkan dalam vas bunga di kamarku. Aku tak pernah bisa.

Aku tak ingin bunga harapan itu layu. Sebabnya, sebaiknya bunga itu tak perlu tumbuh dan berkembang. Kalaupun ada benih yang sempat terjatuh di hatimu, jika ia memang harus tumbuh, itu bukan karena aku yang menyiramnya. Tetapi hujan yang Tuhan berkahkan.

Aku tak ingin harapan yang layu menumpulkan jemarimu menuliskan kata-kata indah. Sebab dari kata-kata aku menemukanmu, aku mengagumimu, dan diam-diam jatuh cinta padamu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s