Tombol Pengingat

“Coba kamu lihat dan pandangi langit sebelah sana, lihat bintang yang paling terang, lalu sentuh dengan jemarimu. Di manapun aku berada aku akan segera mengingatmu. Bintang itu yang akan menyatukan kita. Bintang itu milik kita,” ucapnya kala itu, sebelum ia menghilang tanpa mengabariku sebelumnya. Kini, sudah 3 bulan berlalu hal itu masih kerap kulakukan, Memandangi kubah langit bagian selatan, lalu mencari bintang yang paling terang dan menyentuhnya. Ah, andai saja aku bisa membawa pulang bintang itu dan kugantung di kamarku hingga tak usah berepot-repot mendaki bukit yang dulu pernah kami beri nama bukit harapan.

Lelaki itu, lelaki dengan mata terindah dan senyum paling rupawan telah mengambil seluruh hatiku. Semestinya, tak seperti ini. Pria-pria yang pernah mendekatiku dan menjalin hubungan denganku tak sekalipun pernah kuizinkan mengambil seluruh aku. Tapi Ratya, lelaki itu, aku sukarela membagi seluruh hatiku untuknya. Ia datang bagai kelebat cahaya yang begitu menyilaukan mataku, awalnya. Namun lama kelamaan, cahaya yang menyilaukan itu menjelma jadi warna-warni pelangi yang senantiasa menghiasi mataku. Hah, perempuan mana yang takkan luluh dengan sikap kelemah-lembutan Ratya. Lelaki asing yang tiba-tiba begitu memahamiku dari segala hal-hal yang tak pernah mampu dipahami pria manapun yang pernah dekat denganku. Oh Ratyaku, aku rindu. Izinkan malam ini aku menyentuh bintang benderang itu lebih dari sekali.

*
“Nay, nayaaaa… Bangun!” teriak Risti tepat di tengah lubang telingaku.
“Duuuhh, apa sih Ris. Gangguin orang mulu,” keluhku sambil menutup kepalaku dengan bantal.
“Naya, bangun! Udah hampir malem masih juga molor. Katanya lo mau gue kenalin sama sepupu gue yang baru balik dari Jogja,” Risti menarik batal yang menutupi kepalaku. “Move on dong, Nay. Move on! Lagian lo ah, cowok cemen kayak Ratya aja lo tangisin,” sambungnya.
“Apaan sih, Ris?! Udah deh, jangan jelek-jelekin Ratya. Dia bukan seperti apa yang ada di kepala lo,” sungutku.
“Iya iya, sorry. Udah sono mandi. Bauuu…”

Apa Ratya cemen? Ya ya ya sebagian teman-teman di kampus bilang seperti itu. Kacamata dengan frame besar dan lensa mata tebal, outfit vintage, rambut belah samping nan klimis. Oh ya Tuhan, tak pernah terbayangkan sebelumnya aku bisa jatuh cinta begitu dalam dengan Ratya. Dia bukan tipe lelaki impianku. Dibanding dengan Doni, mantan terakhirku jauuuuuhhh bingit! Ratya itu romantis. Ya, Ratya itu romantis. Memperlakukanku dengan manis. Apa yang aku inginkan, ia selalu berusaha mengabulkannya. Terkadang aku suka menjahilinya, tetapi dia tak pernah sedikit pun mengeluh. Satu momen yang paling romantis yang pernah ia berikan, bukit harapan itu. Di bukit itu terdapat pohon trambesi yang batang begitu besar, dan di batangnya itu kami sering menempelkan kertas berisi harapan-harapan.

“Kenapa nggak dipaku aja sih, Ay, kalo cuma pake lem aja bisa copot diterbangkan angin,” ujarku, dulu padanya.
“Jangan! Pohon ini juga mahluk hidup, kalo kamu lukai dengan paku, ia juga pasti akan merasakan sakit. Lagi pula memangnya kamu nggak bosan punya harapan yang itu-itu saja, aku ingin harapan-harapan kita ini diterbangkan angin ke tempat yang entah. Lalu kita buat kembali harapan yang baru. Sebab bukankah harapan baru itu harus selalu kita ciptakan sebagai gairah hidup?” sahutnya, aku hanya mengangguk dan memeluk erat setelahnya.

Ratya, hari ini Risti akan mengenaliku dengan sepupunya. Aku tak berharap banyak dia bisa menggantikan kamu di hatiku, karena kamu memang tak pernah terganti. Ratya, seandainya saja aku boleh meminta satu lagi keinginan padamu saat ini, maukah kau mengabulkannya? Ratya, beri aku satu penjelasan mengapa kamu pergi tanpa mengabariku. Mungkin dengan begitu aku bisa dengan mudah menghapusmu dari ingatanku.

“Nay! Mandinya lama amat. Ini si Jojo udah nelponin dari tadi,” teriak Risti.
“Iya, bawel… Sebentar. Etapi kita ke bukit harapan dulu ya, Ris?” sahutku dari balik pintu kamar mandi.
“Hah, bukit harapan?” gumam Risti sambil mengernyitkan dahi.

*

Harapan harus tetap tumbuh untuk menghidupi gairah hidup. Sekalipun aku berada di jarak ratusan tahun cahaya, aku selalu mendoakanmu dari tempat aku berada sekarang. Karena cinta adalah doa, Nay. Aku pergi, karena tugasku di Bumi sudah berakhir. Seperti apa yang pernah aku katakan padamu, sentuhlah bintang yang paling terang di kubah langit selatan, itu bintang kita Nay. Di sanalah aku berada sekarang, merindukanmu dari waktu ke waktu.
– Ratya

Kututup lagi gulungan kertas yang kutemukan di dekat pohon trambesi. Mataku basah memandangi langit. Kusentuh bintang yang paling terang, lalu gulungan kertas itu tiba-tiba berubah jadi sekumpulan kunang-kunang, mengerubungiku. Risti hanya tercengang menyaksikan hal itu.

“Aku juga merindukan kamu, Ratya.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s