Reruntuk Rindu

Kularung malam yang menggenang di matamu,
menakhlikkan sejuta pias di wajah bulan yang mati cahaya.
Oh Puan, rindu yang kerap kita kultuskan di tubir beranda telah seruncing seligi.
Dan pada jenak-jenak jarum jam yang tak berani bersuara lantang,
pada lirih sepi yang bersembunyi dalam bait-bait luka,
pada rangkaian takdir yang terluah dari bibir Tuhan
ada jeda perbincangan beku tentang reruntuk rindu.
Kita, telah menjadi sepasang pertapa buta dalam keheningan masing-masing.
Lalu keheningan-keheningan itu menjelma jadi lingga-lingga, terpancang di dada, sebagai isyarat purba yang ‘kan dibaca semesta.
Reruntuk rindu, kini tinggal debu-debu di pias wajah bulan mati cahaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s