Terima Kasih Karena Kau Mencintaiku

Stasiun, deretan gerbong yang terparkir di muka peron, dan lokomotif yang hendak langsir. Juga senja yang jingganya terhalang awan kelabu. Membosankan. Membosankan seperti novel yang ada di tanganku ini. Entah kata apa yang harus kusisipkan seperti di antara jeda waktu menunggu kereta diberangkatkan, selain kata membosankan. Sudah terlalu banyak penyair, juga mungkin penulis yang mengabadikan momen kepergian di dalam tulisannya. Tidakkah ada kata-kata atau sesuatu yang baru untuk mendeskripsikan tentang sebuah kepergian agar tidak melulu harus dibumbui kesedihan? Kulempar novel membosanklan itu ke tumpukan koper di depanku. Sial. Aku melemparnya terlalu kencang. Novel itu terjatuh di samping seorang pria yang tengah berdiri memotret lokomotif yang tengah langsir. Dari cara berpakaiannya aku dapat mengenali ia pasti seorang Photografer.

Pria itu melihat novel yang tak sengaja kulempar ke arahnya. Dia kemudian mengambilnya, dan melihat ke arahku. Duh, pasti pikirnya aku tengah mencari perhatiaannya.

“Maaf, ini buku kamu kan?” ujar Pria berkacamata itu sembari tersenyum seolah hendak memamerkan sepasang lesung pipinya.
“Oh, My God. Manis banget…” gumamku tanpa sadar saat aku terpaku pada senyumnya.
“Halooo… ini buku kamu kan?” Pria itu mengibas-ibaskan tangannya di depan wajahku, sementara aku masih terperangah.
“Oh… Iya, maaf tadi saking serunya jadi terlempar.”

Pria itu menggeser mantelku yang sengaja kuletakkan di bangku di sampingku agar tak ditempati orang lain. Sebab aku malas sekali bila harus berbincang atau berbasa-basi dengan orang asing.

“Ooo gitu. Sendirian? Oh ya, aku Banyu Dewandra. Mau ke Semarang juga?”

Pria itu kemudian duduk di sampingku. Ia menyerahkan novel yang kulempar tadi. Aku segera membaca kembali novel yang menurutku membosankan itu. Terpaksa. Aku grogi.

“Kayaknya kamu belum jawab pertanyaanku deh,” ujarnya sambil memantik api ke rokok yang hendak ia isap.
“Sorry, aku alergi asap rokok.”
“Oh, maaf.” Pria itu segera mematikan rokoknya.
“Terima kasih. Aku Nareshwari Janitra. Iya, mau ke Semarang,” sahutku. “Photografer?” sambungku sambil menunjuk kamera yang tergantung di lehernya.
“Ngg… bukan. Cuma tukan foto keliling,” guraunya.
“Serius? Hahaha…”

Perbincangan singkat itu begitu lekat dalam ingatanku. Dari perbincangan singkat dengan orang asing yang dulu adalah perihal yang paling aku benci, jadi celah aku mengenalnya lebih dekat.

*

Natal tahun ini aku tak bisa pulang. Tugas kuliahku menumpuk. Hah, salahku sendiri yang terlalu santai. Sudah sejak jauh-jauh hari padahal Papa dan Mamaku meminta aku merayakan natal di Jakarta, karena kakak-kakakku ternyata juga tidak bisa pulang.

Rencananya aku ingin mengikuti Misa pagi hari, namun hujan urung berhenti. Gereja tempatku biasa beribadah sebenarnya tak terlampau jauh dari kosanku. Udara dingin yang menyeruak membuatku ingin berlama-lama di dalam selimut. Oh, Tuhan, maafkan aku. Maafkan…

Tok… Tok… Tok…

Hah, siapa lagi pagi-pagi sudah datang. Bukankah seluruh penghuni kos mudik semua. Cuma aku dan Natalie yang tak mudik, tetapi Natalie sudah dari pagi tadi pergi ke Gereja. Dia mengajakku. Tapi seperti apa yang aku bilang, udara dingin membuat kasur, juga selimutku lebih posesif dari biasanya.

“Ta? Tata…”

Suara pria itu. Pria yang kerap tersenyum membuat jantungku bertetak lebih kencang dari biasanya. Oh, My God. Kenapa ia datang sepagi ini. Aku belum cuci muka, belum sikat gigi, belum… Arrrghh…

“Iya, sebentar, Ndra…”

Aku membuka pintu yang sebenarnya tak terkunci.

“Ngapain sih, pagi-pagi dateng.”
“Lho, masih kucel gini. Belum mandi ya?” ucapnya sambil mengusel-usel rambutku yang sebetulnya sudah acak-acakkan karena tak sempat disisir. “Ayo, ke Gereja. Katanya mau ikut Misa pagi. Ish…” sambungnya.

Meskipun aku dan Andra memiliki keyakinan berbeda, entah mengapa ia selalu jadi orang yang paling rajin mengingatkan untuk rajin beribadah. Bukan hanya mengingatkan, tapi seperti sekarang ini jika kumat malas kudatang dia yang akan mengantarkanku ke Gereja.

<Banyu Dewandra> Selamat Natal, Tata…
<Nareshwari Janitra> Tengkyu, Ndra.
<Nareshwari Janitra> Pengen ikut Misa pagi, tapi hujan. Hah. 
<Banyu Dewandra> Errr… Berangkat!
<Nareshwari Janitra> Males!

Ternyata saat chat denganku dia sudah ada di beranda rumah kosanku. Dasar Andra!

*

Simpang Lima 31 Desember 2007 pukul 23.59

Bunyi terompet dan kembang api menggelegar, namun tak se-menggelegar degub jantungku saat Andra menggamit tanggaku. Bukan untuk pertama kalinya Andra menggamit tanganku seerat itu. Sejak aku bertemu dengannya setengah tahun yang lalu, ia biasa melakukannya. Bahkan saat aku putus dengan mantan pacarku tiga bulan lalu, degub dadaku dapat merasakan degub dadanya. Andra memelukku saat itu. Ia juga yang menyeka air mataku. Aku merasa ada sesuatu yang lain di hatinya ketika memperhatikanku. Dari sorot matanya, ia seperti ingin mengatakan sesuatu. Aku menunggunya. Sungguh aku menunggu kata itu terluah dari bibirnya yang kerap merekahkan senyum yang membuat terkadang aku salah tingkah. Aku menunggu kata-kata yang membuat kepompong-kepompong di perutku berubah jadi kupu-kupu. Ayolah, katakan Andra. Momen ini begitu berharga jika cuma dilewatakan dengan mendangakkan kepala saja. Kembang api yang memenuhi langit semarang, keriuhan suasana sehabis adanya Semarang Night Carnaval. Ayolah, katakan.

Andra menatapku tajam. Tatapnya tepat menghunjam manik-manik mataku. Aku serupa menjangan yang telah terkunci bidikan panah Partha. Tak bisa menghindar. Lalu kini kedua tanganya menggenggam tanganku. Tak kuduga ia menyematkan kecup ke keningku. Aku terpejam, berharap waktu terhenti saat itu.

“Kita terlampau dekat untuk tidak terjadi apa-apa di dalam perasaan kita masing-masing, Ta. Aku menyayangimu. Sangat menyayangimu. Karena itu, Ta, aku takut melukaimu.”
“Aku juga, aku sayang kamu, Ndra.”

Ia tersenyum sambil mengacak-acak poniku. Kebiasaannya yang mengesalkan awalnya, tetapi kini aku menikmati saat ia mengacak-acak poniku.

“Aku mencintaimu, Ta…”
Ah, akhirnya kata-kata itu keluar juga dari bibirnya. Pecahlah kepompong di perutku jadi kupu-kupu.
“Aku mencintaimu, karenanya aku mau kita tetap menjadi sahabat. Tak lebih dari itu. Sebab aku tak siap melukaimu, aku tak siap melihat kamu menangis entah karena rindu atau karena sikapku yang menjengkelkan.”

Kupu-kupu di perutku yang bergeliat tadi, kini satu per satu mati. Mataku berkaca. Mengapa harus dia katakan kata-kata yang tak ingin kudengar itu. Mengapa ia ciptakan momen yang seharusnya berharga dan diisi dengan perihal-perihal manis jadi hal yang pahit semacam ini. Air mataku tertahan di pelupuk, namu sesaknya tersa hingga ke ulu hati. Aku berusaha melepas genggamannya, namun terlalu erat.

“Lepaskan…”

Ia justru memelukku. Pelukannya sama seperti saat aku baru saja diputus mantanku dulu.

“Mengapa kamu tak lepaskan aku, Ndra? Kau tak mencintaiku, kau hanya mencintai dirimu sendiri. Kau yang takut terluka, bukan aku,” aku berkata lirih di ujung telinganya. “Hatiku milikku sendiri, tahu apa kamu tentang lukaku?” sambungku.
“Benar, Ta, hatimu milikmu sendiri. Tapi bila di sana juga terdapat namaku, aku juga bertanggungjawab bila kau bersedih.” Ia melepaskan pelukannya, dan menatapku dalam-dalam. “Aku mencintaimu, itu saja yang ingin kuingat darimu. Kuharap kau juga bisa melakukannya lebih baik dariku.”
“Terima kasih…”
“Untuk?”
“Terima kasih untuk malam ini. Terima kasih karena kau mencintaiku. Dan terima kasih telah menuntaskan rasa keingintahuanku tentang perasaanmu terhadapku,” ucapku, lirih.
“Aku akan ke Aussie, melanjutkan kuliah di sana. Tapi sebelumnya akan ke Jakarta dulu, kau mau pulang ke Jakarta bersamaku?” tiba-tiba ada ruang hening di kepalaku.

*

Dua bulan kemudian di Peron Stasiun Senen

Stasiun, deretan gerbong yang terparkir di muka peron, dan lokomotif yang hendak langsir. Juga senja yang jingganya terhalang awan kelabu. Membosankan.

Kriiiiinggg…

Dering ponsel berbunyi, kulihat di layar LCD tertulis nama Banyu Dewandra. Kuletakkan kembali ponsel ke dalam mantelku.

Kriiiiinggg…

Lagi dering ponsel berbunyi, kubiarkan ia berdering di dalam mantelku. Pasti dari Banyu Dewandra lagi.

“Kenapa nggak diangkat?”

Pria itu lagi. Ia menggeser mantelku dan duduk di sampingku.

“Kau menguntitku. Kapan balik ke sini, kok nggak mengabari aku? Sombong kamu,” kupukul lengannya.
“Sombong? Kau yang tak pernah mengangkat telponku. Huh!”

Pria itu masih memiliki senyum yang sama yang mampu membuat aku tertegun, Aku bukan keledai (yang tak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali), aku bisa memilih untuk terjatuh kembali di tempat yang sama atau tidak sama sekali.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s