Dunia Kinanti

Aku ingin mencintaimu serupa detik-detik jarum jam yang tak pernah berniat berhenti berputar. Kau ialah diorama surga dalam hidupku. Di ujung sudut matamu yang terkatup sesaat setelah kuucapkan selamat tidur, pernah kusematkan mimpi-mimpi indahku di sana. Kini terjagalah dan gapai semua bahagiamu, Kinanti. —  Narendra Wisnu.

Beberapa kalimat yang tertulis di halaman terakhir di buku agenda milik Bunda yang kutemukan di dalam lemari tua begitu menohok perasaanku. Air mataku meleleh, tak lagi mampu kutahan. Entah perasaan apa yang membawaku tenggelam sedalam itu. Kuletakkan kembali buku Agenda itu ke tempat semula.

*

Senja pukul lima kala itu begitu jingga. Terpias dari mata seorang gadis muda. Di matanya aku menemukan serangkaian barisan mimpi-mimpi yang berpendar menyerupai gugusan rasi bintang yang memandu nelayan pulang ke rumah. Aku nelayan itu. Sementara di tangannya, begitu erat ia menggenggam dunia yang selalu ia percayai membawa bahagia. Dunia yang serupa lubang hitam. Menarikku dan membuatku tak pernah dapat keluar. Kinanti Arayadewi, nama gadis muda itu. Aku menyukainya. Namun sebelum rasa itu membesar menjadi monster akan membunuhku, aku ingin membunuhnya lebih dahulu. Kinanti terlalu mewah untuk memenuhi relung hatiku. Kinanti terlalu berwarna untuk hitam-putih duniaku. Kinanti terlalu cantik untuk kulukai dengan kesedihan-kesedihan yang tak pernah lesap dari hari-hariku.

Senja pukul lima kala itu serupa adegan slow motion dalam film action romantis yang pernah kutonton bersamanya di bioskop dekat kampusnya. Terlambat, monster yang hendak kubunuh itu telah membesar dan tak lagi bisa kukendalikan. Perhatian-perhatian kecil Kinanti terhadapku adalah makanan terlezat bagi monster itu. Dan pada akhirnya, aku menyerah, monster itu mengurungku di dalam bibir delima Kinanti yang kukecup.  Singkatnya setelah senja kala itu, aku dan Kinanti bukan lagi sekadar sahabat berbagi cerita. Kami sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara.

Malam bergelayut, sementara angkutan kota menuju rumahnya sudah tidak ada. Aku dan Kinanti menyusuri jalan-jalan yang telah sepi. Lampu-lampu kota serupa mata-mata yang iri memandangi kami. Bayang-bayang sepasang anak manusia yang kasmarang timbul tenggelam.

“Kita mau kemana?” tanyanya sambil menelusupkan kepalanya ke dadaku.

“Pulang,” sahutku singkat. Kinanti mengeryitkan dahi. “Kita pulang. Aku nggak mau kembali membuat masalah dengan ayah-ibumu. Aku mengajakmu pergi saja sudah sebuah kesalahan, Kinanti,” sambungku.

Kinanti menghentikan langkahnya.

“Aku lelah, Nu. Aku ingin hidup dengan pilihan-pilihan hidupku sendiri. Dari dulu, aku selalu mengikuti kata mereka. Sampai-sampai hal itu membuatku tak memiliki teman. Untung saja ada kau yang memperkenalkanku dengan adik-adik asuhmu di Panti. Duniaku perlahan berubah. Aku nggak mau pulang. Bawa aku pergi, Nu. Kemanapun kamu pergi.”

“Kinanti, dengarkan aku. Apa yang tadi sore aku ucapkan, mungkin sebuah kesalahan terindah. Tak seharusnya ada ‘kita’. Sebab itu biarkan aku membayar kesalahan itu.”

“Apa, apa yang akan kamu lakukan, Nu?”

Aku tak menjawab pertanyaan Kinanti tersebut hingga suatu hari Kinanti tahu apa bayaran yang pas untuk sebuah kesalahan terindah.

*

Aku dan Kinanti berpamitan dengan adik-adik asuh di Panti. Bu Laras, berkali-kali mengingatkan untuk membatalkan rencana kami. Namun apa daya, monster ini telah tumbuh besar, aku tak lagi bisa melawannya. Kinanti memang terlalu mewah. Terlalu berwarna, dan terlalu cantik untukku. Tetapi aku mencintainya, kami saling mencintai. Salahkah kami memperjuangkan cinta yang tumbuh di hati kami? Entahlah, aku tak ingin membenarkan tindakanku. Namun ini satu-satunya cara yang mampu bisa kulakukan. Aku tak ingin menghancurkan dunia yang ada dalam genggaman Kinanti, yang selalu ia percayai akan membuatnya bahagia. Dunia yang tak lain adalah aku.

Setelah mengemas barang-barangku. Aku meninggalkan panti yang telah membesarkanku, juga Bu Laras yang telah memberiku kasih sayang tanpa batas selama 25 tahun.

Kereta senja telah menanti di peron stasiun. Aku dan Kinanti sebetulnya tak punya tujuan inginpergi  kemana. Kami hanya mempercayai bahwa nasib baik akan membawa kami ke tempat di mana seharusnya cinta tumbuh tak serupa monster. Sore itu cuma tersisa tiket menuju Semarang. Kami membelinya. Semarang, kota yang asing bagiku tentu juga bagi Kinanti.  Di kota itu walaupun sesulit apapun, aku percaya bersama Kinanti semua akan terasa mudah.

Sesampainya di Semarang, kota yang asing, kami susah payah mencari kontrakan yang murah. Sekalipun menemukan yang murah, pemiliknya tak mengizinkan kami. Sebab aku dan Kinanti belum menikah. Syukurlah sebelum hari beranjak malam, ada sebuah rumah yang dihuni sepasang kakek-nenek memberi izin kami tinggal. Mereka tinggal di rumah itu hanya berdua saja bersama seorang pembantu. Anak-anak mereka telah menikah dan memilih tinggal di rumahnya masing-masing. Malam itu, aku dan Kinanti tidur dalam satu kamar. Kinanti memintaku tidur bersama dirinya di ranjang. Tetapi aku memilih tidur di lantai, bersebelahan dengan ranjangnya.

“Besok, kamu bilang sama Mbah Darmo ya, Nu. Tolong jadi wali nikahku. Aku ingin menikah denganmu,” ujarnya.

“Iya, semoga Mbah Darmo mau,” sahutku sambil mengecup kelopak matanya yang sudah mengantuk.

Pagi itu segera kutemui Mbah Darmo yang tengah memandikan burung-burung perkututnya. Aku berkata padanya ingin menikahi Kinanti dan berharap ia mau jadi wali nikahnya. Mbah Darmo menolak, bikan karena tak mau tapi karena syariat agama mengatakan yang boleh menikahkan hanya ayah kandungnya atau orang lain yang diberi kuasa oleh ayah kandungnya. Kinanti hanya bisa menangis, dan aku bisa berbuat apa-apa. Mbah Lastri, istri Mbah Darmo menenangkan Kinanti, ia pun membujuk Mbah Darmo mau menjadi wali nikah kami.

Wis tho Pak. Nikahkan mereka, daripada mereka berbuat zina,” ujar Mbah Lastri. Mbah Darmo sejenak merenung.

“Engko, sik. Aku meh takon Ustad Syarief Ndisik,” sahutnya, dan bergegas pergi menuju rumah ustad yang dimaksud.

Tak beberapa lama Mbah Darmo kembali ke rumah dengan membawa kabar bahagia. Malam harinya aku menikah dengan Kinanti dengan kendurian sederhana dan ustad syarief didapuk menjadi penghulunya.

*

Tiga bulan berlalu. Kota asing ini telah menjadi tempatku meyandarkan hidupku bersama Kinanti. Aku berkerja sebagai OB di sebuah Bank swasta, sementara Kinanti bekerja menjadi penjaga toko sepatu. Kami hidup bahagia, walaupun dengan uang yang pas-pasan. Dan kebahagiaan itu bertambah ketika Mbah Lastri mengatakan padaku bahwa Kinanti tengah hamil.

9 bulan 10 hari, aku menunggu buah cintaku dengan kinanti. Begitu pun Mbah Darmo dan Mbah Lastri yang telah menganggap kami anak sendiri. Hari menjelang dini ketika suara tangisan mungil itu memecah ruang persalinan. Matanya bulat berwarna cokelat, mirip mata ibunya yang menyimpan gugusan bintang di dalamnya. Cantik. Aku dan Kinanti bersepakat menamai buah cinta pertama kami dengan Ayu Mayang Kharisma.

Waktu gegas, usia Mayang saat itu dua tahun. Rupanya keberadaan aku dan Kinanti di Semarang sudah tercium oleh orang tua Kinanti. Orang tua Kinanti menyuruh orang suruhan untuk menjemput Kinanti, juga Mayang. Dan senja itu aku menemukan kembali senja yang lebuh jingga di mata Kinanti, saat itu pula pertemuan terakhirku dengan Kinanti.

*

Di sebuah shelter kawasan pasar senen aku menunggu bus transjakarta yang urung tiba. Pagi itu untuk pertama kalinya sejak 20 tahun aku menjejakkan kakiku kembali ke kota Jakarta. Tujuanku ke kota ini tak lain ingin mengunjungi Panti Asuhan tempat dulu aku dibesarkan. Bu Laras sudah terlampau tua untuk mengurus Panti itu. Sudah saatnya aku meneruskan mengurus segala tetek-bengek panti itu.

Selain mengurus panti, beberapa hari ini aku mencari tahu keberadaan Kinanti. Rumahnya yang dulu, menurut adik asuhku yang masih tinggal di panti, telah dijual. Kinanti hilang jejak. Namun beberapa waktu lalu ada perempuan muda, menurut Bu Laras, senyumnya mengingatkannya pada senyum Kinanti. Dengan ingatan rapuhnya, Bu Laras coba kembali mengingat-ingat, lalu menyebut nama Ayu Mayang Kharisma.

“Dia anakku, Bu. Dia anakku. Di mana dia sekarang?”

*

Aku kembali mengambil Agenda itu, lalu kumasukan dalam tasku. Aku menuju kamar Bunda, dan mengecup keningnya. Dengan nada lirih Bunda bertanya mengapa aku tergesa-gesa.

“Aku ingin membawa kembali dunia Bunda yang hilang. Selama beberapa tahun ini aku bertanya, mengapa Bunda tak seperti ibu-ibu yang lain. Aku tak melihat pendar berseri dari wajah Bunda seperti foto yang pernah Bunda tunjukan padaku. Foto Bunda saat masih berkuliah dulu. Aku mencari tahu Bunda. Sampai akhirnya aku menemukan sebuah alamat di salah satu foto Bunda bersama lelaki yang tidak aku kenal. Alamat sebuah panti asuhan. Tanpa sepengetahuan bunda aku datang ke sana. Bunda masih ingat dengan Bu Laras? Beliau menceritakan semuanya dan Beliau juga memberitahuku siapa lelaki di foto itu. Dia Narendra Wisnu. Dan siapa Narendra Wisnu itu? Aku baru menemukan jawabannya di sini, Bunda.” ujarku sambil mengeluarkan Agenda berwarna cokelat dari dalam Tasku.

Air mata Bunda meleleh, sama seperti saat aku menemukan agenda itu pertama kalinya. Aku memeluk Bunda dan berjanji akan membawa lelaki itu kembali.

*

“Ayah?”

Aku menoleh mencari sumber suara itu. Dan manik mataku terjatuh pada satu sosok perempuan yang tengah berdiri di depan pintu kamarku. Wajah mengingatkanku pada Kinanti. Perempuan muda itu mendekat, semakin dekat aku semakin mengenali meski tak bertemu hampir 20 tahun Mata Mayang yang bulat dan berwarna cokelat tak pernah lekang dari ingatanku. Kupeluk erat anak gadisku, Ayu Mayang Kharisma.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s