Saling Memuji, Tanpa Janji

“Cinta itu berbanding lurus dengan tanggung-jawab, di mana pun cinta berada harus ada tanggung-jawab di sampingnya. Dan bukti seorang lelaki mencintai pasangannya adalah dengan membahagiakannya. Karena membahagiakannya merupakan bentuk dari tanggung-jawab,” ujarnya sambil menekuri langit yang warnanya kian jingga. Sesekali rambut panjangnya yang terkuncir bergoyang-goyang mengikuti arah gerak kepalanya.

Aku dan gadis kecil, kerap datang ke padang luas ini. Di padang ini tumbuh sebatang pohon trambesi. Dulu, saat kami kanak-kanak, batang pohon trambesi ini tak sebesar sekarang. Dulu, batang pohon trambesi di tengah padang ini masih dapat kami peluk dengan rentangan sepasang tangan kami. Di sisi sebelah kiri pohon trambesi yang tegak berdiri, juga tumbuh rimbunan bilah-bila ilalang. Gadis kecil suka sekali bersembunyi di sana, memancing rasa kesalku yang tak jua menemukannya. Dan sisi kanan pohon trambesi ada sebuah danau mini yang sebetulnya bekas galian mesin excavator. Konon padang ini pernah mau dijadikan sebuah mall, tapi karena tak memenuhi amdal proyek itu dihentikan bertahun-tahun. Cekungan bekas penggalian itu akhirnya terpenuhi oleh air hujan. Dulu, saat kami masih kecil, danau mini ini nampak begitu luas dan dalam. Sebabnya aku dan gadis kecil sering sekali diomeli oleh ayah ibu kami masing-masing jika ketahuan main ke padang ini. Dan waktu SMA, atas dasar ide dari gadis kecil, aku membuat sebuah dermaga di sisi dekat pohon trambesi. Kami pun membuat sampan mini dari sisa-sasi kayu yang tak terpakai. Sejak keluargaku memutuskan pindah ke kota lain, gadis kecil bilang padaku ia tak pernah datang lagi ke padang ini. Tempat ini mengingatkannya padaku. Ya, sesaat sebelum aku pergi, aku sempat berpamitan padanya. Gadis kecil menggenggam lenganku erat-erat, seraya tak mengizinkan aku pergi darinya. Aku sadari selama belasan tahun aku mengenal gadis kecil, ia tak punya teman selain aku. Aku pun demikian. Gadis kecil sahabatku satu-satunya.

Setelah hampir tujuh tahun berlalu, aku kembali. Sebulan ini aku ditugaskan perusahaan tempatku bekerja untuk melakukan survey lapangan sekaligus membuat blueprint pada proyek yang berhasil kami menangkan. Aku bertemu gadis kecil saat mengunjungi rumahnya. Ia tak mengenaliku awalnya. Aku pun sempat tak mengenalinya. Gadis kecil kini telah tumbuh menjadi gadis yang cantik. Dulu, gadis kecil tak pernah memanjangkan rambutnya. Dan selalu terlihat kumal.

Jelang sore hari, gadis kecil mengajakku ke padang luas. Pohon trambesi menjulang gagah di tengah luas padang.

“Ini kali pertama aku datang ke sini lagi, lho Ram,” ucapnya. Kemudian ia duduk dan mneyelonjorkan kaki, matanya tajam menatap cakrawala. Poni dan rambutnya yang terkuncirnya melambai tertiup angin.

“Lho?” aku mengeryitkan dahi, lagi aku berputar mengelilingi batang pohon trambesi yang sudah tak tergapai peluk lengan-lengan kami. Mencari sesuatu. “ketemu!” seruku.

“Apa?” gadis kecil berdiri sambil membersihkan roknya dari rumput-rumput kering yang menempel.

“Ini, ‘Saling memuji, tanpa janji. Danish Raytama love Rama Aditya’,” ujarku sambil menunjuk ke arah tulisan yang pernah dibuat gadis kecil. “Ternyata masih ada. Sebesar apa pun batang pohon ini tumbuh, ia masih menyimpan sesuatu itu. Kau tahu, Dan, aku pun ingin seperti batang pohon ini. Menyimpan sesuatu yang pernah kamu tulis itu.”

“Apa sih… Itu kan waktu jaman kita masih abege,” gadis kecil tersipu, pipinya merona.

“Haha… Danish… Danish…”

Beberapa jenak kemudian suasana hening, aku dan gadis kecil tersekap oleh sebuah rasa, entah apa namanya.

“Ram! Naik sampan itu lagi yuk.” Serunya, memecah keheningan. Gadis setengah berlari menuju sampan yang tertampat di dermaga.

“Hei, Dan, tunggu!”

Terlambat. Gadis kecil sudah menaiki sampan itu sambil melambai-lambaikan tangan ke arahku. Namun sesaat kemudian sampan itu terbelah dan gadis kecil tercebur. Aku berlari ke arahnya dan ikut menceburkan diri. Menyelamatkannya. Kubawa ia ke tepi. Seluruh pakaian kami basah.

“Kamu nih, Dan. Sampan itu sudah rapuh. Huh, untung cuma tercebur,” gerutuku.

“Jadi kamu nggak ikhlas nolong aku? Tadi mah biarin aja aku tenggelam,” sahutnya dengan wajah cemberut. Gadis kecil tetaplah gadis kecil dalam hatiku, seberapa banyak pun angka-angka memenuhi usianya ia tetap gadis kecil yang manja, yang selalu membuatku kesal dengan ulahnya dan di saat bersamaan aku terhibur.

Aku dan gadis kecil duduk di akar pohon trambesi yang menongnjol besar di atas permukaan tanah. Sembari mengeringkan pakaian kami, juga menunggu senja.

“Tadi aku dengar perbincanganmu dengan ayah, kau akan membangun mall di kota ini? Di mana?” tanyanya.

“Bukan mall, kamu salah dengar. Perusahaanku akan membangun taman bermain.”

“semacam dunia fantasi yang seperti ada di Jakarta itu, Ram? Wah, asyik dong. Di mana?”

“Di tempat kita duduk sekarang.”

“Apa?” kembali gadis kecil melipat bibirnya. Cemberut.

“Karena di tempat ini, maka aku yang ambil. Aku yang jadi arsiteknya. Kamu tenang saja, Dan, seperti yang aku bilang tadi aku ingin menyimpan sesuatu yang pernah kamu tulis. Aku takkan menebangnya. Janji!”

Gadis kecil tersenyum,”Danau mini itu juga harus tertap ada, dan aku mau masuk taman bermain ini gratis selama-lamanya.”

“Apa?! Oke, oke, kalau danau itu tentu ada, tapi kalau masuk gratis aku nggak janji.”

“Yaaah…”

Kami kembali dalam situasi hening. Kembali saling menunggu siapa yang akan memecahkan keheningan ini.

“Ram, kamu sudah menikah?”

Entah apa yang sedang bergeliat di kepala gadis kecil, tiba-tiba saja muncul pertanyaan itu. Seandainya aku sudah menikah, kota ini menjadi kota yang tak ingin kudatangi. Tak sampai hati melukai gadis kecil.

“Uhm… menurutmu cinta itu apa, Dan?” tanyaku balik.

“Ih, kamu nih. Pertanyaanku belum dijawab, sudah bertanyak balik. Nggak asik ah,” kembali gadis kecil cemberut. Kalau sedang cemberut entah mengapa wajah gadis kecil begitu menggemaskan.

“Jawab dulu, nanti baru aku jawab pertanyaanmu.”

Gadis kecil menghela napas.

“Cinta itu harus berbanding lurus dengan tanggung-jawab, di mana pun cinta berada harus ada tanggung-jawab di sampingnya. Dan bukti seorang lelaki mencintai pasangannya adalah dengan membahagiakannya. Karena membahagiakannya merupakan bentuk dari tanggung-jawab,” ujarnya sambil menekuri langit yang warnanya kian jingga. Sesekali rambut panjangnya yang terkuncir dan hampir kering bergoyang-goyang mengikuti arah gerak kepalanya. “Puas!”

“Uhm, belum sih. Uhm, yang aku tanyakan kan definisi cinta. Tapi ya sudahlah,” sahutku seraya berdiri dan beranjak pergi.

“Hei tunggu! Rama, tunggu. Ih, kamu nih senangnya ninggalin aku mulu,” gadis kecil mengejarku dan menahan lenganku. “Tunggu, kamu belum jawab pertanyaanku?” Aku menatap matanya berkaca, seperti menahan kesedihan yang dalam.

“Aku nggak akan meninggalkan kamu lagi,” ucapku sambil memeluknya.

*

Setahun kemudian dalam acara grand launching Paradise Park, gadis kecil terperangah di depan sebuah maket. Aku menjelaskan satu persatu wahana yang ada di dalam Taman bermaini ini kepadanya.

“Dan itu, yang di tengah-tengah itu. Yang menjadi pusat keramaian di taman ini. Itu pohon trambesi kita. Aku sengaja memagarinya, supaya tulisanmu tetap ada di sana.”

“Lho, memangnya boleh?”

“Bolehlah, waktu presentasi di depan pemilik modal, aku menceritakan kisah kita. Ya sedikit didramatisir sih. Oh, ya, danau itu sudah jauh lebih bagus dan aku tak perlu khawatir kalau kamu kembali menaiki sampan di sana.”

“Aaakk… Rama, so sweet. Yuk… yuk… yuk…” gadis kecil setengah berlari menuju danau mini itu sambil menggenggam tanganku.

“Tunggu!”

“Kenapa lagi? Katamu aman.”

“Kamu bahagia?”

Gadis kecil mengangguk. Aku mengambil spidol dan menuliskan sesuatu di telapak tangannya.

“Saling memuji tanpa janji. Rama Aditya love Danish Raytama.”

3 thoughts on “Saling Memuji, Tanpa Janji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s