Juni Tak Setabah Itu, Agil.

Bayang-bayang wajah lelaki itu masih menari bersama rintik hujan yang terjatuh di atas aspal-aspal legam, semenjak siang terpapar sinar matahari bulan Juni. Pun di kedai kopi ini, rintik hujan begitu pilu berdenting, jatuh dari mata dan dadaku. Hujan yang gemar menyanyikan kenangan tentang lelaki berlesung pipi itu.

Di kedai kopi ini, Juni dua tahun yang lalu, ia datang dengan membawa semringah di wajahnya. Aku selalu suka saat ia tersenyum, memamerkan sepasang lesung pipi yang pernah membuat dadaku berdegub kencang, dan gigi-geligi gingsulnya yang seringkali membuat lututku hilang daya berpijak, atau binar matanya yang membuat mataku malas berkedip. Lelaki itu datang dengan membawa bahagia di hatinya, dan mungkin ingin membaginya denganku. Mungkin.

Ia tergesa-gesa hingga beberapa lembar kertas yang dibawanya tercecer di lantai. Saat itu kedai sedang ramai, aku memintanya menunggu hingga pengunjung sepi baru aku akan mendengar seluruh kebahagiaan yang ingin ia bagi padaku. Mungkin.

Malam beranjak, lelaki berlesung pipi itu masih setia menungguku. Beberapakali matanya yang serupa almond melirik ke arahku, seperti ingin mengatakan ketidak-sabarannya membagi cerita bahagia yang berdentam-dentam dalam dadanya. Pukul sepuluh malam, kedai seharusnya belum tutup. Kalau saja Om Teddy tahu, mungkin aku akan dimarahi. Tetapi aku juga seperti lelaki berlesung pipi yang tengah duduk di meja nomor tiga itu, ia tak sabar membagi cerita bahagia di dadanya, sementara aku tak sabar mendengar cerita bahagia itu menelusup ke liang telingaku dan kemudian menyebar ke seluruh tubuhku. 

Aku duduk di hadapannya sesaat setelah beberapa kursi di kedai itu aku rapikan dan mematikan sebagian lampunya, hingga wajah kami yang saling menatap hanya diterangi cahaya dari lampu-lampu jalan. Tetapi aku masih bisa melihat sepasang lesung pipi itu dan selengkung senyum di bibirnya. Ah, aku jatuh hati kembali dengan lelaki di hadapanku seperti saat pertama kali bertemu. Perutku dipenuhi ribuan kupu-kupu. Kemudian saat aku masih menahan geliat kupu-kupu di perutku, lelaki itu menjulurkan tangannya dan menggapai telapak tanganku yang kuletakkan di atas meja. Ia menggenggamku, erat. Matanya yang seperti almond menjatuhkan tatapnya ke mataku, manik matanya bergerak begitu lincah seperti mencari-cari sesuatu di mataku. Lalu ia menarik napas dalam-dalam, dan menghelanya sambil melepas tatapnya dari mataku. Feeling-ku berkata ada sesuatu yang tak beres. Gurat di wajahnya tiba-tiba berubah, semringah yang sore tadi ia bawa ke kedai ini sekarang entah di mana. Kini berbalik, aku yang menggenggam erat tangannya.

“Ada apa?” tanyaku, penasaran sekaligus cemas berkecamuk di dada.

“Entah ini berita bahagia untukmu atau bukan, Dilla. Aku akan ke London,” sahutnya.

Tiba-tiba kupu-kupu yang sejak tadi bergeliat di perutku berhamburan keluar melalui mataku.

“Kamu menangis? Maafkan aku,” tambahnya.

“Maaf? Untuk apa? Ini air mata bahagia Agil. Kamu ke London untuk melanjutkan kuliahmu kan? Aku bahagia. Sungguh!” ucapku sambil menyeka air mata.

Semoga Agil mempercayai aku bahagia untuknya, sesungguhnya aku takut. Aku takut kelak rindu menyergapku lebih sering daripada sekumpulan kupu-kupu yang bertandang ke perutku. Saat ini saja, saat Agil tak tampak datang ke kedai berhari-hari aku sudah sedemikian rindu.

“Ya, seperti yang telah aku ceritakan padamu, Dilla, aku ingin jadi Arsitek yang hebat. Kemarin aku mendapatkan beasiswa berkuliah di London. Tetapi bukan itu saja, aku juga ingin mencari Farah di sana. Aku sudah tak sabar!” jawabnya dengan berbinar-binar, sementara aku tertegun, apalagi ia menyebut nama Farah. Perempuan yang pernah meninggalkan luka di hatinya. Ah barangkali itu bukan luka, itu candu baginya.

Hujan membawa kenangan purba ke kedai ini, sudah berbulan-bulan sejak kepergiannya aku mulai terbiasa memperbincangkannya bersama keheningan malam dengan secangkir cokelat hangat sehabis kedai ini kututup, dan mungkin kaktus-kaktus yang tertata rapi di dekat jendela berkaca lebar itu mulai bosan mendengar celotehku tentang lelaki berlesung pipi. Aku merindukannya? Entahlah, sebulan hingga tiga bulan pertama, aku memang begitu merindukannya. Namun setelah setahun berlalu, perasaan rindu ini berubah jadi sesuatu yang membuatku ragu. Kini aku menunggunya mungkin bukan untuk sebuah kerinduan, tapi untuk sebuah kejelasan. Sehari sebelum keberangkatannya ke London ia memintaku menunggunya, kini aku sudah lama kehilangan kontak dengannya, mungkin ia sudah menemukan sesuatu yang dicarinya di kota London. Farah. Mungkin.

                                                                             *

“Agil Dewanto,” Risma, temanku, memergokiku memandangi lelaki yang tengah duduk di meja nomor tiga.

“Hah! Apa, Ris?” ucapku tersentak.

“Cowok yang itu kan? Iya, namanya Agil Dewanto. Kosannya sebelahan sama kos gue. Mau gue kenalin?”

“Apa sih, Ris, udah deh. Tuh kan orangnya ngeliatin kita,” sahutku tersipu.

Lelaki itu berbalik memandang dan tersenyum ke arahku dan Risma. Mungkin ia merasa tengah kami perbincangkan. Dan tiga detik senyumnya itu begitu melekat dalam ingatanku. Mengingatnya kembali, membuat degub dadaku kembali tak beraturan. Semalaman aku tak nyenyak tertidur, seperti ingin menjemput matahari dan menerbitkannya di ufuk timur, lalu kembali bertemu dengannya di kedai kopi dan ia kembali tersenyum padaku. Ah, apakah ini yang dinamakan jatuh hati? Di perutku semacam ada kupu-kupu yang bergeliat.

Keesokan harinya, lelaki itu tiba-tiba sudah ada di hadapanku. Astaga, aku belum mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan seperti ini semalam.

Medium Caramel Machiatto satu, dan Beef Burger satu,” ucap lelaki itu, sementara aku masih tertegun.

“Halo… Halo… Medium Caremel Machiatto satu, dan Beef Burger satu,” ucapnya, sekali lagi.

“Oh, iya, iya, Maaf,” sahutku, sembari mengetik pesanan lelaki itu di meja kasir. Grogi.

“Lho, sendirian. Biasanya di front berdua sama Risma?” tanyanya.

“Ternyata selama ini dia juga sering memperhatikan aku,” gumamku. “Risma, biasanya datang agak siangan. Kamunya mungkin yang datang kepagian,” sahutku.

Apa? Kamunya mungkin yang datang kepagian? Sok akrab sekali kau Dilla. Kupukul jidatku sendiri berkali-kali.

“Kenapa, kamu sehat? Kok jidatnya dipukul-pukul gitu. Oh iya, masih jam sebelas.”

“Nggak apa-apa, sehat kok. Silakan ditunggu sebentar,” kataku sambil menyerahkan struk pembelian.

Seperti biasa lelaki itu duduk di meja nomor tiga dekat jendela kaca. Ya, aku pun suka duduk di sana sesaat sehabis menutup kedai ini. Di sana spot yang bagus untuk melamun, keriuhan jalan raya, taman di seberang yang tiap sore penuh dengan anak-anak yang bermain, dan lampu-lampu hias juga lampu-lampu jalan yang menerangi. Perfect.

Lelaki itu tampak serius sekali mencorat-coret kertas yang ada di hadapnya, namun sesekali matanya memandangi ke arah jalan raya, seperti ada sesuatu yang ia jaring di sana. Sesaat kemudian matanya tertuju ke arah pintu masuk, dan tersenyum. Seorang gadis berkacamata dengan kaki jenjang menangkap senyum itu dan kembali melemparkan padanya. Siapa gadis itu? Selangkah, dua langkah, tiga langkah, akhirnya gadis itu sampai ke tempat di mana lelaki berlesung pipi itu duduk. Dan disambut dengan kecupan di pipi oleh lelaki itu, mesra. Apa ini? Inikah yang dinamakan cemburu? Ketika sesuatu yang bergenang di mata tapi tak bisa keluar, ketika dada begitu terasa sesak. Ah, siapa gadis itu?

“Namanya Farah, Farah Dewi. Dia ceweknya Agil,” ucapnya Risma.

“Ah, elo Ris, ngagetin gue mulu. Eh tuh orderan bawa ke meja nomer tiga.”

“Yeee, elo sih, lagi kerja ngelamun mulu. Gue bilangin Om lo baru tahu rasa,” sahutnya.

“Udah, itu orderan bawa!”

“Kok gue?!”

“Iya, karena elo TELAT!”

“Yeee, biasanya juga gitu. Hmm, ada yang jealous nih. Ciyeee… Baiklah, baiklah, baiklah.” Risma meledekku.

Apa? Aku cemburu? Masa sih? Hah, tetapi mungkin saja apa yang dikatakan Risma ada benarnya, gadis berkaki jenjang dan berkacamata tadi siang itu benar-benar mengganggu mood-ku seharian. Lalu atas dasar apa aku harus cemburu padanya? Gebetan bukan, pacar apalagi. Aku cuma seorang pengagum rahasia. Dan mengagumi diam-diam seseorang itu benar-benar tidak enak. Mungkin besok aku akan meminta bantuan pada Risma untuk berkenalan dengannya, kos Risma dan lelaki itu kan bersebelahan, jadi biasa ku jadikan alasan. Lalu setelahnya kalau ada kesempatan merebutnya, kenapa tidak kulakukan. Ah, tidak, tidak, Dilla. Kau tak se-rendah itu menikung pacar orang lain. Ingat karma Dilla. Hmm, Tetapi apa salahnya berkenalan dengannya. Lagi, aku tersenyum sendiri mengingat senyuman lelaki berlesung pipi itu tadi siang. Kujatuhkan tubuhku ke tempat tidur, mood-ku kembali pulih, dan kupu-kupu itu kembali bergeliat di perutku.

                                                                             *

Risma menatap mataku dalam-dalam, mencari tahu alasan apa yang membuatku pagi-pagi sekali datang ke kosnya. Risma mengitari tubuhku, ia seperti menemukan kejanggalan dengan cara berpakaianku yang tak seperti biasanya pagi itu. Feminim.

“Hmm… Ada angin apa lo dateng ke kos gue pagi-pagi banget? Pake rok segala lagi,” ujarnya sambil tersenyum. Aku tahu itu senyuman meledek. “Tuh, kosnya Agil. Paling orangnya juga masih tidur,” sambungnya, sepertinya Risma memang sudah mengetahui tujuanku datang ke kosnya.

Aku berbalik dan memandangi rumah berwarna biru, tepat di samping kosnya Risma. Samar-samar terdengar suara gelak tawa dan seseorang yang sedang membuka pintu. Benar saja pintu rumah berwarna biru itu terbuka, dan lelaki berlesung pipi serta beberapa kawannya menampakkan diri. Lelaki itu memakai kaos buntung yang memperlihatkan otot-otot di lengannya. Lututku bergemetar.

“Kenapa lo?” Risma melihat wajahku memerah seperti udang rebus.

“Ris, lo jangan bilang setiap pagi sering melihat pemandangan seperti ini,” sahutku sambil memegang lengan Risma.

“Kenapa sih?” Risma menoleh ke arah rumah sebelah. “Ooo… Biasanya sih mereka main basket setiap sore. Kesempatan nih, yuk sini gue kenalin. Gil, Agil…”

Duh, kenapa Risma memanggil lelaki itu.

“Gil, temen gue mau kenalan sama lo. Tapi biasalah, cewek gengsinya gede,” ucap Risma sembari menoleh ke arahku.

“Mana?”

“Tuh, cewek yang ada di deket pintu. Lo udah sering ketemu kok.”

Agil memandangku dari jauh, dan tersenyum. Lagi-lagi, kupu-kupu di perutku bergeliat. Kini lebih hebat, membuat perutku mulas.

“Woy, sini! Katanya mau kenalan,” Risma meneriakiku.

Ah, sial. Risma membuatku malu, bukan hanya di depan lelaki itu saja, tapi di depan teman-temannya juga. Mau taruh di mana mukaku sekarang. Aku mulai menyesali ide yang semalam kurencanakan ini.

“Hai, aku Dilla,”

“Aku Agil, kita sering ketemu tapi baru kali ini aku tahu nama kamu ya. Hehehe,” ucapnya sambil menjulurkan lengannya. Senyumnya dan otot-otot lengannya yang terlihat itu, kembali membuat perutku mulas.

“Ris, pinjem toilet lo ya? Udah nggak tahan nih,” bisikku pada Risma yang malah terkekeh. Begitupun dengan Agil yang tersenyum-senyum geli melihat tingkahku saat grogi. Ah, kesan yang tidak bagus untuk sebuah perkenalan. Aku malu.

                                                                             *

Sudah tiga hari ini aku tak melihat lelaki itu datang ke kedai. Seperti ada yang hilang dalam hatiku. Hampa. Risma yang kutanyai hanya mengangkat bahu, ia juga tak tahu Agil kemana. Sudah tiga hari ini pula Agil tak terlihat bermain basket. Malam beranjak menjauh, pukul 23.00 setelah karyawan-karyawan di kedai kopi milik Om-ku membantuku membersihkan meja dan kursi, mereka berpamitan pulang.

Satu per satu lampu di kedai itu kupadamkan. Aku tersentak mendapati lelaki itu berdiri di depan pintu kaca yang baru saja kukunci.

“Agil?!”

“Maaf, aku pasti mengagetkanmu. Sudah tutup?” sahutnya dengan wajah lusuh.

“Iya, sudah. Tapi kalau kamu mau minum kopi, aku bisa membukanya dan membuatkanmu kopi.”

Pintu yang hendak kukunci itu kubuka kembali dan mempersilakan Agil masuk. Sementara aku ke dapur untuk membuatkannya kopi, Agil menunggu di meja nomor tiga dekat jendela. Saat itu lampu jalan menjadi satu-satunya penerangan.

“Kamu kenapa, tiga hari ini nggak pernah mampir. Lagi banyak tugas ya?” Secangkir kopi espresso untuknya dan segelas cokelat hangat untukku kuletakkan di hadapannya.

Agil berkali-kali menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dan terkadang tertunduk. Seperti sedang ada masalah yang berat yang sedang ia hadapi. Aku memberanikan menyentuh punggung tangannya, dan menggenggamnya.

“Ada apa? Kalau ada yang mau kamu ceritakan, ceritakanlah,” ujarku. Agil hanya tersenyum dan balik menggenggam tanganku.

“Farah. Farah pergi ke London tanpa memberitahuku, dan hanya meninggalkan sepotong surat ini. Dilla, aku harus bagaimana?” Agil menyodorkan surat yang ditinggalkan Farah, dan sebetulnya aku tak tertarik membaca surat itu. Dalam hatiku justru bertepuk riuh, ada celah untukku masuk ke hidupnya.

“Kamu harusnya senang, Gil. Farah ke London mengejar cita-citanya menjadi Top Model. Kamu sebagai pacar yang baik seharusnya mendukung dia,” jawabku, coba menenangkannya.

“Kami sudah putus,” ucapnya, singkat.

Aha! Peluang itu semakin terbuka. Keep calm, Dilla.

“Lalu apa yang kamu cemaskan? Kamu masih mencintainya?” Ah, pertanyaanku terlihat sekali seperti sedang mengharapkan sesuatu. Semoga ia tak merasa demikian.

“Entahlah…”

Setelah menandaskan secangkir kopi espresso, lelaki itu menyandarkan punggungnya ke sofa dan menengadahkan kepalanya, semacam ingin membuang jauh-jauh kepenatannya.

“Kamu terlihat lelah, Dil. Maaf, aku mengganggu waktu istirahatmu, sebaiknya kita pulang,” ucap lelaki itu sambil berdiri dan merapikan kemejanya.

“Sudah pukul setengah satu. Kosku pasti sudah dikunci, kosmu juga kan?”

“Iya,” lelaki itu kembali duduk.

“Di belakang dekat dapur ada kamar, tempat biasa anak-anak beristirahat. Kamu pakai saja untuk bermalam.”

“Kamu, tidur di mana? Sudah kamu saja yang pakai. Aku tidur di sini saja.”

“Kalau kamu tidur di sini, aku juga tidur di sini,” jawabku.

Dilla, jangan terlihat terlalu agresif. Atau kau justru terlihat murahan dan kehilangan kesempatan. Keep calm, Dilla.

“Baiklah,” lelaki itu berdiri, aku pun berdiri dan ia mengikutiku dari belakang.

Perasaan apa ini, degub di dadaku terasa kian cepat saat melihatnya membuka kemejanya dan menggantungnya di balik pintu, dan Darah di tubuhku seakan terbakar, keringatku menetes di dahi meski AC di ruangan untuk beristirahat ini sudah cukup dingin.

“Dill, kenapa? Hei, Bengong lagi.”

Dia mendekat, sementara aku mematung memandangi wajahnya di dekat kasur lipat. Sekejap wajah lelaki itu sudah ada di depan wajahku, berjarak 10 sentimeter saja, mungkin. Dan kemudian tanpa bisa aku menolaknya, ia mencium bibirku. Setelahnya apa yang terjadi, terjadilah. Nafasku dan nafas lelaki itu saling memburu. Bila waktu bisa berhenti, aku mohon berhentilah, aku ingin menikmati kehangatan malam ini lebih lama dengannya.

                                                                             *

Sudah tiga bulan aku dan Agil menjalin hubungan tanpa status. Aku ingin sekali meminta kejelasan perihal hatiku di hatinya. Tetapi saat hendak menanyakan itu padanya, Agil selalu saja menceritakan kembali kisah kasihnya dengan Farah. Agil belum bisa move on dari Farah, sekeras apa pun aku mencoba mencuri hatinya akan percuma. Aku berharap suatu saat nanti Agil sendiri yang menyerahkan hatinya padaku. Hingga akhirnya hari itu tiba, hari di mana Agil datang ke kedai dengan semringah dan setumpuk bahagia di dadanya.

“Aku akan ke London,” ucapnya kala itu. Ucapan yang menghamburkan kupu-kupu yang bergeliat di perutku keluar melalui mataku. Aku tahu, ia ke London bukan untuk sekadar berkuliah di bidang Arsitektur saja seperti impian-impiannya. Tetapi juga untuk menemui Farah.

“Aku akan kembali ke Jakarta di musim panas tahun ke dua, sabar ya. Aku juga sudah bertemu dengan Farah, ia sudah jadi Top Model,” tulisnya dalam postcard terakhir yang ia kirim tiga bulan setelah kepergiannya ke London. Semakin memupuskan harapanku.

Siang tadi, aku mendapat sebaris pesan singkat dari nomor yang tak kukenal. Pesan itu mengatakan, seseorang ingin menemuiku malam ini di kedai. Seseorang itu tak lain adalah Farah, kami berbincang hingga larut. Perbincangan itu membawa mendung ke mata kami masing-masing. Farah bercerita, saat itu Agil merencanakan pulang ke Jakarta tepat hari ini. Ia telah membeli tiket jauh-jauh hari. Naas, setelah membeli tiket dan mengantarkan Farah ke tempat Fashion Show, mobil yang dikendarainya ketika hendak pulang mengalami kecelakan beruntun. Agil meninggal tiga hari kemudian di rumah sakit dan jenazahnya tak dibawa pulang ke Indonesia, ia dikremasi. Malam sebelum ia meninggal, ia menyerahkan pada Farah selembar puisi yang pernah aku kirimkan untuknya. Sebenarnya itu bukan sekadar puisi, itu ungkapan hatiku yang tak lagi mampu menunggunya. Farah pun menyerahkan sebagian abu jenazahnya padaku. Sebagian yang lain sudah dilarung oleh keluarga Agil di Surabaya.

Hujan bukan lagi deras di luar, tapi juga di dalam kedai ini, di mata dua orang wanita yang mencintainya. Sebelum beranjak meninggalkanku dan kesedihan yang masih bergenang di dadaku, Farah memelukku erat.

“Aku menyesal, Dilla. Andai saja hari itu ia tak bersikeras mengantarku, malam ini ia ada di sini bersamamu. Agil sangat mencintaimu, Dilla. Kau tahu, tak ada barang sejenak, ia tak menceritakanmu padaku, terkadang aku suka cemburu karenanya,” ucap Farah sambil menyeka air matanya.

“Sudahlah,  Farah. Aku yakin kok, saat ini Agil bersama kita, mendengar perbincangan kita. Agil pun mencintaimu Farah. Ia juga selalu menceritakanmu. Sama sepertimu, aku juga sering merasa cemburu,” sahutku.

“Ya, aku tahu, yang kuat ya,” Farah menepuk bahuku dan berlalu meninggalkanku.

Hujan menderas dan di bawah lampu-lampu jalan, aku melihat bayang-bayang wajah lelaki itu tersenyum padaku.

Tungguku-pun tak lagi mampu bertahan selama waktu. Sebab abadi hanya sebatas kata, bukan cintamu yang entah untuk siapa

Bait terakhir dari puisi yang kukirim untuknya, kini aku tahu jawabnya. Cintamu abadi di hatiku, tak lagi sebatas kata. Entah cintamu itu untukku ataupun untuk Farah, aku tak peduli. Kau abadi dalam hatiku, Agil.

Kukecup botol tempat sebagian abu jenazah Agil ditaruh, lalu bayang-bayang itu menghilang tertelan deras hujan.

                                                                           ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s