Ming

Langkah-langkah kaki ringkihnya membawanya ke sebuah bangunan bertingkat dua. 15 tahun berlalu sedemikian cepat, ia hampir saja tak mengenali bangunan itu. Semua telah berubah, pohon trambesi di sisi dekat jalan raya tempatnya menghabiskan waktu beristirahat sudah hilang, berganti dengan puluhan pedagang yang mengular di belakang pagar tinggi besar. Ah, dulu pagar itu tak setinggi itu. Bahkan anak-anak bisa melompati dengan sekali ayunan kaki. Ya, semua telah berubah, bahkan untuk dirinya sendiri. Lelaki itu memandangi kerutan kulit di tangannya yang kusam dan kotak kayu yang dikalungkan di kepalanya.

Beberapa jenak kemudian ia terduduk di samping pagar yang dulu seingatnya tak setinggi itu, menyandarkan tubuh, merasakan semilir angin. Siang yang terik, peluh yang menetes dari kepalanya adalah hal yang biasa, dan sesekali matanya yang cekung meneropong ke dalam bangunan bertingkat dua itu, meneroka kenangan masa lalu. Minggus atau biasa dipanggil Pak Ming,  siapa yang tak mengenal dengan guru baik hati ini. 25 tahun Pak Ming mengajar mata pelajaran Sejarah di Sekolah Menengah Pertama ini. Kesetiaannya dan kejujurannya pada integritas pendidikan yang bersih jangan ditanya, ia pernah menolak uang pemberian seorang wali siswa saat ia menjabat sebagai wali kelas. Tentu saja pemberian uang itu bukan cuma-cuma. Pak Ming diminta menaikkan seorang anak yang menurut penilaian raport-nya harus tinggal kelas. Karena merasa sakit hati uang pemberiannya ditolak, walikelas itu mengembuskan isu: Pak Ming guru mesum! Sontak, gemparlah seluruh warga sekolah. Beberapa ada yang termakan isu, dan meminta Pak Ming mengajukan pengunduran diri. Namun dari hasil penyelidikan tak ditemukan hal-hal yang keluar dari norma kewajaran. Nama baik Pak Ming terpulihkan. Justru wali siswa yang mengembuskan itu merasa malu dan memindahkan anaknya ke sekolah lain, sesuatu yang selalu Pak Ming sesalkan dan membuatnya sedih hingga saat ini.

Usia yang pada akhirnya membuatnya harus berpisah dengan sekolah yang ia cintai itu. Sebagai seorang guru di sekolah swasta, uang pensiun yang ia dapat tak seberapa, sementara biaya hidup semakin tak terjangkau. Tak ada yang bisa diharapkan dari uang pensiun yang ia terima, sesekali untuk menambah penghasilan Pak Ming mengajar les di tempat ia tenggal. Dan beberapa kali ia mencoba membuka usaha, tapi untung belum bisa diraih malang tak bisa ditolak, usahanya selalu saja kandas sebelum mereguk sukses. 15 tahun sudah Pak Ming menjalani hidup sebagai seorang pengasong di lampu merah, dan tak jarang ia bertemu dengan mantan siswanya yang telah sukses. Kepala tua Pak Ming belum terlalu pikun untuk mengingat wajah-wajah mantan siswanya yang duduk di dalam mobil mewah, tapi mungkin terlalu banyak urusan yang harus dikerjakan mantan-mantan siswanya itu hingga tak mengingat guru yang pernah mendidiknya berpanas-panas ria di lampu merah. Pak Ming memaklumi itu.

Bel istirahat berbunyi. Pak Ming bangkit perlahan dari tempatnya terduduk tadi. Beberapa siswa keluar dari kelas dan menghampiri pedagang yang sejak tadi mengular di balik pagar yang dulu seingatnya tak setinggi itu. Siapa yang akan membeli dagangannya, di dalam kotak kayu yang menggantung di lehernya itu cuma rokok, tissue, dan permen. Pikirnya. Ia pun segera beranjak dari bangunan berlantai dua itu. Matanya basah, tak terasa kenangan yang tersimpan rapi di kepalanya berhasil membuatnya menangis.

“Pak Ming! Pak Ming, kan?” seseorang wanita jelita terlihat semringah menatapnya. Pak Ming  tersenyum. membalas sapanya. “Pak Ming, masih inget aku kan? Aku Debby, dulu gara-gara orang tuaku, Pak Ming hampir aja dipecat. Maaf ya, Pak. Oya, aku jadi guru juga di sekolah ini. Gantiin Pak Ming, jadi guru Sejarah. Hehehe…” sambungnya.

Pak Ming tetap tersenyum, ada kebanggaan di dalam dadanya yang tiba-tiba menyala.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s