Peri Penjaga Kedai Es Krim

Usiaku saat itu belum genap 6 tahun, saat seorang perempuan berlesung pipi kulihat berdiri di samping sebuah kotak berwarna biru telur asin. Di hadapannya bebeberapa anak-anak, mungkin lebih tua beberapa tahun dariku. Mereka mengantre. Setiap siang setelah pulang sekolah, atau sore hari setelah mereka mandi sore. Setelahnya mereka akan kembali ke rumah masing-masing dengan membawa sesuatu. Aku hanya bisa melihat hal itu dengan rasa penasaran di balik jendela berteralis besi, atau jika Ayah sedang pergi aku mengendap-endap keluar. Iya, hanya sampai halaman depan yang dibatasi tembok.

Suatu ketika, saat aku mengamati beberapa anak sedang mengantre, perempuan itu menengok ke arahku dan tersenyum. Lalu ketika barisan anak-anak di hadapannya telah habis, ia mendatangiku dengan membawa sesuatu di tangannya. Sesuatu yang selalu membuatku penasaran.

“Namanya siapa, Dek?” Tanya perempuan itu, lembut. “Kok nggak main sama teman-teman yang lain? Oh iya, ini Es krim, buat Dedek,” sambungnya tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab pertanyaannya ia segera kembali ke tempat ia biasa melayani anak-anak. Dan sekali lagi ia tersenyum ke arahku. Aku segera masuk ke dalam rumah, takut tiba-tiba Ayah datang.

Di dalam kamar kubuka plastik es krim itu. Dan segera kuhabiskan, takut bilamana Ayah mengetahuinya, aku pasti akan dimarahi.

“Jangan pernah menerima pemberian orang asing!” kata Ayah pada kakak dulu, sebelum kakak menghilang. Sejak saat itu Ayah sangat over protektif padaku.

*

Tribuana Sari Dewi, dia ibuku. Entah kemana dia pergi. Sejak usia 4 tahun ibu pergi bersama seorang lelaki yang dulu ia kenalkan kepada Ayah, bernama Sulistyo Hardi. Aku memanggilnya Om Tyo. Dia setiap minggu datang ke rumah dengan membawa banyak makanan kesukaanku dan kakak. Tentu saja dia datang saat Ayah sedang berada di kantornya atau sedang melakukan lawatan dinas. Aku dan kakak saat itu tak mengetahui apa yang selalu Om Tyo lakukan bersama Ibu di dalam kamar. Yang terdengar dari ruang keluarga hanya jeritan ibu. Aku sempat bertanya pada ibu, apakah Om Tyo meyakiti ibu? Ibu hanya tersenyum. Dan senyuman ibu baru bisa kumengerti sekarang.

Setelah ibu pergi bersama Om Tyo, beberapa bulan kemudian kakak pun menghilang. Yang kuingat sebelum kakak menghilang, kakak mengajakku ke pasar malam. Tapi aku tak mau, di sana pasti banyak badut. Saat itu aku takut sekali dengan badut. Kakak pergi sendiri. Kakak pulang hingga larut malam dan dimarahi Ayah. Esoknya kakak kembali ke pasar malam, ditemani seorang badut yang datang ke rumah kami. Kakak memperkenalkannya padaku yang bersembunyi di balik tirai jendela sebagai temannya. Dan kakak tak lagi pernah pulang setelahnya. Entahlah, sekarang kakak di mana. Segenap usaha telah Ayah lakukan, tapi tak jua membuahkan hasil.

*

“Darimana kamu dapatkan Es Krim ini, Gladis?! Ayo ngaku! Atau kamu mau Ayah kurung dalam kamar mandi!” bentak Ayah, ketika ia melihat bungkus Es krim di kotak sampah.

“Buuu…bukan Gladis, Yah…” elakku seraya  mengiba.

“Lalu siapa yang meletakkan bungkus ini ke dalam kotak sampah, kucing? Sudah Ayah bilang kak, Gladis, jangan menerima sesuatu dari orang asing. Kamu mau seperti kakakmu yang diculik!” Ayah geram, lalu membopongku ke kamar mandi dan mengguyuriku beberapa kali sebelum akhirnya mengurungku. Sementara aku di dalam tersengal-sengal menagis.

Keesokan harinya, kembali aku hanya bisa melihat anak-anak seusiaku berbaris rapi di depan kotak berwarna biru telur asin. Di sana mereka menunggu perempuan baik hati itu memberinya es krim. Aku memandangi keriaan itu dari balik jendela kaca.

Kudengar langkah kaki Ayah menuju kamarku. Aku segera mencot ke tempat tidur dan menarik selimut ke sekujur tubuhku, seolah-olah aku masih tertidur. Ah, tapi sepertinya ayah mengetahui akal-akalanku. Sebab tirai jendela kamarku tak sempat kututup. Ayah melongok keluar, dan melihat barisan anak-anak berbaris rapi membeli sesuatu. Kemudian ayah beranjak ke arahku, dan duduk di tepi tempat tidurku.

“Maafkan Ayah, Gladis, bukan maksud Ayah menghukummu sekeras kemarin. Ayah cuma takut kehilangan kamu. Kamu cuma satu-satunya hal berharga yang Ayah punya sekarang,” sesal ayah.

Aku mengintip dari balik selimut, Ayah menangis.

*

Beberapa hari kemudian di suatu sore yang cerah. Perempuan baik hati itu datang mengunjungi rumah kami. Di beranda Ayah menyambutnya dengan hangat, kemudian memanggilku.

“Gladis… Gladis… Kak Rani mencarimu nih,” panggil Ayah.

 “Halo Adek, Namanya Gladis ya. Kemarin belum sempat kenalan. Nama kakak Rani,” ucapnya lembut. Setelah perkenalan itu, setiap Ayah ke kantor aku dititipi di kedai Es krimnya Kak Rani. Entah apa yang Kak Rani lakukan, bisa membuat Ayah sedemikian manis seperti dulu.

*

“Yah, Gladis penasaran deh. Apa sih menariknya Mamah Rani?”

Lelaki dengan uban di sekeliling kepalanya itu tersenyum dan memegangi nisan Mamah Rani.

“Senyumnya semanis es krim yang ia berikan ke Ayah, Dis,” sahutnya.

“Kalau itu, Gladis juga tau, Yah.”

Senyum, adalah perihal sederhana yang bisa kita berikan ke orang lain. Sekarang aku memahami, betapa mudahnya Kak Rani atau sekarang kupanggil dengan sebutan Mamah Rani masuk ke hati Ayah yang sekeras batu sejak ditinggal pergi Ibu dan lantas kehilangan kakak. Aku belajar satu hal dari Perempuan yang selalu ramah melayani anak-anak itu. Tentang sebuah arti senyuman untuk orang lain.

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

3 thoughts on “Peri Penjaga Kedai Es Krim

  1. Ping-balik: Peri Penjaga Kedai Es Krim | kumcer.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s