Mustika, Peri Danau, dan Para Lelaki Bersayap

Pagi itu di lapangan sepakbola Kampung Larasdadap begitu riuh. Bukan, warga bukan mau melihat sebuah pertandingan sepakbola. Bukan pula ingin melihat perlombaan adu balap merpati yang biasa diadakan dua bulan sekali. Pagi itu warga Kampung Larasdadap dihebohkan dengan penemuan sepasang sayap. Di sayap itu terdapat bulu-bulu lembut seperti bulu angsa, dan di pangkal sayap yang berwarna putih pucat masih meneteskan darah segar. Aneh, darah itu tak berwarna merah. Tetapi berwarna hijau kebiruan. Semula orang menganggap sayap itu, sayap angsa milik Haji Kirun yang dimangsa rubah, tetapi dari ukurannya yang cukup besar tak mungkin sepasanh sayap itu sayap angsa. Warga diliputi keheranan juga kecemasan. Mereka takut hal itu sebagai pertanda buruk bagi kampung mereka. Dan untuk sementara sepasang sayap itu disimpan di balai desa, sambil menunggu pihak yang berwajib datang dan memeriksanya.

                                                                             *  

              Lelaki dengan tubuh tegap, dan berpakaian serba putih itu terhuyung menyusuri sungai. Ia berjalan gontai sambil memegangi perutnya. Dan kemudian terjatuh.

              “Aduh! Jarik simbok ketinggalan di sungai. Ngg… kalian pulang dulu saja, aku mau ngambil jarik simbok sebelum ke bawa arus sungai,” ujar Mustika pada keempat temannya sehabis mencuci di sungai.

              “Hati-hati ya, Mus,” sahut teman-temannya.

              Sepeninggalan teman-temannya Mustika kembali ke sungai, namun alakang terhenyaknya ia mendapati seorang lelaki terbaring di antara batu-batuan. Mustika segera berlari ke arah lelaki malang itu, hendak menolong. Dan ia semakin terkejut mendapati tubuh lelaki itu penuh dengan sayatan-sayatan benda tajam.

              “Tolong, jangan beritahu siapapun,” pesan lelaki itu sebelum ia tak sadarkan diri.

              Mustika panik, cemas, dan heran. Seseorang yang penuh luka sayatan di sekujur tubuhnya masih bisa tetap hidup. Mustika hendak membawa lelaki itu pulang ke rumahnya, tapi nanti apa kata simbok. Dan juga apa kata warga bila tahu ia membawa lelaki pulang ke rumahnya. Kemudian ia urungkan niatnya. Hampir setengah jam ia berpikir sampai-sampai ia lupa mengambil jarik simbok yang tertinggal. “Hah, harus aku apakan lelaki ini,” pikirnya. Meninggalkannya begitu saja di sungai, ia tak tega.

          Tak beberapa lama kemudian ia ingat satu tempat rahasia semasa kecilnya kala bermain Tak Umpat, tempat yang hanya diketahui olehnya. Dengan susah payah Mustika memapah lelaki berpakaian serba putih itu, di punggunya terdapat luka yang menganga cukup lebar. Sedikit mengernyitkan dahi ketika  darah yang keluar dari punggung lelaki itu bukan berwarna merah. Tapi Mustika tak mau ambil pusing, ia tetap melanjutkan perjalanannya menuju tempat persembunyiannya.

              Akhirnya sampai juga ia dan lelaki malang itu di sebuah gua yang lembab, tempat dulu ia bersembunyi saat kecil. Entah saat sedang bermain Tak Umpat, atau saat simbok memarahinya. Inilah satu-satunya tempat teraman untuk lelaki yang belum ia ketahui asal-usulnya. Seperti yang dipesankan, jangan beritahu siapapun.

                                                                             *

              Hari menjelang petang, lelaki malang itu belum juga siuman. Luka-luka di sekujur tubuh lelaki itupun telah diobatai Mustika dengan obat-obat tradisional yang pernah ia pelajari dari simbok. Dan  sementara kini Mustika lebih mengkhawatir amarah simbok. Jariknya hilang, dan belum pulang juga sampai menjelang malam seperti ini. Mustika melamun di mulut gua sambil sesekali mengamati lelaki yang terlelap di sampingnya. Ia seperti bukan penduduk kampung Larasdadap, terlalu tampan. Mustika tersenyum-senyum sendiri mengamati wajah lelaki itu.

              Beberapa saat kemudian, lelaki itu terjaga. Lelaki itu agak berat membuka kelopak matanya. Samar-samar dilihatnya seorang perempuan yang tengah mengamatinya.

              “Kamu siapa? Saya di mana?” kata pertamanya.

              Mustika tersenyum.

              “Tenang, lukamu sudah aku obati. Kamu sekarang di tempat yang aman. Oh ya, siapa namamu? Namaku Mustika. Aku anaknya Simbok Murtini, dukun pijat paling terkenal di kampung Larasdadap,” ujar Mustika, Ramah.

              “Nama? Nama saya siapa? Nama?” sahut lelaki itu, sambil memegangi kepalanya. Seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.

              “Ya sudah, kalau belum ingat tidak apa-apa. Saya harus pulang sekarang, oya ini buah-buahan saya petik dari hutan. Kamu makan ya,” pesan Mustika pada lelaki yang masih mencoba mengingat-ingat namanya.

              Lelaki dengan mata berwarna biru,  hidung bangir, dan senyum mempesona itu, membuat perut Mustika seperti disinggahi banyak kupu-kupu. Di sepanjang jalan yang pulang agak gelap ia tak henti tersenyum-senyum sendiri.

              “Ya ampun, Nduk, kamu kemana saja. Sudah malam seperti ini baru pulang,” Simbok Khawatir.

              “Maaf, mbok, aku habis nyari jariknya simbok yang tertinggal di sungai, tapi ndak ketemu,”

              “Oawalah, ya sudah tak apa. Simbok lebih takut kehilangan kamu daripada kehilangan satu jarik. Kamu tahu ndak, tadi pagi di lapangan bola warga menemukan sepasang sayap aneh.”

              “Aneh? Aneh gimana, mbok?”

              “Ya pokoknya aneh. Simbok jadi takut, ini sebuah pertanda datangnya malapetaka. Makanya dari tadi simbok nyariin kamu. Kata Laksmi kamu balik ke sungai lagi. Hah, untung saja kamu ndak kenapa-kenapa, nduk.”

              Mustika mulai menerawang dan menduga-duga, apa ada kaitannya antara sepasang sayap yang ditemukan di lapangan sepakbola, menurut simbok, dengan lelaki  bermata biru yang ia temukan terkapar di sungai.

                                                                             *

              Keesokan hari, pagi-pagi sekali Mustika segera bergegas ke gua tempat ia menyembunyikan lelaki bermata biru itu. Namun ia tak menemukan lelaki itu, yang ada hanya bulu-bulu yang tertinggal di dinding gua. Mustika mengambil bulu-bulu itu, lalu ia amati. Bulu-bulu itu seperti bulu angsa, tetapi ukurannya jauh lebih besar, dan sangat halus seperti sutra. Ia pun kembali mengira-ira, mungkinkah lelaki itu seorang malaikat, atau serupa peri, entahlah ia buang jauh-jauh pemikiran itu.

              “Tak mungkin. Tak mungkin,” ujarnya dalam hati.  Mustika kembali mencari lelaki itu, ia masuk ke dalam hutan, karena pikirnya mungkin lelaki itu tersesat.

              Hampir setengah hari ia mencari lelaki bermata biru itu, namun tak jua ditemukannya. Rasa letih membuatnya terkantuk, dan kemudian tertidur di bawah pohon beringin besar yang terdapat di dalam hutan.

              Mustika terperanjat dari tidurnya, di hadapannya ada sekelompok lelaki bermata biru dengan sayap yang terbuka lebar. Wajah sekelompok lelaki bermata biru itu dingin, tatapannya begitu tajam ke wajah Mustika. Mustika merasakan panas yang luar biasa di matanya. Darah mengalir ke pipi, namun ia masih dapat melihat sekelompok lelaki bermata biru itu. Mustika pun dapat mendengar pembicaraan yang mereka, tidak dengan mulut tetapi melalui pikiran.

              “Di mana kau sembunyikan Edenz?” ucapnya melalui pikiran.

              Mustika ketakutan, tubuhnya menggigil. Suara itu begitu membuatnya bergemetar.

              “Di mana kau sembunyikan Edenz, manusia?” tanyanya sekali lagi.

              Mustika semakin ketakutan. Ia menutupi wajahnya dengan tangannya ketika salah satu dari lelaki bermata biru mengeluarkan cakar dari sela-sela jarinya.

              “Tunggu Isack! Jangan kau sakiti perempuan ini. Dia telah menolongku,” ujar Edenz dari balik semak-semak. “Kalian mau apa lagi? Tidak cukupkah kalian membuatku terbuang ke Bumi? Apa yang kalian ingini, cepat katakan,”sambungnya.

              “Akhirnya kau muncul juga, Edenz. Aku ingin kau serah Putri Rachelia, sekarang!” bentak Isack, sambil menghunuskan cakarnya yang runcing ke leher Edenz. “Kau bukan lagi peri Edenz, dengan sekali goresan saja di nadimu, kau akan seperti makhluk Bumi yang  lemah ini. Kau akan mati, Edenz,” tambahnya.

              Edenz mengepalkan tangannya. Kesal.

              Putri Rachelia adalah putri dari segala peri di Negeri di atas awan. Sebelum dibuang ke Bumi, Edenz dan Putri Rachelia saling mencintai. Kisah kasihnya akhirnya di ketahui oleh sang Ratu yang tak lain adalah Ibunda dari Putri Rachelia. Hubungan mereka tak disetujui, Edenz dan Putri Rachelia melarikan diri dan bersembunyi di dalam hutan larangan. Hutan itu berada di sisi gelap Negeri di atas awan. Di dalam hutan larangan, Edenz dan Putri Rachelia bertemu dengan King Artase. King Artase adalah pemimpin dari klan-klan yang terusir dari Negeri di atas awan. Dan Edenz rupa-rupanya termasuk dari salah satu dari klan yang terusir itu. Pantas saja sang Ratu tak menyetujui hubungan Edenz dengan Putri Rachelia.

              Edenz dijamu dengan baik oleh King Artase, begitu pun Putri Rachelia. Sekalipun King Artase sangat membenci Ratu, tetapi mata bening mutiara Putri Rachelia yang begitu tulus, menerbitkan harapan bahwa kelak di kemudian hari Negeri di atas awan akan memiliki Ratu yang lebih baik dari saat ini.

              Namun harapan itu tinggal harapan, saat malam menjelang pasukan unicorn Negeri di atas awan menyerang hutan larangan. Isack sebagai pemimpin dari penyerangan itu membakar habis seluruh hutan larangan. Para penghuninya memilih melarikan diri, ada yang pergi ke Bumi dan ada yang pergi ke semesta lainnya. Mereka sebelum melarikan diri membuat perjanjian, bila kelak Putri Rachelia naik tahta, akan kembali. Putri Rachelia cukup memercikan cahaya hijau toska ke langit utara dan selatan. Aurora Borealis, orang Bumi menyebutnya demikian.

              King Artase, Edenz, dan Putri Rachelia berlutut di hadapan sang Ratu, menantikan hukuman. Hening.

              King Artase dan Edenz dihukum mati, sementara atas permohonan Putri Rachelia, Edenz tak jadi dihukum mati, ia dibuang ke Bumi. Saat akan memasuki pintu pembuangan, tiba-tiba tangan Putri Rachelia lepas dari genggaman Isack dan melarikan diri menuju pintu pembuangan menyusul Edenz. Mereka berdua menghilang di balik pintu pembuangan yang menyilaukan itu. Lenyap.

                                                                             *

              “Edenz…!” Mustika terbangun dari tidurnya.

              Ternyata hanya mimpi, tetapi para sekelompok lelaki bermata biru dan bersayap itu begitu tampak nyata di ingatannya. Kembali Mustika menemukan sehelai bulu seperti bulu angsa seperti di dinding gua.

              “Benarkah lelaki bermata biru itu bernama Edenz, dan ia seorang peri?” Renungnya.

              Mustika mencari lelaki bermata biru itu hingga ke ujung hutan, namun jejaknya juga tak ia temukan. Saat akan kembali pulang, telinga Mustika menangkap nada-nada merdu dari sebuah alat musik. Mustika pun mencari tahu dari mana datangnya bunyi itu. Seorang perempuan dengan sayap di pundaknya tengah terduduk di sebuah danau, memainkan sebuah lat musik. Merdu.

              Penduduk kampung sering kali takut ke danau itu, konon menurut peduduk kampung di danau itu terdapat hantu penunggunya. Mustika memberanikan diri mendekati perempuan itu. Tinggal tiga langkah lagi, perempuan itu menghentikan permainannya. Ia mengetahui ada orang yang mengamatinya.

              “Siapa kau? Kenapa kau tidak takut seperti orang-orang lainnya?” ucap perempuan itu. Wajah perempuan itu bersinar, matanya bening seperti Kristal, senyumnya begitu indah.

              “Saya… saya… saya… Mustika, saya sedang mencari seorang lelaki bermata biru. Maaf saya mengganggu kamu,” sahut Mustika gemetar.

              “Tidak mengapa, saya heran saja ada orang yang berani mendekati danau ini. Oo, ya, saya Rachelia. Tapi orang kampung lebih sering menjuluki saya peri danau.”

              “Apa?! Put… Put… Putri Rachelia?!” Mustika tergugup-gugup, ternyata mimpinya bukan hanya sekadar mimpi belaka. “Kamu Putri Rachelia dari Negeri di atas awan? Benarkah?” sambungnya, takjub.

              “Darimana kau tahu hal itu?”

              “Baru saja, lewat mimpi. Putri pasti sedang menunggu Edenz. Edenz saat ini sedang diburu oleh Isack.”

              “Apa? Pasukan Isack sudah sampai ke Bumi? Lalu bagaimana dengan Edenz. Aku sudah menunggu di danau ini ratusan tahun. Bisakah kau membawaku padanya, Mustika?”

              “Karena itu saya mencarinya, Putri. Kemarin Edenz terkapar di sungai, dan saya membawanya ke gua persembunyian. Edenz… Edenz… sayapnya terluka, Putri. Sudah saya obati, namun tadi pagi ia sudah tak ada lagi di gua,” jelas Mustika.

              “Saya juga menemukan ini di dinding dan di semak-semak tempat saya terlelap tadi,” Mustika meyerahkan dua helai bulu seperti bulu angsa.

              “Benar, ini bulu dari sayap-sayapnya Edenz. Kita harus segera mencarinya, Mustika, sebelum Isack menemukannya dan membunuhnya.”

              Putri Rachelia dan Mustika bergegas mencari Edenz, mereka memutuskan kembali ke gua tempat Mustika menyembunyikan Edenz.

              Edenz terkelungkup di dalam gua. Tubuhnya begitu lemah. Putri Rachelia meletakkan kepala Edenz ke pangkuannya. Kekasih yang telah terpisah ratusan tahun akhirnya saling bertemu.

              “Edenz… Edenz… bertahan Edenz. Ini aku Rachel, Edenz aku mohon bertahan.”

              Edenz hanya mampu mengerang kesakitan. Hingga malam ke-40 suara lolongan dari dalam hutan menguar sampai keperkampuangan. Sebagian warga mempercayai bahwa sepasang sayap yang mereka temukan di lapangan sepakbola adalah tanda bahwa akan datangnya malapetaka.

              Malam ke-41 kilatan cahaya memenuhi langit dan terjatuh di dalam hutan. Dan setelahnya terdengar suara bergemuruh. Warga berhamburan keluar rumah, mencari tahu apa yang tengah terjadi. Namun dukun kampung memerintahkan seluruh warga untuk kembali masuk, ia mengatakan malapetaka itu telah datang. Tetapi Mustika justru bergegas ke hutan, tak mengindahkan omongan dukun kampung. Ia tahu ada yang tak beres dengan Edenz dan Putri Rachelia, dan benar saja di depan gua persembunyian Edenz dan Putri Rachelia, sekumpulan mahkluk bersayap berkerumun di mulut gua. Mengepung Edenz dan Putri Rachelia. Mustika teringat nasihat simbok saat ia kecil perihal Peri Danau yang menjadi legenda kampung Larasdadap, kalau bertemu dengan mahkluk itu pukulan kentongan dari bambu kuning, karena mahkluk itu takut bila bertemu manusia. Mustika kembali bergegas ke kampung, meminta bantuan. Sayang penduduk kampung begitu takut. Tetapi untung saja simbok mau menemani. Dibawanya-lah kentongan dari bambu kuning yang tergantung di pos ronda. Dengan mengendap-endap sampailah Mustika dan simbok di gua tempat persembunyian Edenz danPutri Rachelia.

              “Nduk, mana mahkluk yang kamu maksud itu, simbok ndak melihat?” ujar simbok sambil mengusap matanya.

              “Itu mbok, yang pakaiannya berwarna emas itu, jahat mbok. Dan yang itu, yang cantik itu, itu namanya Putri Rachelia. Dia itu yang sering simbok bilang Peri Danau. Dia baik mbok,” sahutnya.

              “Mana tho’ nduk, simbok, ndak melihat,” simbok kembali mengusap-usap matanya.

              Sementara itu, Edenz terpaksa demi menyelamatkan Putri Rachelia menyetujui tantangan Isack untuk bertarung dengannya. Dan pertarungan pun terjadi, kilatan cahaya berhamburan di langit. Mustika memeluk simboknya, sementara simbok terheran-heran melihat wajah anak gadis kesayangannya ketakutan.

              “Mbok cepat pukul kentongannya, mbok. Cepat.”      

              “Ada apa, nduk? Ada apa?”

              “Simbok benar-benar ndak melihat? Edenz, Edenz terluka parah mbok.”

              Simbok memukul kentongan dengan sekuat tenaga, sekalipun dia tidak tahu apa yang sedang dilihat Mustika.

                                                                             *

              “Nduk bangun, nduk. Nduk…” Simbok panik.

              Sebagian warga masih memukul kentongan dari bambu kuning, agar Mustika terbangun dari tidurnya. Sudah hampir tengah malam akhirnya Mustika ditemukan tergeletak di bawah pohon dekat danau.

              “Lho, Edenz mana mbok? Putri Rachelia selamatkan mbok?” ujarnya, sambil membuka mata perlahan.

              “Kamu ini nduk, simbok hampir setengah mati nyariin kamu. Untung saja warga kampung dan pak dukun mau membantu mencarimu.”

              “Edenz dan Putri Rachelia mana, mbok?”

              “Edenz dan Putri Rachelia itu siapa tho’, nduk. Ayo sudah pulang saja, kasihan warga kampung kecapekan mencari-cari kamu.”

              Sebelum beranjak dari bawah pohon besar itu, Mustika kembali melihat ke arah danau, seorang perempuan dan lelaki mengibas-ibaskan tangan dan kedua sayap di punggungnya.

              “Lain kali, jangan main-main ke danau itu lagi. Kau tak tahu, peri danau suka dengan anak gadis seperi kamu,” Dukun kampung memperingati.

              Mustika tersenyum.

                                                                            ***

             

One thought on “Mustika, Peri Danau, dan Para Lelaki Bersayap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s