Surat Kepada Pemilik Awan Merah Jambu

Kepada Ieda Teddy

Gegas waktu berlalu bagai bulan berjingkat di atas atap rumah yang tiba-tiba hilang dan kembali tanpa tersadari. Pernahkah kau mengamati perpindahan bulan dari hari ke hari, dari mati ke purnama? Ya, aku tahu kau tak lagi memiliki banyak waktu untuk hal yang remeh-temah semacam itu. Atau mungkin perkiraanku ini salah. Barangkali kau justru lebih sering memandangi langit, tempat di mana angan-anganku tentangmu kugantung di sana. Dulu. Dan tempat kau meletakkan sekarung gulali merah jambumu.

Apa kabar dengan gadis kecilmu? Usianya sudah memasuki bulan ke enam, bukan? Aku suka sekali dengan senyumnya, mirip dengan senyummu. Maka tak heran-lah banyak orang yang menyukainya. Seperti namanya, Nareshwari yang berarti Ratu, ia telah jadi Ratu di hati masing-masing orang yang dibahagiakan melalui senyumnya. Entah siapa yang paling beruntung, kau yang memilikinya atau ia yang memiliki Bunda hebat sepertimu.

Jika rindu katakanlah, karena orang yang kau rindukan pantas untuk mengetahuinya. Kata-katamu dulu, masih terekam jelas di kepalaku. Kini aku tak lagi bisa sesering mungkin membuatkanmu puisi ataupun surat, ejawantah dari percik-percik rindu yang tanpa sadar aku masih menyimpannya. Aku tahu, kau pun tak terlampau mengharapkan aku melakukan hal demikian lagi. Perihal yang sudah lewat. Sekarang saat rindu datang berkunjung lebih sering, tak ada yang bisa kulakukan selain membaca kembali tulisan-tulisanmu. Kau tahu, itu obat yang paling mujarab. Ngomong-ngomong tentang tulisan, aku tak sabar membaca buku keduamu. Sudah sampai mana draft-nya? Inilah alasannya kenapa kukatakan kau ‘Bunda Hebat’, selain sebagai ibu kau begitu pandai membagi waktu antara sebagai penulis dan menjadi wanita karier. Sungguh beruntung Ilalang memiliki belahan jiwa sepertimu.

Ieda, ijinkan aku sekali ini kembali mengatakan aku rindu kau. Kau tahu, saat aku merindumu lebih sering dari biasanya aku suka memandangi langit sore berharap senja ungu yang kau sukai itu muncul di ufuk langit kotaku dan setelahnya kembali berangan-angan tentang awan merah jambu, rumah bagi segenap mimpimu. Aku ingin terus berada di sana, menekuri aktivitasmu dengan gadis kecilmu dan Ilalang tentunya. Merekam rona bahagia yang terpancar dari keluarga kecil kalian. Aku masih ingin jadi cinta yang baik untukmu, Ieda. Karena cinta yang baik adalah doa yang terbaik.

Selamat menjalankan aktivitasmu hari ini. Salam untuk Nareshwari dan Ilalang.

Tertanda,

Catur Indrawan.

2 thoughts on “Surat Kepada Pemilik Awan Merah Jambu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s