Potret Ibunda

Gadis kecil dengan rambut dikepang itu selalu riang bermain dengan kawan-kawannya saat istirahat. Tak sedikitpun terbersit rona wajah sedih atau minder, meski hidupnya tak seperti kawan-kawan sepermainannya. Ia tak pernah diberi uang saku. Perutnya hanya terisi nasi dan bakwan jagung waktu sarapan tadi. Itupun masih untung, kadang ia cuma sarapan nasi dan garam atau singkong dan gula. Gadis kecil itu Sekar Arundhati, ia masih duduk di bangku kelas 4 SD. Ayahnya buruh ladang di kebun milik tetangganya. Sekalipun hidup serba kekurangan, Sekar tergolong anak yang cerdas. Rangkingnya tak pernah keluar dari 10 besar, bahkan saat ujian kenaikan kelas lalu ia dapat peringkat satu dan mendapat hadiah seperangkat alat-alat sekolah.

Bel masuk berbunyi. Sekar segera berlari masuk kelas, sebab pelajaran selanjutnya adalah pelajaran kesukaannya. Ya, Sekar menyukai mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ia bercita-cita menjadi seorang pengarang seperti Tere Liye, pengarang pujaannya. Hadiah novel, Ayahku bukan pembohong dari Bu Inayah, walikelasnya, yang membuatnya dirinya semakin membulatkan tekad menjadi seorang pengarang.

“Anak-anak siapa yang tahu besok hari apa?” Bu Inayah memulai pelajaran bahasa Indonesia.
“Hari sabtu, Bu…” seluruh anak menjawab serempak, namun cuma Sekar terdiam.
“Benar, tapi bukan itu yang ibu maksud. Coba Sekar, kamu tahu besok hari apa?” tanya Bu Inayah pada Sekar yang terlihat tiba-tiba murung.

Sekar tahu besok lusa adalah Hari Ibu. Hari di mana tiap anak-anak di kelasnya menceritakan pengalaman-pengalaman menyenangkan bersama ibu-ibu mereka. Sementara Sekar dari tahun ke tahun hanya bisa menjadi pendengar saja saat kawan-kawannya menceritakan ibunya dengan gelak tawa dan senyum semringah. Sekar tak memiliki ibu. Sejak kecil ia cuma mengenal Ayah dan Neneknya yang telah meninggal dunia setahun lalu.

“Sekar, kamu kenapa Nak?” tanya Bu Inayah, melihat air muka Sekar yang berbuh drastis dari riang lalu kemudian murung sedih.
“Nggak apa-apa, bu. Besok hari Ibu,” sahut Sekar, lirih.
“Benar, besok hari ibu. Ibu mau, kalian bawa benda yang mengingatkan kalian pada ibu kalian. Lalu ceritakan kisah menyenangkan apa yang pernah kalian lakukan bersama ibu kalian.”

Benar saja apa yang diduga Sekar. Kawan-kawannya pasti akan bercerita tentang liburan dengan ibu mereka, memasak dan membuat kue bersama ibu mereka. Terkadang di pikirannya Tuhan tak adil, ia dilahirkan tanpa seorang ibu. Beberapa kali Sekar bertanya pada ayahnya mengenai Ibu, ayahnya yang begitu tegar sekejap saja bisa menangis. Kalau sudah begitu Sekar tak lagi berani menanyakan perihal Ibu pada ayah. Pernah sekali waktu Sekar bertanya pada Neneknya, sang Nenek hanya bercerita ibunya adalah seorang perempuan berwajah bidadari, cantik. Hanya sebatas itu saja, selebihnya Neneknya sama seperti ayahnya, menangis dan meninggalkan sejuta tanda tanya di kepala Sekar.

*

Malam beranjak sepuh, dengan hanya diterangi cahaya lampu minyak, Sekar menyelesaikan tugas-tugas sekolah yang diberikan. Sebelum beranjak tidur, Sekar mendekati ayahnya yang tengah duduk di beranda.

“Ayah, besok hari Ibu. Dan Sekar ingin sekali bercerita di depan kelas mengenai ibu. Sekar nggak mau lagi cuma jadi pendengar. Ayah, ayah bisa ceritakan ibu itu seperti apa?” Sekar duduk di samping ayahnya dan merangkul erat sang ayah.
“Sekar, sekarang kamu sudah beranjak besar. Rasa-rasanya sudah saatnya kamu tahu cerita mengenai Ibumu.”

Ayah menghela napas. Matanya menerawang.

“Ibu kamu seperti apa yang pernah diceritakan Nenekmu. Ia cantik, sangat cantik, seperti bidadari. Kalau kamu bercermin, kamu bisa menemukan potret ibu kamu di wajahmu. Mata yang bulat indah seperti matamu, alisnya yang hitam, bibir tipis seperti milikmu yang bila tersenyum begiotu meneduhkan hati orang yang memandangnya. Semua ada di kamu, sayang,” sambung Ayah, terbata menahan isak.
“Ayah, sudah tak perlu dilanjutkan. Sekar takut Ayah bersedih,”
“Tidak sayang, ayah tidak sedih,” sahut Ayah sambil menyeka air mata yang meleleh di pipinya.
“Ayah, sekarang Ibu di mana?”
“Ibu kamu ada di tempat yang indah. Dia selalu mengawasi kita dari sana.”
“Apa di sana Ibu nggak kesepian, Yah?”
“Tidak, sayang, di sana ibu berbahagia.”
“Ayah kenapa pergi? Ibu nggak sayang Sekar ya?”
“Tidak sayang, Ibu pergi karena dia lebih sayang kamu melebihi rasa sayangnya pada dirinya sendiri.”

Malam itu ayah Sekar bercerita tentang semua hal mengenai Ibunya. Malam yang begitu panjang, hingga tak terasa Sekar sudah nyenyak terlelap dan bertemu ibunya dalam mimpi.

*

Satu per satu kawannya sudah maju dan menceritakan kisah-kisah menyenangkan mereka bersama Ibu. Bu Inayah pun sudah beranjak dari bangkunya, hendak menutup pelajaran. Sekar bediri dan mengacungkan tangan.

“Saya mau bercerita, Bu!”
“Sekar mau cerita? Emangnya Sekar punya ibu, palingan juga ngarang,” ujar salah satu temannya yang duduk paling belakang
“Iya. Huuuuuu…” disambut dengan teriakan seluruh murid.

Sekar tertunduk. Baru kali ini Sekar terlihat minder seperti itu.

“Sudah, sudah, diam anak-anak. Sekar mau cerita tentang Ibu atau Nenek Sekar? Silakan maju Nak,” Bu Inayah mempersilakan Sekar bercerita.
“Sekar, sekar, kamu bawa benda apa? Memangnya kamu punya benda yang mengingatkan kamu sama ibu kamu?” celoteh temannya yang duduk dekat jendela.
“Dimas, bisa diam! Atau kamu keluar. Biarkan Sekar bercerita dulu,” Bu Inyah memperingatkan
“Terima kasih, Bu. Aku memang nggak punya benda yang mengingatkanku pada Ibuku. Aku cuma punya potret ibuku. Dan potret itu melekat di wajahku. Kata ayahku, kalau aku mau melihat ibu aku cukup bercermin dan tersenyum. Ibuku secantik bidadari, dan selembut peri.”

Sekar menceritakan semua cerita tentang ibunya yang ayah ceritakan padanya. Sekar menceritakannya begitu ekspresif. Kawan-kawannya yang awalnya tak mendengarkan, jadi ikut memperhatikan sampai akhir.

“Demikian kisah aku dan ibuku yang ayah ceritakan padaku,” tutup Sekar dan seluruh teman-temannya bertepuk tangan, termasuk yang tadi mengoloknya.

“Terima kasih, Ayah. Terima kasih Ibu…” ucapnya dalam hati.

***

One thought on “Potret Ibunda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s