Ini Cinta, Dian.

“Cinta itu seperti apa, Bunda? Apa ini yang namanya cinta, Bunda? Bunda, kenapa menangis? Apa cinta yang membuat Bunda menangis? Ah, kalau begitu Dian nggak mau cinta, cinta itu jahat, cinta bikin Bunda menangis. Dian mau cokelat aja. Bunda jangan nangis lagi ya, nih cokelat Dian buat Bunda aja.”

Celoteh luguku saat itu, saat mendapati Bunda tersungkur di dalam kamarnya. Wajah Bunda lagi-lagi lebam, keningnya membiru, dan darah menetes dari bibirnya yang kerap menceritakan dongeng-dongeng manis pengantar tidurku. Seluruh ruang di kamarnya berantakan, pecahan kaca, sperei tempat tidur yang acak-acakan, dan baju Bunda yang koyak. Bunda selalu mengatakan, itu cinta. Nalarku yang saat itu masih kanak-kanak belum begitu memahami apa yang dikatakan Bunda, yang aku tahu saat itu hanyalah lelaki itu menyeret Bunda ke dalam kamar dan setelahnya aku tak pernah tahu apa yang terjadi di dalam kamar. Hanya suara tangis dan jerit Bunda meminta ampunab pada lelaki itu yang terdengar. Beberapa jenak kemudian, lelaki itu akan keluar dari kamar dengan wajah puas. Sementara Bunda tergeletak tak berdaya di atas ranjang.

“Ini Cinta, Dian,” ujar Bunda dengan suara lirih.

Seiring waktu yang mendewasakanku, kini aku bukan lagi gadis kecil lugu yang selalu mempercayai ucapan Bunda bahwa tindakan dan perlakuan lelaki itu terhadap Bunda adalah cinta. “Itu bukan cinta, Bunda, itu pelecehan,” aku selalu ingin berkata demikian pada Bunda, tapi belum sempat kalimat itu terluahkan dari bibirku, Bunda selalu memelukku dan bibisik lirih, “Tak apa, Dian. Ini cinta.”

*

Malam itu,  rumah begitu hening, tak seperti biasanya Bunda tak terlihat menungguku pulang kuliah di beranda. Perasaan cemas lantas menyergap diriku. Aku segera berlari ke kamar Bunda. Seperti biasa jika lelaki itu datang, Bunda terkapar di atas ranjangnya dengan wajah lebam. Pria yang seharusnya menjadi pelindungku dan Bunda, kini tak ubahnya serigala yang memangsa kawanannya sendiri. Bunda tak lagi bisa bangkit dari ranjangnya untuk memelukku dan berbisik lirih bahwa apa yang ia lakukan atas nama cinta. Aku mencoba mengangkat punggung Bunda dan menyandarkannya ke sandaran ranjangnya. Terkejut. Tanganku berlumur darah, dan sebilah pisau tergeletak di dekat jendela.

“Cepat, cepat pergi, Dian. Cepat. Mumpung ayahmu sedang membeli rokok,” ucap Bunda saat itu, sambil menyelipkan beberapa lembar uang ke sakuku.

Bunda, apa ini yang namanya cinta? Lelaki itu menyeringai. Sekujur tubuhku dingin. Beku. Kelu.

7 thoughts on “Ini Cinta, Dian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s