Kembalikan Bapakku!

Siang ini, sepucuk surat diantarkan pak pos. Aku tahu ia belum makan siang, tapi senyumnya masih sama seperti seorang jenderal di Jakarta yang tiba-tiba jadi kepala Negara. “Ia orang sakti,” kata Bapak sebelum ia merantau ke Jakarta. Saat itu aku belum tahu Bapak jauh-jauh ke Jakarta untuk apa, ia pernah berseloroh ingin bertemu dengan orang sakti itu. Ah, bapakku memang ada-ada saja, mana mungkinlah seorang petani yang di rumahnya orang tuanya dulu pernah ditandai tanda silang oleh tentara kok mau bertemu dengan orang sakti. Ya, namanya saat itu aku masih kecil. Jadi percaya saja.

“Pak, nanti kalau pulang, belikan Ranu mainan ya,” pintaku stelah Bapak menceritakan padaku bahwa orang sakti ini punya harta yang berlimpah. Orang yang dekat dengannya akan selalu mendapatkan hadiah.

13 tahun setelah percakapan itu, Bapak tak pernah pulang. Katanya doa ibu itu paling mujarab, tapi entah mengapa Tuhan berpilih-kasih pada ibuku. Biarpun tiap malam Ibu berdoa, tetap saja Bapak tak pernah kembali.

Sepucuk surat yang diantarkan pak pos siang itu masih tergeletak di atas komputerku. Aku belum ingin membacanya. Ngomong-ngomong soal komputer, komputer itu hadiah dari Ibu. Entahlah ia  dapat uang darimana. Ia hanya seorang buruh cuci setelah Bapak merantau ke Jakarta dan tidak pulang kembali. Sawah peninggalan Bapak dan bapaknya sudah habis terjual. Sebenarnya Ibu tak berniat menjualnya, biaya untukku bersekolah pun masih bisa ia usahakan sendiri. Ia terpaksa menjualnya, karena yang membeli sawah-sawah di kampung kami itu konon anaknya orang sakti yang dulu sering Bapak ceritakan. Sawah-sawah itu kini telah berganti dengan perumahan mewah yang dibatasi dengan tembok yang begitu tinggi. Ada beberapa hektar yang mereka sisakan kosong, untuk “doalan bal-balane wong sugih Le, yak’e,” kata Ibu. Golf yang ia maksud. Ya, kampungku sudah berubah. Entah sekarang seperti apa. Aku sudah setahun ini mengikuti jejak Bapak, merantau ke Jakarta. Sekarang, orang sakti itu sudah tak ada, andai saja masih ada aku ingin sekali menanyakan keberadaan Bapakku.

Beberapa waktu lalu, seorang anak dari kawan Bapak menghubungiku. Sebenarnya pertemuan dengan anaknya kawan Bapak sesuatu yang tak diduga-duga. Saat itu aku dimintai pendampingan dalam proses sengketa lahan antara warga dan aparat. Anaknya kawan Bapak datang ke kantorku di sebuah LBH. Dari sanalah aku mengetahui, proses penghilangan paksa itu terjadi. Entahlah, seberbahaya apakah bapakku yang hanya seorang petani baginya sampai harus menghilangkan secara paksa. Apakah orang sakti itu memang alergi suara-suara buruh dan petani? Mungkin baginya suara-suara itu lebih tajam dari peluru-peluru yang pernah ia saksikan saat jaman revolusi dulu. Entahlah.

“Le, kowe ning nJakarta, meh ngopo? Nyari Bapakmu?” Tanya Ibu, dulu saat aku meminta izin untuk pergi ke Jakarta. “Ojo le, Ibuk karo Sekar adimu piye? Sudah, le, Ibuk sudah ikhlas,” sambungnya.

Saat itu akupun berat meninggalkan kampungku yang sudah terhimpit bangunan-bangunan mewah milik anak orang sakti. Rasa penasaranku atas tidak kembalinya Bapak ke kampung yang membuatku mengharuskan mencari tahu sendiri. Desas-desus pernah beredar di kampung, Bapak seorang komunis dan telah dieksekusi oleh tentara anak buahnya orang sakti. Aku hanya bisa tersenyum pahit, mana mungkin, Bapakku seperti yang mereka tahu hanya lulusan SMP dan petani yang merantau ke Jakarta menjadi seorang buruh. Itu saja. Sepenting itukah Bapak, seberbahaya itukah Bapak?

Kubuka surat yang siang tadi diantarkan pak pos. Surat itu dari seorang calon Presiden yang tampangnya kerap menghiasi layar kaca maupun di jalan-jalan protokol ibukota. Konon ia pernah jadi anak buahnya orang sakti. Sepenting apakah aku hingga dikirimi surat oleh seorang calon Presiden? Atau…

Aku tak membaca seluruh isi surat itu, hanya empat kata yang digarisbawahi, REKONSILIASI NASIONAL ANAK BANGSA.

“Bangsat! Kembalikan Bapakku!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s