Kau yang Masih Tegak Berdiri dalam Ingatanku

Kepada Tanaya Wirasti

Tanaya Wirasti, dadaku masih berdegub kencang bila menyebut nama itu. Padahal waktu telah gegas berlalu hampir sewindu. Tahi lalat di dagumu dan senyum di bibir tipis yang kerap kau pulas dengan warna jingga kerap memulangkanku pada rumah kenangan.

Tanaya, masihkah kau ingat pada pria malang ini? Pria yang pernah begitu ingin menjadi satu-satunya alasan kau pulang, pria yang selalu mencemaskan setiap ketidak-bahagiaanmu, pria yang masih menyesali keputusannya meninggalkanmu sendiri. Bukan, bukan maksudku mengingatkanmu pada luka yang pernah kutoreh di hatimu, Tanaya. Sungguh.

Akhir-akhir ini, Tanaya, kau sering sekali berkunjung dalam mimpiku. Dengan gaun warna perak bermotif bunga-bunga dan bandana senada gaun yang kaukenakan, kau menari-nari di antara rerimbun ilalang. Kau tampak anggun, Tanaya. Hal itu mengingatkanku kembali pada sehari sebelum aku memutuskan pergi. Maaf bila aku pergi tanpa memberitahukanmu terlebih dahulu. Tanaya, aku tak pernah sanggup melihat air matamu terjatuh karenaku. Aku pengecut? Memang Tanaya, kau boleh mengatakan demikian. Bilapun kau ingin mencaci-maki diriku, lakukanlah, aku tak lagi punya pembelaan diri.

Tanaya, aku coba memahami setiap mimpiku yang kerap kau datangi. Entahlah, inikah yang disebut kerinduan? Namun rasa-rasanya tak adil bagimu bila kusebut ini sebuah kerinduan. Aku hanya ingin membayar seluruh kesalahanku, semua kekeliruanku padamu, Tanaya. Sebelum… ah, lain kali saja aku ceritakan padamu perihal ini dan alasan mengapa aku meninggalkanmu.

Tanaya, tak ada hal yang kulakukan tanpa pemikiran terlebih dahulu. Hal yang pernah membuatmu jengkel ketika kau mengajakku kabur dari rumah dan aku menolaknya. Ya seperti itulah, aku pergi darimu pun dengan pemikiran-pemikiran yang matang, Tanaya. Aku tak berharap kau dapat memahami hal ini, karena aku tahu ini sulit kau terima.

Tanaya, malam telah menjemput kantukku. Di kotaku, entah mengapa hari begitu cepat berlalu. Seperti yang kukatakan, surat ini bukan ingin kembali memantik nyala luka di hatimu, Tanaya. Aku cuma ingin berdamai dengan masa laluku. Maaf jika itu terasa tak adil bagimu, Tanaya. Maaf…

 Tertanda,

Raka Banyu Saseno.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s