Elegi Senja

Matahari sore lenyap di balik punggungmu. Angin berdesir, rambut tipismu terburai, memasaikan poni yang selalu kau tata rapi juga. Kau masih mematung di hadapanku, di dermaga yang ramai dengan lalu lalang kata. Kau, seperti hendak meminang kesedihanku. Matamu berkaca-kaca, aku bercermin di sana, dan melihat diriku sendiri yang tampak menyedihkan di hadapanmu. Berulangkali aku berucap dalam diri, bukan kepergianmu yang kutakutkan, tetapi aku takut kehilangan rasa mencemaskanmu. Itu saja.

Kapalmu akan segera melarung segenap anganku, mungkin juga inginmu. Kita sepasang debar yang harus saling meredamkan denyar. Tubuhmu beranjak menjauh dari tubuhku, yang tersisa hanya wangi parfum yang kau wariskan pada hidungku saat kau memeluk erat tubuhku tadi. Juga kenangan-kenangan tentang bahagia yang kerap kita gumamkan di ujung senja. Sekali lagi kau membalikkan tubuhmu seolah memastkan aku baik-baik saja. Sungguh kalaupun kau ingin tahu bagaimana rasanya kehilangan separuh jiwa, aku takkan pernah memberitahumu. Aku tak pernah bisa melihat kau menanggung seluruh nyeriku. Kau lambaikan tangan dan tersenyum setelahnya, kau tahu perihal itu sungguh seperti sepasang anak panah yang melesat tepat ke bilik jantungku, menghadirikan ngilu ke sekujur tubuh namun tak jua membuat ku mati. Ah, kalaupun aku bisa mati karena senyumanmu, aku ingin mati saat aku dulu mengecup bibirmu tiba-tiba dan kau tersenyum setelahnya.

Kapalmu telah mengangkat sauhnya. Hatiku mengerang, seperti ada yang tercerabut darinya. Tak lagi ada yang bisa kulakukan untuk diriku sendiri. Dan kini aku tak perlu lagi meminjam matamu untuk meneroka diriku sendiri yang menyedihkan ini. Kita, akan menjadi orang-orang yang memenangi rindu, namun dikalahkan jarak. Ah, rindu? Rindu untuk apa, kita tak pernah menanam apa-apa. Kita hanya sepasang asing yang kebetulan bertemu, kebetulan terluka, kebetulan. Ya kebetulan. Dan cinta bukanlah sesuatu yang kebetulan bukan? Kau tahu itu dan memutuskan pergi, sementara hatiku, tak pernah bisa kunasehati.

Kapalmu hilang di balik cakrawala bersama jingga senja yang sempat kau sembunyikan di balik punggungmu dan aku hilang tertelan kesepian yang kau tinggalkan, tenggelam dalam air mata yang kau tanggalkan. Angin berdesir, membekukan segenap angan tentangmu yang tak boleh kelamaan tersimpan dalam kepalaku. Tak boleh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s