Di Angka Dua Belas

Di mana pun cinta terjatuh, hati harus tetap memilih. Benar, benar apa yang ditulis dalam novel ini.” Kututup dan kuletakkan novel Pilihan Hati karangan Putu Aditya Nugraha di samping Hot Cappucino yang tak lagi hangat.

Kusandarkan punggungku di sofa yang terletak di beranda, dan kudongakkan kepala, menerawang ke langit malam. Aku tak bisa seperti ini terus. Hatiku bukan seperti hati seorang penyair yang mampu dan tahan ditempa kehilangan-kehilangan. Penyair yang ditempa kesedihan akan menghasilkan sajak-sajak duka yang luar biasa, sementara kalau hatiku pastilah hancur luluh lantak. Tak menghasilkan apa pun selain dari penyesalan-penyesalan menghabiskan waktu dengan orang yang salah. Hatiku harus memilih. Tetap tinggal dan hidup dengan kebohongannya, merasa baik-baik saja. Atau beranjak pergi dan menemukan cinta yang baru, cinta yang baik.

Sudah dua belas kali aku menyaksikan segala macam pengkhianatan. Hati yang dikhianati. Oh semesta, tapi aku selalu mampu memaafkan mereka. Apakah hati perempuan selemah hatiku ini? Tidak, aku harus seperti apa yang dikatakan novel yang baru saja kubaca. Hatiku harus memilih, meski pilihan yang ada berujung pahit.

*

“Kamu tuh sudah umurnya untuk menikah, Rima. Ibu nggak mau kamu jadi perawan tua. Lagi pula kamu dan Toddy sebentar lagi menikah. Mau ditaruh mana muka ibu kalau kamu tiba-tiba membatalkannya,” ucap ibu tadi pagi lagi-lagi menciutkan nyaliku untuk beranjak pergi dari hatinya.

Ah, Toddy, dia seperti anak kesayangan ibuku sekarang. Apa pun yang dilakukan Toddy padaku selalu dianggap benar oleh ibu. Aku sempat berpikir sebenarnya siapa yang anak ibuku. Kenapa ibu tak pernah membelaku, kenapa ibu selalu menyudutkan aku ketika aku dan Toddy sedang bermasalah. Sebab itu, aku tak pernah menceritakan pada ibu bila Toddy berselingkuh. Karena semua percuma, ibu telah dibutakan materi yang kerap Toddy berikan padanya.

Tadi pagi ibu bilang ia tak mau melihatku jadi perawan tua, aku jadi bertanya-tanya ia benar-benar peduli padaku, atau ia takut lumbung keuangannya kering bila aku memutuskan batal menikah dengan Toddy. Oh hati, sabarlah sejenak, aku sudah melihat batasnya kau mampu menahan kesedihan. Sabarlah.

*
“Aku lelah. Aku mau kita akhiri saja,” ucapku memulai perbincangan dengan Toddy.
“Kenapa? Salahku apa?” kelit Toddy.

Ah, gila! Jelas-jelas belum lama ini aku memergokinya jalan dengan seseorang. Kalau saja seseorang yang jalan bareng dengannya sambil bergandengan tangan itu seorang wanita, hatiku tak sedemikian terluka. Toddy bersemesraan dengan seorang pemuda. Dan itu bukan kali pertama aku melihatnya seperti itu. Saat aku mampir ke rumahnya, ia melakukan hal yang lebih gila lagi.

“Sudahlah… Jangan jadikan aku sebagai kamuflase di hadapan keluarga kamu. Aku lelah seperti ini. Aku tahu, tapi aku pura-pura tak tahu karena aku tak ingin mengungkapkan hal ini ke siapapun. Aku lelah memendam ini sendirian. Lepaskan aku, Toddy, dan jujur saja sama keluargamu. Aku akan membantumu,” jelasku.
“Maksudmu apa?”
“Lelaki-lelaki yang ada di sekelilingmu menggangguku. Beberapa kali aku memergokimu melakukan, ah sudahlah. Lepaskan aku, Toddy. Lepaskan. Kita masih bisa menjadi teman baik.”
“Jadi, kau sudah tahu. Maafkan aku, Rima. Maafkan…”

Aku menggenggam tangan Toddy. Erat.

*

Jadi, sekarang sudah tiga belas kali aku merasakan patah hati. Ah tiga belas, my lucky number. Tak apalah, setidaknya hatiku telah memutuskan pilihan yang tepat dan cepat.

“Hai, Rim, sorry kelamaan. Oh ya, kenalin ini pacarku, Ryan,” sapa Toddy sambil menggandeng gebetan barunya.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s