“Di Karet, Sampai Juga Deru Dingin.”

Puisi untuk Tuan Chairil

Aku merasai sebagai jiwa yang kalah,
tatkala menatap hening pualam nisanmu yang dingin.
Geligir sepi di ruas tungkai dedaun cemara yang masih menyimpan namamu,
begitu lirih melantun bait-bait tentang penantian, tentang keinginan
: “Aku mau hidup seribu tahun lagi.”

Deru dingin kini telah sampai di Karet.
Bukan hanya menyekap tubuh bisumu,
tetapi juga mendekap tubuh kesepian-kesepianku.
Dan kisah-kisahmu telah dipatungkan dalam benak,
sebagai tugu peringatan bahwa kekalahan-kekalahan juga patut untuk dirayakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s