Perempuan Penyeduh Kopi

Juni telah tiba Tuan, dengan selarik romantika kisah setia. Di tubir puisi, kau bawa aku mengkhidmati rindu yang dijatuhkan gelungan awan ke tanah kerontang di sana, di matamu yang seligi.

Puisi ini Tuan, bukan tentang ketabahan hujan yang dicatatkan Sapardi, juga bukan tentang kata-kata yang meranggas karena kemarau di kepalamu lebih cepat tiba daripada musim-musim yang sering menuliskan lupa. Puisi ini tentang secangkir kopi yang tak pernah bosan menunggumu, meski kedatanganmu hanya sekadar angan-angan semata.

Juni telah tiba Tuan. Kedai masih seperti dulu, dipenuhi aroma keringatmu juga air mata-air mata yang lupa kau bawa pergi — Air  mata sewangi lavender yang membekas di kemejamu yang lupa kau bawa pergi juga dari kamarku. Kopimu pun masih mengepulkan asap di meja nomor tiga. Di sana, ingatkah kau, kau dan seorang wanita berparas perempuan langit pernah memuja hujan dengan pelukan-pelukan erat; perempuan yang selalu kau lukis di mataku dengan tinta pelangi. Kau juga pernah memaki sepi, membunuh bayang-bayang sunyi dengan bercangkir-cangkir kopi, juga puisi.

Tuan, Juni telah tiba. Tak seperti yang dikatakan Sapardi, juga tak seperti janji matahari. Hujan masih saja jatuh di sini – di kedai ini, di mata ini — , namun tak setabah itu. Tungguku-pun tak lagi mampu bertahan selama waktu. Sebab abadi hanya sebatas kata, bukan cintamu yang entah untuk siapa.

One thought on “Perempuan Penyeduh Kopi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s