Nareshwari

Desir angin paling pagi telah sampai dan merapat, menemui tungkai telingamu.
Membisikkan aksara-aksara yang lebih dingin dari pucuk-pucuk kerinduan dedaunan cemara pada musim semi.

Senja masih begitu jauh, sayang.
Bahkan Terlampau jauh untuk sekadar bercakap-cakap dengan geliat senyummu — rumah segenap pelangi.

Berpisah denganmu, barang sedetik di ingatan, barangkali semacam perkara melepas satu per satu detak-detak nadi dalam jiwanya ke angkasa raya — memantik ngilu di sekujur tubuh Bundamu, sayang.

Nareshwari, rindunya segemerlap bintang yang pernah ia selipan di ujung celak bulat matamu.
Sebabnya, jangan kau takut gelap sayang.
Mereka takkan pernah berani menyentuhmu dengan kesedihan, mereka takkan berani membunuhmu dengan taring-taring kesepian.

Bundamu akan segera datang.

Semarang, 16 Oktober 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s