Diculik Alien

Aku ingin bercerita tentang sebuah peristiwa. Peristiwa yang mungkin kau yang mendengarnya takkan percaya dan lantas akan menganggapku gila, sama seperti orang-orang di kampungku. Itu terserah kalian. Namun yang pasti, peristiwa ini pada akhirnya yang akan membuat Emak dan Abangku selamat.

Aku lupa kapan peristiwa ini terjadi, yang kuingat hari itu adalah hari pertama aku mengendarai sepeda hadiah dari Bapak dan Emak karena aku berani disunat. Kalau tak salah, hari itu minggu ketiga setelah luka di kelaminku yang disunat mengering.

Aku bersama dua kawan lainnya, Reza dan Udin, bermain hingga sampai ke tepian danau. Sebelumnya Emak sudah mewanti-wanti agar aku dan kawan-kawanku bermain di dekat ladang saja. Akan tetapi jalanan menuju danau yang berupa turunan dan tanjakan menggoda kami.

Aku dan kedua kawanku melanjutkan balapan hingga ke ujung hutan di seberang danau. Ternyata aku yang lebih sampai. Kedua kawanku belum terlihat ketika cahaya hijau memancar dari dalam hutan. Aku penasaran ingin melihatnya. Kutunggu sampai beberapa menit, kawanku tak muncul-muncul –usut punya usut di kemudian mereka mengaku tak mengikutiku ke hutan seberang danau, mereka memilih balik ke ladang. Cahaya itu berkedip-kedip seolah memanggil. Aku masuk ke dalam hutan dengan berjalan kaki, sementara sepedaku kutinggalkan di tepi hutan. Semakin mendekat, cahaya itu meredup. Cahaya itu bersumber dari sebuah apel yang masih tergantung di tangkainya. Aku memetiknya, lalu memakannya. Tak lama kemudian aku dihinggapi rasa kantuk yang teramat sangat.

Entah sudah berapa lama aku tertidur. Rasanya nyenyak sekali. Mataku membuka perlahan. Sekelilingku tampak putih. Aku berusaha bangun dari posisiku, tapi badanku seperti mati rasa. Ada dua orang masuk melalui pintu yang bergeser otomatis. Orang itu berpakaian aneh. Berpakaian serba putih dan memakai helm. Tak hanya badanku yang mati rasa, lidahku pun kelu. Aku tak bisa berteriak ketika salah satu dari mereka menyuntikan cairan hijau berpendar ke samping kepalaku. Aneh, aku pun tak merasakan sakit. Lalu kedua orang itu membuka helmnya. Saat terbuka, ada seperti asap atau uap, entahlah. Tampang mereka begitu familiar sekali, tampang mereka seperti tokoh di film-film luar angkasa yang pernah kutonton bersama kawan-kawanku. Mata mereka besar, hidung dan mulut mereka kecil, tangan mereka memiliki jari-jari yang panjang. Mereka Alien!

Kedua Alien itu mengambil sebuah benda seperti pisau. Lalu menghunuskannya ke kepalaku. Mereka memotong kulit dan tengkorak kepalaku seperti memotong buah melon. Aneh, aku tak sedikitpun merasakan sakit. Lalu setengah dari batok kepalaku mereka letakan di meja. Entah apa yang tengah mereka lakukan dengan otakku. Dan tak beberapa lama, setengah batok kepalaku mereka pasangkan kembali ke kepalaku. Dengan menggunakan sinar laser berwarna biru, batok kepala itu tersambung seperti semula. Mereka kembali menyuntikku dengn cairan hijau berpendar. Aku terkantuk dan tertidur.
*
Aku terbangun. Bukan, bukan di dalam ruangan yang serba putih. Tapi di dalam kamarku sendiri. Aku bisa memastikan itu kamarku karena ada beberapa poster tim sepakbola kesayanganku, AC Milan dan poster Paolo Maldini.

Menurut Emak aku telah menghilang hampir seminggu. Beberapa orang kampung mengatakan aku tenggelam di danau, karena mereka menemukan sepedaku di tepian danau. Aneh, padahal aku menaruh sepeda di dekat batu besar di tepi hutan. Dan menurut Emak aku ditemukan di ladang, di saat orang-orang kampung melakukan pencarian di danau dan hutan. Aneh.

Sejak peristiwa itu, memang tak ada yang berubah dengan kepalaku yang diiris seperti mengiris melon. Namun aku merasa ada yang aneh dengan pendengaranku. Dan baru kusadari beberapa hari setelahnya, aku dapat berbicara dengan makhluk apapun, berbicara pada kecoa yang hampir terjepit pintu oleh Emak, berbicara pada burung Emprit yang memakan padi Bapak, dan berbicara pada pohon mangga di depan musolla kampung yang daun-daunnya tak henti-hentinya bertasbih mengumandangkan asma Allah. Dan sejak peristiwa itulah, sejak orang-orang mendapatiku berbicara dengan hewan dan tumbuhan, mereka menganggapku gila dan memanggilku dengan panggilan Hasan Pe’A (red: Pe’A = Gila). Tak lagi ada teman yang mau bermain denganku, kalaupun mau mereka pasti akan dilarang oleh orangtuanya. Sampai Bapak meninggal, orang-orang kampung mengucilkan keluargaku.

Hampir 20 tahun aku bersahabat dengan alam, dengan hewan-hewan sawah, dengan padi-padi yang bersukaria ketika akan dipanen. Mereka lebih memahamiku, sebab itu aku lebih banyak menghabiskan waktu di sawah.

Malam itu. Udara mati angin. Dari saung di tengah sawah tempat aku biasa menunggui sawah peninggalan Bapak, langit tampak indah. Bulan purnama dan gemintang yang berkelip.

“San, Hasan… Kenapa kamu belum mengungsi?” Sebaris kalimat mampir ke telingaku. Aku mencari-cari sumber suara itu. Ah, ternyata seekor katak.

“Mengungsi kemana?” tanyaku balik.

“Sebentar lagi akan ada banjir besar. Aku dan keluargaku sekalipun pandai berenang kami akan mengungsi ke tempat tinggi. Kami takut arusnya sangat deras. Mengungsilah, cepat!” katak itu berlalu dari hadapanku diikutin ribuan katak lainnya.

“Hasan! Cepat mengungsi…” seekor belalang lompat dari satu dahan ke dahan lainnya.

Aku menengadah ke langit. Dan bertanya-tanya benarkah yang dikatakan katak tadi. Tapi kulihat langit cerah.

“Hasan, pulanglah. Dan ajak Emakmu ke bukit sana. Di sana banyak teman-temanku yang bisa melindungimu dari terpaan banjir besar,” ucap Pohon Angsana di pinggir saungku.
*
Aku pulang ke rumah. Aku katakan semua yang dikatakan katak padaku. Emak dan Abangku tak mempercayainya. Istri dari Abangku malah menghardikku karena mengganggunya yang tengah menyaksikan sinetron favoritnya. Kuyakinkan Emak sekali lagi, akhirnya ia coba mempercayaiku. Emak dibantu oleh Abangku mempersiapkan perbekalan, sementara aku memberitahu warga kampung. Sayangnya mereka tak percaya, dan seperti Istri Abangku, mereka menghardikku.

Aku, Emak, dan Abang menuju bukit seperti apa yang disarankan Pohon Angsana. Dan tak lama kemudian bumi bergetar kencang, dari atas bukit aku melihat satu persatu lampu-lampu di kampungku padam. Dan tak menunggu lama, dari arah pantai, aku beserta Emak dan Abangku melihat gelungan air yang semakin meninggi dan meninggi. Tsunami. Kampung kami pun luluh-lantak. Abangku terpengkur. Ia menyesali tak berhasil mengajak istrinya untuk ikut ke bukit. Beberapa warga kampung ada yang selamat menuju bukit.

Setelah bencana itu berlalu, kami kembali ke kampung. Banyak mayat bergelimpangan dan rumah rata dengan tanah. Dan di antara mereka justru menyalahkanku yang mengundang bencana, mengumandangkan tulah. Hari-hari setelah bencana itu, orang-orang kampung yang selamat memasungku di atas bukit. Tiap hari Emak dan Abangku bergantian membawakan makanan. Tak terasa sudah 4 tahun berlalu aku hidup dalam pasungan di atas bukit. Sampai akhirnya ada seorang pemuda yang mendengar kabar dari relawan yang pernah membantu kami saat bencana Tsunami. Ia membebaskanku dari pasungan dan membawaku ke kota, ke rumahnya. Pemuda itu ternyata sama denganku. Ia pernah mengalami peristiwa mistik, berjumpa dengan Alien.
*

Tak ada satupun orang yang mempercayai kisah ini selain dari mereka yang juga pernah diculik Alien. Kalau kau mempercayai kisahku, mungkin kau pernah diculik Alien tapi kau belum menyadarinya. Sadarilah mulai sekarang, “mereka” ada di dekat kita. Dan kita adalah orang-orang terpilih.

***

One thought on “Diculik Alien

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s