Perjalanan Asing

Sampai detik aku berdiri di ujung peron dan mataku mulai mencari kursi kosong di ruang tunggu stasiun, aku belum juga menemukan alasan yang tepat mengapa aku musti berada di sini.

Semalam, sebelum memutuskan aku berdiri di ujung peron seperti sekarang, tiba-tiba saja aku tersekap atau mungkin lebih tepatnya disekap kesunyian. Tubuhku memang berada di tengah sebuah perayaan, tapi ada sesuatu dalam kepalaku yang bergumam tentang kesunyian. Entah mengapa tiba-tiba aku merindukan sebuah perjalanan menuju tempat di mana semustinya aku menyandarkan penat. Entah mengapa tiba-tiba aku merindukan mata perempuan itu yan seperti kota tua. Entah mengapa aku rindu pagutan-pagutan kecil bibir mungilnya pada bibirku. Ah, jika kenangan serupa rumah masihkah ia akan menyapaku sebagai tamu atau tak lebih hanya sisa debu jalanan yang tersesat di berandanya lalu kemudian ia sapu dengan sekali ayunan tangan. Entahlah.

Di pojok ruang tunggu stasiun, mataku akhirnya menemukan kursi kosong. Kursi yang mungkin memang dibiarkan kosong atau memang bukan tempat yang nyaman untuk menungg kereta datang karena letaknya berada di depan wc umum. Sebenarnya akupun tak terlampau berminat untuk duduk di kursi itu, tapi tak ada kursi lain lagi dan aku tak akan membiarkan betisku pegal hanya untuk sekadar menunggu kereta yang kemungkinan terlambat.

Kupasang earphone, dengan begitu aku tak perlu menjawab basa-basi calon penumpang lainnya. Kurasa semua orang akan melakukan hal demikian bila sedang tak ingin diganggu. Namun sejujurnya aku bukan sedang ingin tak diganggu, aku cuma malas berbicara dengan orang asing. Dari iPod-ku berputarlah alunan lagu dari Frau. Aku kadang suka berpikir musisi ini unik. Ia membuat lagu, lalu merekamnya, dan membagikannya melalui portal website-nya. Gratis! Jarang ada musisi yang seperti dia. “Kalau sudah dikomersialisasikan aku rasa itu bukan lagi seni. Seni seharusnya dapat dinikmati semua orang. Seni harus membuang ke-ekslusif-annya ke tong sampah.” Kata seseorang yang tak sengaja kutemui di sebuah kedai dekat TIM beberapa jam sebelum aku menghadiri pementasan teater yang disutradarai kawan kenalanku. Aku hanya tersenyum menanggapi pernyataanya. Seperti yang kubilang aku tak terlampau suka berbicara pada orang asing. Kembali orang asing ini memantik obrolan yang sempat kupadamkan. Hingga akhirnya tak terasa botol-botol bekas bir dingin memenuhi meja. Sejujurnya aku tak terlampau memperhatikan topik obrolan yang kami bicarakan. Aku lebih memperhatikan ranum bibirnya saat ia berbicara dan belahan dadanya. Tunggu, jangan hakimi aku dulu dengan kata “kurang ajar!”, sebab sebelum aku memperhatikan belahan dadanya, aku telah meminta ijin dulu padanya bila mataku nanti tersesat di antara belahan tolong ingatkan. Toh berkali-kali mataku tersesat di sana, tetapi ia membiarkan saja. Setelah berbulan-bulan, entah mengapa yang kuingat darinya bukan ranum bibirnya atau belahan dadanya yang begitu menyita perhatianku, juga bukan topik pembicaraannya. Tetapi matanya. Aku menemukan kota tua di dalam mata, menyimpan banyak cerita, banyak rahasia. Mata yang begitu eksotik dan indah, namun keropos dan begitu ringkih. Apakah itu sebabnya ia tak pernah ingin menciptakan hujan saat ia melepasku pergi? Sudah kukatakan padanya, selain tak terlampau suka berbicara dengan orang asing, akupun tak menyukai komitmen dalam berhubungan. Aku masih ingin bebas. Aku masih ingin melakukan perjalanan jauh ke tempat-tempat asing. Sejujurnya aku ingin mengajaknya, tetapi kuurungkan. Aku tahu dia tipe perempuan yang lebih suka menunggu kepulangan daripada menjadi bagian petualangan. Dia seperti ibuku yang selalu menunggu ayah pulang. Sementara ayah tak ubahnya seperti senja. Datang hanya untuk singgah dan mengantarkan gulita malam ke mata ibu. Aku tak ingin seperti ayah. Aku harus memiliki rumah. Dan mungkin keberadaanku di ruang tunggu stasiun ini tak lain aku telah menemukan rumah. Dan rumah itu tak lain adalah perempuan asing yang tiba-tiba mengajakku ngobrol tentang apa saja yang tengah dipikirkannya, perempuan asing yang menijinkan mataku tersesat di belahan payudara.

Entahlah, jika kenangan memang sebuah rumah, ia pasti tak lagi menganggapku tamu atau hanya sekadar sisa debu jalanan.

One thought on “Perjalanan Asing

  1. tulisan yang bagus dan menarik minat pembacanya , paling tidak aku sendiri, sehingga aku tanpa sadar ikut merenung bahwa ditempat yang semula kita sangka sudah kita kenal ternyata rasa asing itu selalu ada. Ah tulisan yang sederhana tapi indah.
    salam kenal dari saya oldman Bintang Rina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s