Pria dan Perempuan Kesayangannya

Pria, mungkin hatinya dapat terbagi-bagi. Tetapi tidak dengan pikirannya. Di sanalah, di dalam pikirannya bersemayam perempuan yang paling dicintainya setelah Bundanya. Perempuan yang kerap memantik rasa kesah dan juga mampu memadamkan cemasnya.

Berlusin-lusin surat yang tak pernah ia kirimkan pada perempuan itu telah memenuhi laci di kamarnya. Kotak rahasia yang tak boleh seorangpun membukanya. Pernah suatu kali Bundanya membuka kotak rahasia itu, dan dengan jahilnya ia membacanya. Sejak saat itulah ia selalu mengunci kotak rahasia di samping meja komputernya itu.

“Kau tak takut karma, Pri?” tanya perempuan kesayangannya.

“Karma? Kenapa memangnya. Ada yang salah denganku?”

“Kamu sadar nggak, kamu sudah memberi harapan pada beberapa wanita. Harapan bagi seorang wanita itu seperti gulali, kau tak bisa memberinya sesering itu, bisa sakit gigi mereka. Dan mungkin juga bolong.”

“Salah mereka lah, kenapa mereka nggak sikat gigi,” jawab Pria, datar.

“Ah, dasar kamu!”

Balkon yang menghadap terbenamnya senja menjadi saksi bisu bagaimana Pria kerap susah payah meredam getaran di dadanya. Dan biasanya getarannya kian menjadi-jadi tatkala rambut panjang perempuan kesayangannya itu dimasaikan angin, dan dengan lentik jemari perempuan kesayangannya itu merapikan rambutnya. Pria menyebut itu sebagai momen puitik. Ia pernah membuat puisi dari momen itu, berjudul Repetisi Senja. Puisi yang ditujukan untuk perempuan kesayangannya. Namun bukan mendapat pujian, Pria malah ditertawakan.

“Lelaki menye-menye! Buat ngegombali perempuan mana lagi tuh. Hih, aneh, bisa-bisanya gitu perempuan kepincut dengan puisi picisanmu,” rutuk perempuan kesayanganya.

Senja telah terbenam, malam datang menimang. Rumah perempuan kesayangannya tak jauh memang, hanya berjarak tiga blok dari rumah Pria. Tapi Pria seperti tak ingin berjauhan dengannya, ia selalu berusaha mengantarnya, sekalipun perempuan kesayangannya menolaknya, Pria selalu mencari alasan untuk bisa mengantarnya hingga ke depan pintu gerbang rumah perempuan kesayangannya.

*

Pukul 16.30 seharusnya perempuan kesayangannya sudah berada di sampingnya, menikmati cemilan cookies buatan Bunda Pria dan secangkir teh hangat sudah terhidang seperti sore-sore yang lalu. Hari cerah, senjanya pasti akan jauh lebih jingga, syukur-syukur berwarna ungu. Senja ungu adalah senja kesukaan perempuan kesayangannya. Tapi perempuan kesayangannya tak jua menampakkan hidung bangirnya.

“Lho, Puan, Ndak datang, Pria?” tanya Bunda sambil membawa kue timus, kue yang terbuat dari singkong dan gula kelapa yang direbus, kesukaan perempuan kesayangannya. Bundanya mengira perempuan kesayangannya sudah datang.

“Nggak, tau, Bunda.” sahut Pria sambil meneropong langit menggunakan teleskop hadiah ulang tahun dari perempuan kesayangannya beberapa tahun lalu.

“Hmm… Etapi sih tadi kayaknya Puan pergi deh, Pri.”

“Pergi, Bunda? Sama siapa? Kok nggak bilang aku sih.” Pria terhenyak, karena tidak biasanya perempuan kesayangannya pergi tanpa mengabarinya.

“Bunda ndak tahu sama siapa. Tapi tadi yang jemput cowok, pake mobil Jazz warna kuning. Teman kuliahnya mungkin. Atau pacarnya. Sabar ya, Pri…” Bundanya meledek sambil menepuk bahu Pria.

Ya, cuma Bundanya yang tahu perihal rahasia di dalam pikirannya Pria. Sekalipun Pria sering mengajak cewek gebetannya main ke rumah, Bundanya paham betul kalau cuma ada perempuan kesayangannya yang ada di pikiran Pria.

“Ah, Bundaaa…”

Pria mengambil ponselnya dan membuka aplikasi chatting. Tertera Last Seen 16.00 di kontak perempuan kesayangannya. Pria menuliskan sebaris kalimat, namun ia menghapusnya kembali dan meletakkan ponselnya lagi. Perempuan kesayangannya memang selalu berhasil memantik rasa cemasnya, bukan sekali ini saja perempuan kesayangannya menyalakan unggun cemas di kepala Pria. Saat perempuan kesayangannya diputus oleh kekasihnya, Pria mencarinya sampai mengelilingi Kota Jogjakarta. Dan ternyata perempuan kesayangannya ia temukan tengah melamun sendirian di Pantai Glagaharjo, pantai di mana Pria sering menyendiri kala ia tak memiliki ide dalam membuat tulisan.

Pria mengenakan jaketnya dan beranjak dari balkon kamarnya, meninggalkan kue timus dan teh yang masih hangat terhidang di meja.

“Pri, mau kemana?” tanya Bundanya yang tengah menonton sinetron bersama adiknya.

Pria tak menjawab, ia segera bergegas ke garasi dan pergi ke rumah perempuan kesayangannya dengan menggunakan sepeda fixie milik sang adik.

“Woiii kak, mau dipake sebentar lagi itu kaaaaakk… Yahh, Bundaaa.” Rengek sang adik.

*

“Iya sorry… sorry… aku lupa ngabarin kamu. Udah dong ngambeknya. Nih, aku bawain kripik singkok ekstra pedas kesukaan. Udah ya…” rayu perempuan kesayangannya.

“Dari semalam tuh, Puan, bibirnya merengut gitu.” Bundanya menimpali sambil membawakan sepiring serabi solo. “Dimakan, Puan, kemarin Bunda buatkan Timus kamu ndak datang,” sambung Bundanya

“Aduh, Bunda, pake repot. Kayak Puan siapa aja deh. Iya, kemarin om kecelakaan. Puan buru-buru jadi nggak sempet ngabarin Pria dan ponsel Puan juga tertinggal di rumah.”

“Terus, Om kamu sekarang bagaimana keadaannya?”

“Puji Tuhan, sudah baikan kok, Bunda.”

“Syukurlah, Bunda tinggal ke dapur dulu ya. Puan nanti makan malam di sini saja ya, tante juga paling sedang di rumah sakit nungguin Om, kan?”

Perempuan kesayangannya mengangguk. Kebetulan di rumahnya tak ada yang masak, simbok pulang kampung, sementara Tantenya seperti yang dikatakan Bunda Pria sedang berada di Rumah Sakit.

Senja kali ini tak biasa. Hening tiba-tiba terselip di antara Pria dan perempuan kesayangannya. Di dalam kepala Pria masih bergeliat separuh pertanyaan yang tak terjawab. Begitupun di dalam kepala perempuan kesayangannya. Beberapa jenak perempuan kesayangannya menunggu mulut Pria bersuara, sampai akhirnya ia mengerti itu hal yang sia-sia. Sudah hampir sepuluh tahun mereka berteman, perempuan kesayangannya hapal betul dengan sikap Pria. Pria adalah lelaki yang jarang sekali menunjukkan rasa amarahnya, kalau saat ini ia diam, barangkali itu puncak dari segala amarahnya. Cuma dirinya sendiri yang dapat meredam. Marah, marah untuk apa? Adalah hal lain yang kerap terpikir di kepala perempuan kesayangannya. Untuk karena tidak mengabarinya? Bukankah tadi ia sudah menjawabnya, perempuan kesayangannya itu terburu-buru dan ponselnya tertinggal di rumah. Memang benar saat sesampainya di rumah, ia melihat ada 15 panggilan tak terjawab dari Pria. Dan salahnya ia tak langsung menelepon bali Pria. Tetapi saat itu juga hari sudah larut malam, sudah hampir jam 12 malam. Mungkin Pria juga sudah tidur, pikirnya.

“Kekanak-kanakan, ah.” ucap perempuan kesayangannya. Ia kemudian pergi ke dapur, membantu Bunda Pria memasak untuk makan malam, meninggalkan Pria sendiri di balkon.

*

Sudah tiga hari senja terlewat begitu saja di balkon kamar Pria. Tak terdengar lagi celoteh manja perempuan kesayangannya. Senja yang asing. Seingatnya sejak mengenal perempuan kesayangannya, Pria dan perempuan kesayangannya tak pernah marahan selama itu. Paling lama hanya tiga jam, entah siapa pun yang salah, Pria lah yang akan lebih dahulu meminta maaf. Pun dengan kali ini, tapi sudah beberapa kali Pria mencoba menghubungi perempuan kesayangannya baik melalu telepon, pesan singkat, atau fasilitas chatting tak jua mendapat balasan.

Pria memakai jaketnya menyusuri gang kompleknya dengan sepeda fixie adiknya. Lalu berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah perempuan kesayangannya. Sepi. Hanya lampu taman dan beranda saja yang menyala. Pria memutuskan kembali ke rumah dengan membawa sedikit kekecewaan.

Namun kekecewaan itu tak berdiang lama di wajah Pria. Ia melihat sepeda yang biasa dipakai  perempuannya tersandar di depan pintu gerbang rumahnya. Pria segera masuk dan mencari sosok yang dia rindukan geliat tawanya.

“Nah itu kak Pria,” ujar Bunda pada lelaki kecil yang tak lain keponakan perempuan kesayangannya.

Jadi sepeda yang bersandar di gerbang itu yang memakai keponakannya perempuan kesayangannya. Pria menghela nafas dan terduduk di sofa.

“Pri, ini lho si Satria mau lihat gerhana bulan nanti malam. Dari balkon rumahnya ndak kelihatan.” ucap Bunda. “Sudah sana, Satria sama kak Pria naik ke balkon.” Sambung Bundanya.

Pria dengan sedikit malas beranjak ke kamarnya.

“Yuk, Kak Puan kemana?”

Sebelum sempat dijawab oleh Satria, ternyata dari kamar Pria muncul sosok yang ia tanyakan. Senang, panik, segalanya berkecamuk. Sebab sebelum meninggalkan kamarnya tadi, pria Sempat membaca-baca kembali surat yang tak terkirim untuk perempuan kesayangannya. Dan seingatnya kotak rahasiannya itu tak terkunci.

“Kenapa, wajahnya panik gitu?” manik-manik mata perempuan kesayangannya menelanjangi bahasa tubuh Pria.

“Yang kemarin jemput aku itu, sepupu aku. Tanya aja Satria. Kemarin yang jemput waktu Papa Satria kecelakaan itu kan Om Raka ya?”

Satria mengangguk.

“Satria ke kamar kak Pria dulu ya. Nanti kakak siapin teleskopnya dulu.”

Perempuan kesayangannya masih menatap gerak-gerik Pria. Setengah meledeknya.

“Ehem… Jadi…”

“Udah deh.”

Sudah hampir sepuluh tahun Pria dan perempuan kesayangannya berteman, baru kali ini perempuan kesayangannya melihat Pria grogi saat sedang diamati wanita.

“Jangan kemana-mana, meski cuma sedetik.” ucap Pria sambil menggenggam tangan perempuan kesayangannya.

“Lah, kalo aku kebelet pipis gimana? Lebay!” perempuan kesayangannya menoyor kepala Pria. “Hmm… jadi, surat-surat itu buat aku? Jadi, selama ini…” sambungnya.

“Iya, itu buat kamu. Aku takut mengatakannya. Takut bila akhirnya rasa yang aku punya justru merusak sesuatu yang telah ada.” Pria sejenak mendengus,” tapi sekarang kamu sudah tahu tentang kotak rahasia itu, jadi nggak ada lagi yang perlu ditutup-tutupin. Aku cinta kamu.”

“Aku juga. Tapi… kamu tahukan aku nggak suka gulali, jadi jangan beri aku gulali ya. Hahaha…”

Kemudian hening mencekat mereka. Wajah Pria dan perempuan kesayangannya kian mendekat. Hidung mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Udara bertukar. Di dada mereka detak jantung tak lagi seirama. Namun belum sampai bibir mereka saling melekat tiba-tiba bunda datang.

“Heh… Hayuuuk… Bunda udah siapin makan malam. Satria mana, Satria…”

Pria dan perempuan kesayangannya saling memandang dan tertawa.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s