Jangan Cintai Aku, Teman.

Bip… Bip…

Notifikasi di ponselku berbunyi. Dari suaranya aku tahu itu hanya notifikasi dari twitter, mungkin seseorang meretweet tweetku, atau hanya sebuah mention yang bisa kujawab kapan saja. Kubiarkan ponselku tetap di tangannya yang sedari tadi asyik memainkan game Pokopang.

“Ciyeee, Idam… Dapet mention nih dari penggemarnya,” ujarnya. Menghentikanku mendesain sebuah produk.

“Apa? Siapa? Sini…”

“Hmm… aku bacain, kamu lanjutin kerjain deadline-nya aja,”sahutnya. “Hai @idamsatria, suka deh dengan puisi yang diretweet @sajakcinta tadi. *klik follow*. Ciyeee… Idam, cantik lho, Dam,” sambungnya.

Aldilla Putri Prameswara Aditia Sekar Ningrum, atau biasa disapa Dilla. Sejak kapan aku mengenal perempuan menyebalkan ini? Entahlah, dia teman dari temanku yang punya teman lainnya, hah ribet bila harus mengurutkannya. Begini saja, aku bertemu dengannya dalam sebuah pertandingan futsal antara SMAku dan SMAnya, tujuh tahun lalu. Dari sekian puluh suporter perempuan yang berdiri berderet di pinggir lapangan, dia satu-satunya perempuan yang menarik perhatianku. Entahlah, mungkin itu tugas yang diberikan padanya. Oh, ya, saat itu aku bertindak sebagai penjaga gawang dan team futsal SMAku kalah 7-2.

“Makanya, pehatiin bolanya, bukan suporternya,” ejeknya sambil tersenyum, saat melintas di hadapanku.

Sebelum jauh berlalu, aku mengejarnya. Serupa adegan-adegan FTV aku berkenalan dengannya. Dengan minggu-minggu setelahnya, aku dan Dilla kian dekat. Aku sering menjemputnya di Sekolahnya dan mengantarnya pulang. Pacaran? Iya, itu harapanku. Namun sebelum harapan itu berkembang, sudah terlebih dulu pupus.

“Kau sedang tidak mendekati aku, kan, Dam? Awas aja kalau sampai kau suka denganku, aku nggak mau bertemu kamu lagi.”

Demi untuk sebuah pertemuan, demi untuk selalu dapat menikmati senyumnya, demi untuk bisa selalu mencium wangi rambutnya, aku memendam perasaan itu sampai sekarang. Ya, sampai sekarang saat aku dan dirinya bekerja di kantor yang sama, di ruangan yang sama yang hanya tersekat dinding tipis kubikel.

Dan berkali-kali aku harus menelan pil pahit bilamana ada teman yang juga satu kantor denganku, sedang mendekatinya dan mengajaknya kencan. Atau saat ia menceritakan pria-pria yang datang ke kostnya dan membawakan makanan atau bunga, pria-pria yang mendekatinya yang selalu ia ceritakan dengan senyum semringah.

“Eh, ini, Dam. Cantik… prospek gih! Ayolah, sesepik-dua sepik.”

Begitulah Dilla, selalu menjodohkanku dengan perempuan-perempuan yang dinilainya cantik. Oh, please, Dil. Banyak perempuan cantik, tapi itu saja belum cukup. Aku mau kamu. Ah, rasanya ingin sekali menyerocos dengan kalimat itu. Tapi bila mengingat kata-katanya beberapa tahun lalu, seketika aku urungkan.

“Siapa sih, Dil? Namanya?” tanyaku, untuk sekadar menyenangkan Dilla yangterlihat exicited.

@erlitasuseno, lucu, Dam. Giginya gingsul lagi, kriteria kamu banget.”

Gigi ginsul, rambut panjang dikuncir serupa ekor kuda, berponi, dan berkacamata frame tebal. Iya kriteria perempuan impianku. Kriteria yang mendeskripsikan Dilla, tapi ia sampai sekarang belum juga menyadarinya. Atau sudah menyadarinya tapi hanya pura-pura saja, entah.

*

Suara motor matic berhenti tepat di perkarangan kostku. Dan tiba-tiba pintu kostku dibuka. Hah, kalau bukan Dilla, tak ada orang yang berani melakukan seperti itu. Ibuku saja bila berkunjung ke kost-ku mengetuk pintu dulu.

“Hei! Sedang ngapain hayooo…” selidiknya sambil menatap curiga ke arahku. “Makanya, cari pacar, biar nggak sendirian kayak gitu. Untung aku yang masuk, coba orang lain. Hahaha…” sambungnya, sementara aku masih bersembunyi di dalam selimut.

Dilla mendekat, dan duduk di tepi ranjangku. Kemudian ia mengambil majalah dewasa di sampingku, dari dalam selimut aku bisa mersakan dan mendengarkan jantungku berdetak lebih cepat saat Dilla membuka selembar demi selembar majalah tersebut. Dan, hal yang kutakutkan pun terjadi. Sebuah foto yang terselip di antara lembar-lembar halaman majalah itu terjatuh. Fotonya.

“Ini maksudnya apa? Kok ada fotoku? Jadi kamu… Kamu jahat, Dam. Jahat!” Dilla pergi beranjak.

“Dil bukan gitu maksudku, Dil!”

Terlambat, suara motor maticnya sudah menjauh. Kuambil sebuah boneka Teddy Bear ukuran satu setengah meter yang belum rapi kubungkus dari balik selimut yang sejak tadi kusembunyikan.

*

Pukul 19.31 aku mengunjungi kosan Dilla. Motor matic warna ungu terparkir di halaman, menandakan Dilla ada di kostnya. Aku mengetuk 3 kali pintu kostnya, tak ada jawaban. Dan sekali 3 kali berikutnya, barulah ia menjawab.

“Sebentar, siapa ya?”

“Aku, Idam!”

Pintu kost terbuka, kulihat wajahnya lusuh sekali.

“Baru bangun tidur? Kenapa matanya sembab? Nangis?”

Ia tak jawab, malah masuk ke dalam kamarnya dan duduk di tepi ranjangnya. Aku mengikutinya.

“Kau jahat, Dam. Hambok jangan aku yang dijadikan bahan fantasimu.” sahutnya dengan bibir yang dimanyun-manyunkan.

“Ini maksudnya apa tho? Tunggu, jangan-jangan kamu berpikir aku sedang…”

Belum sempat kulanjutkan, aku keburu geli sendiri dan tertawa.

“Hahaha… maksudmu aku melakukan self servis gitu? Hahaha…”

“Iya, kamu kan jomblo. Dan jomblo identik dengan kegiatan itu.”

“Ah, kamu. Bisa dituntut oleh kaum jomblo seluruh indonesia lho, kalo mengeneralisir seperti itu. Nggaklah, nggak.”

“Kalo nggak, kenapa ada majalah dewasa di sampingmu, dan terus kenapa ada fotoku, Idam?!” Dilla kesal.

“Oke gini, itu bukan majalahku, itu majalah teman kost sebelahku. Kebetulan semalam ia main ke kamarku. Dan fotomu, oke gini, sudah sejak lama aku menyukaimu. Foto itu selalu aku taruh di bawah bantalku, berharap aku bisa memimpikan kamu setiap malam. Tadi pagi foto itu terjatuh ke lantai, dan tiba-tiba aku mendengar suara motormu, segeralah kusembunyikan foto itu agar kau tak tahu aku memiliki fotomu. Habisnya, semua fotoku bersamamu di ponselku kau hapus semuanya. Kau bilang, takut aku jatuh cinta sama kamu. Sebenarnya saat kau menghapus semua foto-foto itu, semua sudah terlambat. Aku sudah jatuh hati sejak lama denganmu, Dil. Kata-katamu dulu, kau ingat, saat kau bilang tak akan menemuiku jika aku sampai suka padamu-lah yang menahan perasaan ini. Sekarang, sebentar, aku memanggil seseorang dulu.”

Aku keluar memanggil Lita, perempuan yang kukenal melalui dunia maya. Lita masuk ke kamar Dilla sambil membawa boneka Teddy Bear yang telah terbungkus rapi dan aku membawa kue tart dengan dihiasi lilin berangka 27.

“Happy birthday, Dilla. Oh, ya, Dil. Kenalin ini Lita, yang tempo hari mentionnya kamu bacain itu. Ingat kan?”

“Oh, ya, ya jadi ini orangnya bikin aku jarang diajak makan siang bareng lagi sama Idam. Tuhkan, cantik. Pilihanku nggak salah. Kalian udah jadian?”

“Ngg… nggak eh, belum, belum, Dil.”

“Hmm… Idam payah, sabar-sabar aja ya. Etapi Idam setia kok. Dulu aja setia sama kejombloannya.”

“Udah deh, make a wish gih.”

Dilla terpejam sambil mengatubkan kedua telapak tangannya.

“Dam, sepertinya kamu udah nggak butuh fotoku. Besok kembalikan ya,” bisiknya.

“Ngg…”

One thought on “Jangan Cintai Aku, Teman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s