Pengantar Pesan

“Kau siap Jo?”
“Siap Yah.”
“Ayah ingatkan sekali lagi, cari perempuan berkacamata dengan tahi lalat di sudut matanya sebelah kanan. Lalu kau berikan surat ini padanya. Setelahnya tekan tombol warna hijau di remote ini. Ingat Jo tekan tombol warna hijau, karena perjalanan ini tidak di-setting waktu kembalinya. Jadi yang bisa membawamu kembali hanya kamu sendiri,” ucap Ayah sambil memberikan sebuah remote dan sepucuk surat.
“Mariska Poppy? Siapa ini Yah?”
“Sudah, nanti kau tahu sendiri.”

Setelah mengatakan hal itu, ayah kembali duduk di belakang komputernya, sementara aku masuk ke dalam sebuah tabung raksasa. Ini untuk pertama kalinya Ayah mengirim manusia ke masa lalu, sebelum-sebelumnya ayah menggunakan hewan atau benda-benda mati dan selalu berhasil membawanya kembali. Sebenarnya ayah melarangku ambil bagian dalam proyeknya, tapi aku memaksanya. Aku ingin menjadi orang pertama yang mampu menjelajahi ruang dan waktu.

“Yah, kenapa tidak di-setting waktu kembalinya saja seperti percobaan-percobaan yang dulu?” tanyaku.
“Karena kamu harus mencari seseorang Jo. Ingat Jo, baterai di remote itu hanya mampu bertahan 15 jam, atau 3 jam waktu di masa lalu.”
“Siap Yah!” sahutku, kemudian kututup pintu tabung kedap udara itu.

Koordinat pengiriman telah diterima. Peluncuran kapsul waktu terhitung mundur. 3… 2… 1… Sleeepppp… Cahaya menyilaukan dari tumbukan-tumbukan atom menghujani tubuhku, kemudian tubuhku terpecah menjadi partikel-partikel kecil, dan terhisap lorong waktu.

Dalam perjalanan di lorong waktu banyak hal-hal yang aku temukan. Kilasan-kilasan peristiwa masa lalu seperti film seluloid yang tengah berputar dalam bioskop. Menarik, takut, kagum, semua menjadi satu dalam benak. Dalam pikiranku, ini menjadi pengalaman yang tak pernah akan terlupa dan sesuatu yang membanggakan untuk diceritakan pada anak-cucu.

Sleeeeeep… Hanya 5 menit perjalanan dalam lorong waktu yang sungguh luar biasa. Kini aku telah sampai di tempat tujuan. Di depan tempatku “mendarat” ada sebuah bangunan SMA. SMA Negeri 95 Jakarta? Ini sih SMA-ku dulu, tapi mengapa temboknya masih berwarna putih, seingatku dari aku lulus sampai kemarin aku lewat depannya, temboknya masih berwarna hijau. Tunggu dulu, Mariska Poppy. Aku juga tak kenal nama ini. Berarti ayah bukan membawaku ke masa aku sekolah. Hah, tapi untung saja sekelilingnya sepi. Kalau ramai bisa repot menjelaskan kedatanganku yang tiba-tiba muncul.

Aku melangkahkan kaki menuju gedung itu. Gerbangnya masih pendek, tak seperti sekarang. Mungkin banyak yang bolos jadi dibuat lebih tinggi, mungkin. Ruangan kelas yang aku lalui telah sepi, entahlah saat itu jam berapa. Di tanganku sih masih jam 20.00, tapi jam di tanganku menunjukkan waktu masaku. Aku mendengar riuh suara dari lapangan basket. Ternyata lapangan basketnya tak pernah berubah. Sedang ada latihan rupanya. Pikirku, semakin cepat aku menemukan perempuan bernama Mariska Poppy, semakin cepat aku kembali ke masaku.

“Sorry, boleh nanya? Ada yang kenal sama Mariska Poppy nggak?”
“Poppy… Poppy anak paskibra? Dia latihannya besok. Tapi nggak tahu latihan atau nggak, katanya sih dia mau pindah sekolah gitu. Memangnya ngapain nyariin Poppy?”
“Nggak, nggak apa-apa. Saya cuma pengantar pesan saja,” sahutku.
“Hmm… Kurir? Ahahaha… Sini titipin sama gue aja. Gue sama poppy sohiban banget.”
“Apaan sih, gue kali yang sohiban banget sama Poppy,” ujar yang lainnya, nggak mau kalah.
“Udah, udah, sok kece banget sih lo lo semua. Poppy itu deket sama gue, sini titipin sama gue aja.” Kata yang seseorang yang kusapa diawal tadi.
“Nggak usah, terima kasih,” ucapku sambil menuju kantin.

Untung aja, di kantin penjual es campur masih buka. Melewati lorong waktu membuat aku kehausan. Tunggu dulu, sepertinya aku mengenal pria berkacamata yang duduk sendirian sambil membaca buku meja di sana. Ayah! Jadi, aku dibawa ke masa ayah bersekolah di sini. Dan penjual es campur itu, Mang Encim yang baru meninggal sehabis lebaran kemarin, dia masih tampak gagah sekali.

“Yah… Eh maksud saya,saya boleh duduk di sini,” sapaku, terbata.
“Oh boleh silakan,” jawabnya
“Kamu, Profesor Ilyas Tirtayasa kan?”
“Maaf, Profesor?”
“Oh, maaf, maksud saya Ilyas Tirtayasa?”
“Iya, ada apa? Kok kamu bisa kenal saya”
“Ah, ini terdengar aneh. Mungkin kamu bisa mengatakan saya gila. Saya dari masa depan, saya dikirim ke sini oleh kamu, untuk mengantarkan ini buat Mariska Poppy,” Aku menyerahkan sepucuk surat di hadapannya.
“Maksudnya?”
“Di masa depan kamu akan jadi seorang Profesor fisika ternama yang mampu menciptakan mesin waktu. Dan saya orang pertama yang menggunakan mesin waktu ciptaan kamu.”
“Saya nggak percaya!” hentaknya sambil menutup buku mengenai Relativitas Umum Albert Einstein.
“Kamu nggak percaya? Lalu kamu nggak percaya juga teori kuantum dapat diaplikasikan?”

Pria berkacamata itu tertegun.

“Kalo kamu nggak percaya, lihat ini,” Aku membuka dompetku dan mengeluarkan fotoku dengan foto ayah yang tengah berdiri di depan Prototipe mesin waktunya.
“Ini saya?”
“Iya, ini kamu, Ayah saya.”
“Oke, walaupun agak aneh, saya coba mempercayai kamu. Tapi tolong, jangan panggil ayah di sini. Oh ya tadi kamu ke sini dikirim saya untuk memberikan surat ini untuk Mariska Poppy?”
“Iya. Siapa itu Mariska Poppy?”
“Ibumu namanya siapa? Bukan Mariska Poppy?”
“Bukan. Memangnya kenapa? Hmmm… Jangan bilang, kamu naksir Poppy,” sahutku, pria berkacamat itu hanya tersipu menandakan apa yang kuduga benar. “Sayang Poppy nggak ada, padahal aku ingin tahu cinta pertamanya Ayah tuh yang seperti apa. Ceritakan dong,” sambungku.
“Poppy itu cewek populer di sini. Selain pintar, dia cantik. Dia baru aja kemarin dapet beasiswa ke Amerika. Dan besok dia bakal mengikuti pertukaran pelajar,” jelasnya.
“Dia udah tahu kamu menyukainya?”
“Belum.”
“Hmm… mungkin Ayah mengirimku ke sini untuk mengatakan itu. Ya sudah, saya titip surat ini ke kamu saja.”
“Kok saya? Ini tambah aneh, saya dititipi surat oleh orang yang saya titip surat. Aneh!”
“Udah nggak apa-apa, dari perasaan cinta ditahan sampai puluhan tahun. Lagi pula saya harus cepat kembali. Oh ya bilangin Mang Encim, jangan banyak ngerokok.”
“Ya sudah, sampaikan salam saya untuk saya di masa depan.”
“Aneh…” sahutku sambil menekan tombol warna hijau.

Sleeeeppp… aku lenyap di hadapannya.

*

Di masa Kini

“Jadi, Poppy itu cinta pertama Ayah?”
“Iya, Jo. Tapi Ayah nggak pernah menyatakan perasaan Ayah padanya sampai saat peristiwa itu terjadi.”
“Peristiwa apa Yah?”
“Pesawat yang ditumpangi Poppy jatuh. Ayah menyesal tak mengatakannya.”

Kupeluk tubuh ringkih ayah beserta penyesalan-penyesalannya.

*

Di masa Lalu

Dear Poppy,

Aku tak ingin menuliskan sesuatu yang berbelit-belit dalam surat ini. Aku pun tak ingin dihantui rasa penyesalan seumur hidupku, sebab garis takdir Tuhan seberapapun hebat dan pintarnya manusia, tak ada yang dapat mengubahnya. Aku Cuma ingin mengatakan hal sederhana, aku mencintaimu.

Tertanda,

Ilyas Tirtayasa.

Poppy tersenyum setelah membaca surat yang diserahkan pria berkacamata.

***

2 thoughts on “Pengantar Pesan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s