Sepasang Sepatu Tua

Bruuukk…

Aku dilempar dari sebuah mobil pick up karatan ke sebuah tempat penampungan. Bau busuk menyeruak. Ah, aku dibuang ke sebuah TPS. Gunungan-gunungan sampah yang tak pernah terbayangkan ada di hadapanku.

Entah bagaimana awal mulanya, tapi yang pasti saat aku terjaga aku telah berada di sebuah ruangan kaca berpendingin udara. Semua begitu tertata rapi dan bersih di tempat itu. Orang-orang silih-berganti memandangku dengan takjub. Beberapa orang berharap memilikiku, tapi isi kantong mereka tak menghendakinya. Ya, lama-kelamaan aku bosan menjadi penghias etalase. Memandangi beberapa kawanku telah pergi bersama kaki-kaki impian mereka. Hah, apa aku diciptakan hanya untuk jadi penghias etalase toko ini, Tuhan? Keluhku setiap ada pembeli yang tak jadi membawaku pergi dari tempat yang semakin membosankan ini. Hingga akhirnya di suatu petang, seorang perempuan muda mendatangiku. Ia terpesona dengan warnaku yang cokelat cerah, dan beberapa kontur di tubuhku yang menurutnya seksi. Aku mendengar dari perbincangannya dengan penjaga toko, ia menginginkan aku menjadi pelindung kaki bagi kekasihnya. Wajahnya berseri-seri saat ia menceritakan hal itu, begitupun dengan aku.

Aku menarik napas dalam-dalam, akhirnya aku bisa mencium harum wangi kardus pembungkus ini, dan sebentar lagi aku pun akan mencium telapak kaki sang pria pujaan perempuan muda ini. Oh, alangkah senangnya.

“Bagaimana, Mas, kau suka?” ucap Perempuan muda pada kekasihnya.
“Suka, aku suka modelnya tapi mengapa tidak yang warna hitam saja sih sayang,” sahutnya, aku sedih melihat raut kekecewaan di wajah perempuan muda itu.
“Sudah tak apa, aku senang kok kamu belikan ini. Nanti aku pakai,” sambungnya, disambut dengan senyum mungil di wajah perempua muda itu yang sempat mengguratkan kekecewaan.

Sudah berbulan-bulan aku menjadi alas kaki bagi kaki kekasih si perempuan muda. Aku dibawanya ke tempat-tempat yang tidak pernah terbayangkan olehku saat berada di etalase toko. Dan aku pun menjadi saksi pengkhianatan cinta pria ini kepada perempuan muda. Saking kesalnya ketika pria ini makan malam dengan gadis selingkuhannya, aku berontak, aku meremas telapak kaki pria ini hingga lecet. Dan mulai saat itu aku tak lagi dikenakannya, ia memilih membeli yang baru. Sementara aku, menjadi penghuni baru rak sepatunya yang sempit dan bau.

*

“Mas sepatunya bagus, buat aku saja ya?” ucap lelaki muda yang tiba-tiba menghampiriku yang berdebu.
“Ambillah, besok kau sudah mulai bekerja kan? Bisa kau pakai sepatu itu.” Ucap pria yang menyimpanku dalam rak sepatunya yang bau berbulan-bulan.
“Makasih, Mas…” jawab lelaki muda itu dengan wajah berseri. Berseri, persis seperti perempuan muda yang pernah memilihku dan mengajakku mengenal dunia. Ah, aku jadi rindu dengan wajah perempuan muda itu. Sejak bertengkar dengan kekasihnya yang kudengar dari balik rak sepatu malam itu, aku tak pernah mendengar renyah tawanya lagi.

Tapi kini aku senang telah menjadi bagian dari lelaki muda ini. Ia begitu enerjik dan bersemangat. Aku yakin ia kan merawatku dengan baik, seperti aku merawat telapak-telapak kakinya. Berhari-hari hingga berminggu-minggu, kami melewati hari, melalui aspal legam yang kadang panas menyengat dan kadang pula becek karena hujan. Aku tak peduli, karena aku diciptakan memang untuk melindungi kaki-kaki kesayangan.

Preeekk…

Tubuhku ada yang robek. Aku mengamati wajah lelaki muda itu, ia terlihat begitu sedih.

“Berapa Pak?” tanya lelaki itu di sebuah lapak sol sepatu. Aku gembira, lelaki muda ini akan menjahit bagian tubuhku.
“Dua puluh lima ribu, Mas,” sahut tukang sol sepatu.
“Mahal amat, Pak?” lelaki muda itu agak kecewa.
“Iyalah Mas, udah rusak parah gini. Bahan kulitnya juga lagi susah mas.”
“Mending beli yang baru, tinggal ditambahi beberapa rupiah saja.” Gumamnya.

Lelaki muda itu meninggalkan lapak sol sepatu, sesekali ia melirik ke arah tubuhku yang memang telah lusuh. Ia berjalan gontai di antara pusat pertokoan. Lalu terhenti di sebuah toko sepatu. Ah, aku masih ingat benar, dulu yang ada dijajaran etalase paling depan itu aku. Lelaki muda itu memilih sepatu di etalase paling depan. Aku sedih. Aku kecewa. Apa lagi setelahnya, setelah ia memakai sepatu baru dan aku ditinggal sendirian di pelataran toko, di samping tong sampah. Petualangku dengan lelaki muda ini telah berakhir saat tukang sampah mengangkutku ke gerobaknya dan kembali melemparku ke dalam pick up karatan. Ah, sepatu tua macam aku siapa yang meminatinya.

“Pak’e iku pak’e sepatune isih bagus, lumayan pak’e…” ujar seorang ibu-ibu berparas kumal dengan keranjang sampah di punggungnya.
“Wah lumayan bu’e, aku pake wae daripada kakiku kena pecahan beling lagi,” sahut lelaki yang tak kalah kumal dengan wajah berseri-seri sambil memasukkan kakinya ke tubuhku. Ah, aku kembali menemukan wajah berseri seperti wajah perempuan muda di toko sepatu waktu itu.

Aku tak peduli dengan kaki bau pemulung tua ini, bukankah aku diciptakan untuk melindungi kaki-kaki kesayangan?

One thought on “Sepasang Sepatu Tua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s