Milana dan Badut Penghibur

Milana.

Pasar malam, entah angin apa yang selalu membawaku beberapa hari ini ke tempat seriuh ini. Namun tetap saja keriuhan dan segala gemerlap cahaya lampu-lampu tak membuatku merasa tak kesepian. Lelaki berwajah purnama itu selalu mengambang di antara riak-riak airmata yang tanpa kusadari terjatuh. Cinta seharusnya membuatmu menyadari hidup bukan sekadar merajut bahagia, tapi ini justru aku seperti dibodohi. Aku merajut pakaian bahagia yang akan dikenakan seseorang, tapi pakaian itu bukan untuk diperlihatkan untukku, tapi untuk orang lain. “Kalau kamu bahagia, aku juga ikut bahagia,” ah ungkapan macam apa itu. Bullshit!

Kuambil rokok satu-satunya yang tersisa di saku kemejaku. Kunyalakan. Kuhisap dalam-dalam. Kusemburkan asapnya ke udara, seolah seperti membuang semua penat di kepala. “Aku bukan wanita serapuh itu,” kuyakinkan hatiku. Kupejamkan mataku, menahan agar airmata tak lagi terjatuh di tempat seramai ini.

“TADAAAAAAA…”

Aku terperanjat dari kursi kayu, lagi-lagi badut itu datang menggodaku. Kemarin ia sempat kusiram coffeemix panas, gara-gara mengagetkanku. Lusa lalu, sebotol bir dingin kusemprotkan ke rambutnya yang berwarna perak. Rasa-rasanya dia tak pernah kapok untuk mengganggu ketentramanku. Hah, lagi pula mungkin akunya yang salah, mencari ketenangan di tempat seriuh ini.

“Milana ndak boleh sedih.” Sebaris kalimat di selembar kertas yang ia pampangkan di dadanya. Tunggu dulu, darimana ia tahu namaku? Apakah ia orang suruhannya Lelaki berwajah purnama? Aahhh, aku tak mau lagi berhubungan dengan lelaki itu. Aku ingin membuang jauh-jauh semua perihalnya dalam ingatanku.

Badut.

Pukul 20.15, seperti biasa perempuan yang membawa mendung di wajahnya duduk di bangku kayu dekat wahana bianglala. Awan-awan cumulusnimbus yang berarak di antara tepi celak matanya itu seperti cuma ingin terjatuh di tempat ini. Benar saja, tak butuh beberapa lama setelah menunundukan wajahnya ia menyeka matanya, isyarat kesedihan itu telah tertumpahkan di sana.

Dan di saat itulah, aku kerap mengagetinya, berharap kesedihan tak lagi memeluknya. Walaupun beberapakali aku sering disiram olehnya.

Milana, sejak dibangku SMA, aku sudah menyukainya. Ia berbeda dari wanita kebanyakan, ia lebih suka menyendiri di depan ruang LAB Fisika yang terletak di lantai paling atas sekolah kami dulu. Latar belakang keluarganya yang membuatnya minder, dan enggan bersosialisasi.

Milana terlahir sebagai anak tunggal, ayah ibunya bercerai saat ia duduk di kelas 6 SD. Sang ayah lalu menikah lagi dengah seorang biduan dangdut, sementara sang ibu beberapa tahun setelah perceraian dengan ayahnya mengalami depresi dan kemudian yang paling mengenaskan ditemukan gantung diri. Milana sebetulan lahir dari keluarga yang berada, ayahnya seorang pejabat dan ibunya memiliki toko pakaian. Perceraian itu yang membuat Milana menutup diri dengan siapa pun. Setelah kematian sang ibu, Milana dirawat oleh Neneknya, Mbah Pur. Mbah Pur bertetangga denganku. Dari dia-lah aku mengetahui masa-masa kelam seorang Milana. Mulai dari sanalah aku sering memperhatikan Milana yang begitu asyik dengan pensil dan Sketchbook-nya, hingga degub-degub asing itu terasa saat Milana mendapatiku tengah memperhatikannya.

Setelah lulus SMA, Milana tak lagi tinggal bersama Mbah Pur. Milana memutuskan berkuliah di Bandung. Sementara aku tak melanjutkan kuliah, sebab tak ada biaya. Aku bekerja sebagai karyawan di salah satu swalayan waralaba. Aku menjadi badut di Pasar Malam ini baru 3 bulan, sebagai penghasilam tambahan. Dan tak dinyana, aku bertemu kembali sosok perempuan yang dulu sempat menghadirkan degub-degub asing ke bilik jantungku. Milana.

Milana.

Lagi-lagi, badut tak tahu diri ini datang menggangguku. Memangnya tak ada kerjaan lain apa, selain menggangguku, semisal menghibur anak-anak kecil yang menggemaskan yang sedari tadi merenggek minta dibelikan balon. Atau jangan-jangan badut ini naksir aku lagi. Ya ampuuuunnn.

Tiba-tiba si badut duduk di sebelahku, masih dengan memegangin kertas bertulis “Milana ndak boleh sedih.”

“Tahu darimana kamu, namaku, Milana?” tanyaku dengan nada judes.

Badut itu mengeluarkan spidol dari saku di kostumnya yang kebesaran. Ia menuliskan sesuatu di balik kertas tadi.

“Ndak penting darimananya, Aku Cuma mau menghibur Milana saja.”

“Menghibur? Kau mengagetiku! Itu namanya bukan menghibur, itu mengganggu. Dan kenapa mesti aku yang kau ganggu,” sahutku sambil melirik tanjam ke arahnya.

“Maaf. Kenapa Cuma Milana? Karena dari kemarin Milana aku lihat selalu murung.”

“Perhatian sekali kamu Om badut. Lihat, lihat anak kecil itu, dari tadi nangis. Kenapa kamu nggak menghibur dia saja. Aku tak butuh kau hibur.”

“Anak itu sudah ada yang menghiburnya, kalau Milana siapa yang menghibur?”

“Aaaaahh… Sudahlah.” Kulempar botol mineral ke arahnya, lalu pergi dari hadapannya. Badut yang menyebalkan.

Badut.

Milana pergi dengan meninggalkan sekujur tubuhku yang basah karena siramannya, lagi. Semenjengkelkan itukah aku? Mungkin apa yang mengganggu pikiran Milana begitu berat, besok aku menghiburnya dengan cara yang lebih manis.

*

Milana.

Tadi siang Lelaki berwajah purnama itu mengirimi pesan singkat, entah apa yang ia pikirkan. Ia mengatakan sedang fitting baju untuk prewedding. Lelaki macam apa yang bisa mengatakan dengan entengnya, “Mil, aku sedang fitting baju dengan Suzan. Ah tapi sayang, bajunya suzan kesempitan jadi masih menunggu beberapa hari ke depan untuk foto prewed. Nggak apa-apa kan? Kalau di tubuhmu, pasti cukup Mil. Hehehe” Gila! Bisakah dia menghargai perasaanku? Aku mau menjadi photographer untuk prewedding, karena aku masih menganggapnya sahabat. Iya, sahabat sekaligus orang yang aku cintai. Aku bodoh? Memang. Tunggu! Tumben sekali badut itu tak datang menggangguku, apakah ia sudah kapok, atau kemarin aku terlalu keras padanya. Ah, peduli amat.

Kunyalakan sebatang rokok, tapi belum sempat api menyentuh ujung rokokku. Badut itu datang dan meniupnya. Kesal!

“Es krim lebih enak daripada rokok.” Ucapnya dalam selembar kertas yang ia letakan di dadannya, sambil menyerahkan sebatang es krim. Aku ingin marah, tapi kulihat tatap matanya, sepertinya ia memang bukan ingin menggangguku.

“Kenapa kau selalu ingin menghiburku, sekarang aku sedang tak sedih?” tanyaku.

“Apa Cuma orang yang bersedih saja yang butuh hiburan? Ndak kan.”

“Ah kau, bilang saja ingin dekat-dekat denganku. Hei, kau tak dimarahi managermu bila yang kau hibur selalu aku?”

“Ndak, malah managerku akan marah bila ada orang yang keluar dari Pasar Malam ini dengan wajah murung.”

Badut ini, entah mengapa bisa semanis ini. Atau akukah yang baru menyadarinya. Kemarahanku pada Lelaki berwajah purnama itu yang menutup geliat ketulusan  yang ada di matanya. Tapi tunggu, aku belum bisa mempercayainya sepenuhnya. Jangan-jangan ia orang suruhan Lelaki berwajah purnama itu, untuk terus membuntutiku dan menghiburku.

“Kau kenal dengan Purnama, jangan-jangan kau orang suruhannya Purnama. Katakan, aku bisa jaga diriku baik-baik. Untuk urusan pemotretan bisa ia langsung tanyakan di lokasi saja, tak perlu membuntutiku seperti ini.

“Siapa Purnama? Aku ndak kenal. Diakah orang yang selalu membuatmu bersedih?”

“Benar kau tak kenal Purnama? Sudahlah, lupakan.” Sahutku.

Malam menginjak sepuh, orang asing ini begitu mudah masuk dalam duniaku. Aku seperti mengenalnya jauh sebelum aku bertemunya di Pasar Malam ini. Siapa gerangankah kau, Badut penghiburku?

*

Milana.

Senja terjatuh puitis di garis horizon cakrawala. Sore tadi aku menghadiri resepsi pernikahan Lelaki berwajah purnama. Seharusnya senja kali ini menjadi senja yang paling jingga yang menyentuh wajahku, senja yang membawa kedukaan yang paling lirih di benakku. Seharusnya. Tapi entah mengapa, baying-bayang badut menyebalkan itu selalu menahan air mata tuk tumpah. Di kursi ini, aku menunggunya. Ia janji akan datang tanpa riasan topeng badut di wajahnya. Sungguh hal itu membuatku penasaran, dan membuat jantungku berdetak tak beraturan. Hei, ada apa ini?

Satu per satu pedagang yang biasa berjualan di Pasar Mala mini berdatangan, dan satu per satu wahana yang ada di Pasar Malam mulai bergeliat. Senja telah jatuh keperaduan cakrawala, meninggalkan aku yang masih menyalakan harap menantinya datang.

Pukul tujuh malam, jam di tanganku mulai berbisik untuk memadamkan harap itu. Tidak, tidak, Badut penghiburku pasti datang. Selama ini dia tak pernah mengingkariku.

Malam beranjak menjauh, dan satu per satu pedagang-pedagang itu kembali menutup lapaknya. Lampu-lampu kerlap-kerlip yang menghiasi beberapa wahana di Pasar Malam pun telah dipadamkan. Haruskah aku memadamkan rasa di hatiku yang semenjak senja tadi begitu bergejolak? Ternyata benar, kau harus berhati-hati menghibahkan hatimu, apalagi kepada orang asing yang wajahnya saja berias topeng.

Aku pergi, beranjak meninggalkan sesak dan segenap kedukaan di kursi itu. Kursi di sudut Pasar Malam yang lusa lalu ia janjikan kan menemuiku tanpa riasan badut di wajahnya di sana sebelum aku meninggalkan kota ini.

Hah, bukan pernikahan Lelaki berwajah purnama itu yang menghadirkan kedukaan dalam dadaku ternyata, tapi justru lelaki yang selalu menghiburku tiap malam dengan riasan topeng di wajahnya, yang menghadirkan kembali detak-detak tak beraturan di dadaku, yang tingkah menyebalkannya selalu kurindukan. Ironis.

Badut.

Siang tadi telepon berkali-kali. Aku tahu ada sesuatu yang terjadi, karena tidak seperti biasanya Ibu meneleponku saat aku sedang bekerja. Benar saja, gerobak dagangan ayah ditabrak mobil pengantar pengantin.

Senja merapat di tubir cakrawala, aku tahu di sana  Milana menungguku. Tetapi urusanku dengan pihak kepolisan dan Rumah Sakit belum rampung. Bodohnya lagi, aku tak punya nomor teleponnya Milana. Milana pasti marah padaku karena ia pikir aku mengingkari janjiku.

Setelah urusan-urusan dengan kepolisian dan Rumah sakit beres. Dan setelah kulihat keadaan ayahku tak begitu mencemaskan, aku segera ke Pasar Malam.

Di kursi dimana biasa aku menemuinya tak kujumpai siapa-siapa. Milana sudah pergi. Ini kesempatan terakhirku untuk menyatakan cinta yang telah terpendam bertahun-tahun lalu, sebelum Milana pergi, entah ke kota apa.

Kucari dari sudut ke sudut di Pasar Malam yang telah diselimuti keheningan itu. Milana tak ada. Lalu aku kembali ke kursi tempat aku menemuinya, kali saja ia meninggalkan pesan untukku.

Milana.

Entah ada kekuatan apa yang membawaku kembali ke kursi ini. Aku Cuma ingin menikmati malam di Pasar Malam ini lebih lama lagi, sebelum aku pergi dari kota ini.

“Milana?” ucap seseorang yang tak kusadari kedatangannya.

“Iya?” sahutku, ingatanku menerawang jauh sesaat setelah menatap wajahnya yang begitu familiar.

“Ryan? Ryan kan?” tanyaku.

Lelaki itu tersenyum dan duduk di sebelahku.

“Iya, aku Ryan. Tetanggamu waktu kecil sebelum kamu pindah ke Bandung. Oia, kita juga satu SMA juga.”

“Ooohhh iya, iya, kamu yang sering ngeliatin aku. Hehehe. Lho kok kamu di sini, nunggu atau jemput siapa?”

Ryan tak menjawab, ia justru mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah hidung badut berwarna merah. Aku tak lagi bisa berkata apa-apa, napasku tak beraturan, dan air mata tiba-tiba merembas membasahi pipiku. Ryan menyekanya.

“Milana, ndak boleh sedih lagi,” ucapnya, teduh.

***

One thought on “Milana dan Badut Penghibur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s