Takkan Padam

— untuk Faridah Teddy

Malam telah sampai pada menahkikkan; bahwa satu-satunya cahaya yang mampu mengurai geliat kabut kekosongan diri adalah cahaya yang berpendar dari aksara-aksaramu: Sekumpulan kunang-kunang hijau yang terlahir dari rahim imaji. Dan kau membawanya sebagai keterharuan yang tak mesti diisyaratkan sebagai pilu, sebagian dari diriku mengenalnya sebagai rindu.

Dan malam purba, menggelincirkan doa-doa. Ruai tirai yang tersingkap angin, lampu dan dinding kamar yang mulai mendingin, memajang hening. Dan aku menemukan wajahmu di sana, dalam sekumpulan kunang-kunang hijau yang berarak merayakan sepi, memenuhi langit-langit. Wajahmu seperti doa-doa yang meruncingkan bahagia, menembus segala.

Waktu melangut, detik-detik terburai. Sudah setengah jam, malam purba melanjutkan langkah. Wajahmu masih seperti doa-doa dan aksara-aksaramu adalah kunang-kunang hijau: Sepasang perihal yang tak pernah dipadamkan angin tua manapun, sepasang perihal yang senantiasa diruadatkan semesta.

Semarang, 28 Mei 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s