Kepada Engkau yang Lupa Bahwa Satu-satunya yang Kita Punya Hanyalah Cinta

Langit telah sewarna wajahmu, jingga yang pucat, warna senja yang menyembunyikan kedukaan di balik keindahan yang kerap digumamkam remaja-remaja kasmaran. Aku masih mengingatnya, mengingat wajahmu itu, pun masih mengingat tiap-tiap penggalan kalimat yang terhenti oleh desah napasmu di kedai kopi belakang kost-mu. Waktu memang mudah meranggas, namun daun-daun waktu tak lantas hilang sia-sia, ia menjadi sesuatu yang menumbuhkan hal baru. Seperti kita, seperti mata ingatanku yang tak lantas mengabur termakan usia. Ada yang tumbuh di kepalaku, seperti halnya daun-daun waktu yang gugur. Aku tak bisa menyebutnya sebagai rindu, sebab hal ini lebih purba dari kerinduan. Ah, atau barangkali aku hanya mencoba menemukan alasan yang tepat untuk tak menyebutkannya sebagai rindu. Kau mengerti bukan, kini kita tak lagi bebas mengumandangkan rindu. Semenjak kau memilih menikahi sepi, aku coba menciptakan jarak, memulihkan kata-kata dari luka, menyusun kembali keping-keping percaya bahwasannya bahagia itu bukanlah harta karun yang membutuhkan peta untuk menemukannya. Ada sesuatu yang tumbuh di kepala, seperti daun-daun waktu yang gugur dan menumbuhkan hal baru.

Langit telah sewarna wajahmu petang ini. Jingga yang pucat. Warna duka yang selalu kau sembunyikan di celah tersempit matamu. Warna yang selalu gagal aku temukan hingga kau sendiri yang menyodorkan padaku di hari yang buruk itu. Aku masih mengingatnya, penggalan-penggalan kalimat yang hanya bisa dihentikan oleh desah napasmu. Kata-katamu menguar dari bibir delima, terlontar ke atas langit-langit kedai kopi di belakang kost-mu, dan menjelma menjadi seligi, jatuh tepat di sepasang mataku. Kata-katamu itu kini terpancang menjadi tugu peringatan di mataku. Ah, lagi-lagi aku tak mampu menyebutnya sebagai benci. Ini adalah hal yang lebih purba dari rasa benci. Atau barangkali aku hanya malas mengingatmu sebagai bentuk dari kebencian. Aku malas bila lagi harus bertarung dengan apa yang membuatku bahagia sebelum kau memilih menikahi sepi.

Waktu memang begitu cepat meranggas. Musim-musim pembawa lupa dan duka pun cepat tiba. Sesungguhnya aku masih ingin mengenangmu satu dasawarsa lagi, tetapi seperti yang kau tahu, daun-daun waktu yang gugur bukan untuk menjadi hal yang sia-sia. Ia akan menumbuhkan sesuatu yang baru, dan mungkin sesuatu yang lebih haru.

Kini langit telah menghitam, tak lagi sewarna wajahmu. Yang aku lihat dan aku ingat adalah wajahku yang telah kehilangan dirimu yang memilih menikahi sepi. Begitu muram, begitu dingin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s