Permintaan Terakhir

“Ma, bacain Rani dongeng dong, ma. Rani nggak bisa tidur,” pinta gadis kecil dengan pipi berlesung itu sambil menghadap ke luar jendela.
“Rani…, mama capek banget sayang. Besok saja ya. Ayo, Rani bobok, sudah malam sayang,” rayu Tyas, ibunda Rani.
“Nggak! Nggak mau! Rani maunya sekarang, atau Rani lompat saja dari jendela!” teriaknya, membuat Tyas terkejut.
“Rani, jangan Rani…” kepanikan Tyas membuat Raka, suaminya terbangun dan bergegas ke kamar Rani.

*

Hampir tiga Tyas dan Raka menikah, namun belum juga dianugerahi seorang anak. Hingga pernikahan mereka memasuki awal tahun keempat, dan akhirnya di perut Tyas terisi seorang janin. Sesuatu yang dinanti-nantikannya sejak dulu. Bahagia dan haru menyeruak di wajah sepasang insan ini. Minggu demi minggu dan bulan demi bulan, janin di perutnya tubuh menjadi bayi mungil. Namun kebahagiaan yang menyeruak di awal kehamilan Tyas tak lagi terlihat. Dari hasil USG diketahui anggota tubuh sang bayi tak lengkap. Apa pun yang telah dititipkanNya pada manusia harus dapat diterima seikhlas-ikhlasnya, apa lagi seorang anak yang merupakan amanah. Bagaimanapun keadaannya harus disayangi.
Tepat di usia kandungan Tyas 9 bual lewat 10 hari, bayi itu lahir sesuai dengan apa yang pernah mereka lihat USG . Bayinya tak memiliki sepasang tangan. Tak ada tangis bahagia terdengar di ruang persalinan. Suara bayi yang menangis memecah keheningan malam, hanya dirayakan dengan tetes-tetes air mata haru.

Sing ikhlas lan sabar nggih, Nduk, ngerumatin anakmu,” bisik ibu dari Raka kepada Tyas.

Hening Maharani, begitulah nama bayi mungil itu. Tak terasa waktu berlalu. Usia Rani sudah beranjak 5 tahun. Dengan segala keterbatasannya, Rani tumbuh menjadi anak yang cerdas.

“Ma, bacain Rani dongeng ma,” pinta Rani pada Tyas yang masih menyelesaikan tugas-tugas kantornya.
“Rani, kamu bisa lihatkan, mama lagi banyak kerjaan nih. Sana minta ayah aja yang bacain,” sahut Tyas. Sebagai seorang pengusaha, Tyas selalu disibukkan dengan segala macam pekerjaan. Bahkan ia cuma punya waktu 5 jam saja di rumah, selebihnya ia habiskan di kantor. Raka pun sama saja dengannya.
“Ayah kan tadi pergi, ma. Ma, bacain, ma…” rajuknya.
“Rani! Jangan manja. Sudah minta Bik Narti saja yang bacain. Bik… Bik Narti.”
Bik Narti masuk ke ruangan kerjanya Tyas dengan tergopoh-gopoh.
“Iya, bu.”
“Ini tolong temenin Rani tidur,” perintah Tyas. Tetapi Rani sudah tak ada di ruangannya. “Mungkin, sudah ke kamarnya, kamu temenin dia dan bacain dongeng,” sambungnya
“Iya, bu.”

Dan tak beberapa lama kemudian terdengar teriakan dari dalam kamar Rani.

“Bu… Rani bu…”
“Narti! Da apa sih, ganggu saja!”
Bik Narti segera bergegas ke ruangan kerjaannya Tyas.
“Bu, Rani, bu… Rani jatuh dari kamarnya bu.”

Mereka berdua segera menuju halaman dengan terburu-buru, dan benar saja Rani sudah tergeletak. Rani menghembuskan napas terakhirnya saat akan menuju rumah sakit.

*

“Tyas… Tyas, kenapa kamu sayang,” Raka pun panik melihat istrinya yang histeris.
“Tadi, tadi, tadi Rani lompat dari jendela, sayang. Sayang, ceoat tolong Rani di bawah, sayang.”

Raka memeluk tubuh Tyas yang beberapa minggu ini begitu terpuruk setelah kehilangan Rani.

“Maafkan mama, Rani.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s