Pulang

Jemarinya sejenak terhenti menari di atas keyboard laptopnya. Kembali ia sandarkan punggungnya di sofa berwarna fuschia. Kepalanya mendongak. Matanya menatap langit-langit kedai kopi yang ia biasa kunjungi tiap akhir pekan itu. Tatapnya tak lepas, seperti tengah mencari sebuah kata yang hilang. Kata yang barangkali terselip di antara plafond langit-langit kedai itu. Kemudian ia memejamkanmata setelah beberapa jenak tak menemukan kata yang ia cari.

Pulang. Kata itu sebenarnya terselip, mungkin di salah satu syaraf kepalanya. Atau barangkali di antara lembar-lembaran kenangan yang memenuhi ingatannya.

Setahun, dua tahun, ah tidak, lebih lama dari itu. Sudah hampir lima tahun ia tak pulang. Berkali-kali ibundanya meneleponnya. Mengingat perempuan dengan mata sayu yang sudah mulai cekung, rambut yang hampir seluruhnya memutih itu, entah sudah berapa banyak rindu yang  ia kumpulkan di dadanya. Barangkali ia wanita tertabah yang pernah bumi milik. Barangkali.

Suami perempuan renta ini 17 tahun lalu pergi meninggalkannya dengan wanita yang lebih muda darinya, dan tentu saja lebih semok. Adakah air mata tertumpah dari matanya? Jangan harap kau bisa menemukan sekepingpun. Entah ia menyimpannya di mana, lalu beberapa tahun kemudian anak semata wayangnya, Anggar Rahdian yang begitu ia cinta, setelah menamatkan kuliah pun pergi merantau ke pulau seberang. Mencari penghidupan layak, alasannya.

Bulan demi bulan, perempuan renta ini menunggu kabar dari anaknya. Kabar tak kunjung datang, hingga sampai ia memasrahkan semuanya pada jalinan nasib. Beruntung, salah satu tetangga yang juga merantau ke kota yang sama pernah bertemu dengan Anggar. Lalu tetangganya itu memberinya nomor telepon anaknya. Kau bayangkan untuk sekali menelepon anaknya di pulau seberang, perempuan renta ini harus dapat menjual sekarung bawang. Itu pun ia hanya bisa berbicara dengan anaknya tak lebih dari 15 menit.

“Kerjaanku sedang banyak, Mamak. Nanti aku pulang,” jawab anaknya setiap kali perempuan renta ini meneleponnya.

Sampai akhirnya ia tak lagi mendapatkan telepon dari ibundanya.

*

“Hei, kenapa kau? Kusut sekali,” Perempuan muda dengan setelan kemeja warna putih dibalut blazer warna biru tua dan rok mini senada dengan warna blazernya.

Perempuan itu duduk  di hadapan pria yang ia bilang berwajah kusut. Sejenak ia membenarkan letak kacamatanya yang bertangkai besar, dan menggelung rambutnya yang memenuhi dada, kemudian memilah-milah menu minuman.

“Kenapa? Ada masalah dengan proyek kita?” perempuan muda itu menutup buku menu, setelah tak menemukan menu yang menggugah seleranya.

Maharani Dwi Arsita, perempuan manis berlesung pipit ini sudah dua tahun menjalin kisah kasih dengan Anggar. Ia begitu pandai membaca rona wajah Anggar, apa yang Anggar pikir kan selalu mampu tertebak olehnya. Tapi kali ini, Rani, biasa ia dipanggil demikian tak mampu membaca gurat cemas di wajah Anggar.

Anggar mendengus, lalu mengaduk kopinya yang sudah terlanjur dingin.

“Entahlah…” Anggar tak tahu harus memulai dari mana untuk mengungkapkan kegelisahan hatinya.

Keluarga, adalah hal sensitif yang tak pernah mau Anggar bagi dengan orang lain, sekalipun itu Rani kekasihnya sendiri. Rani dahulu pernah bertanya perihal keluarga Anggar, namun ia tak mendapat jawaban yang memuaskan. Justru sebaliknya Anggar marah padanya, sejak saat itu, Rani tak pernah bertanya kembali.

Tak bertanya kembali bukan berarti Rani berhenti mencari tahu perihal keluarga Anggar. Diam-diam ia menelusuri latar belakang pria yang dicintainya itu.

Rani terdiam, mencoba sekali lagi membaca garis cemas di wajah Anggar. Tetap saja ia tak mampu membacanya.

*

Dering ponselnya berkali-kali berbunyi. Di layar LCDnya tertera nama Maharani Dwi Arsita.

“Kau sudah menyalakan televisi? Ibumu, ibumu bagaimana?” ujarnya.

Kemudian ia menghentikan hentikan jemarinya yang tengah menari di atas keyboard laptopnya. Tangannya menggapai remote televisi dan lantas meyalakannya. Matanya tertuju pada tayangan breakingnews di televisi. Sebuah berita yang masih terlalu pagi untuk mengabarkan duka, membuatnya kembali mencemaskan sesuatu. Pagi itu, banjir bandang menerjang kampung tempat di mana ibundanya tinggal.

“Darimana kau tahu…”

“Sudahlah tak penting darimana aku tahu. Ibumu membutuhkanmu. Biar proyek di sini aku yang handle,” ujarnya.

Pulang. Kata yang selama ini selalu memantik rasa cemas di pikirannya telah ditemukan. Anggar menyandarkan punggungnya di sofa ruang tamu rumahnya, kepalanya mendongkak menatap langit-langit. Kali ini ia mencari kata semoga dan berharap tak menemukan kata penyesalan.

“Aku ingin pulang… Ingin cepat pulang… Berikan sayapmu agar aku pulang.” – Nidji

2 thoughts on “Pulang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s