Rahasia

walk_awayPertemuan tak selalu mampu menandaskan rindu, mungkin malah dapat menumbuh-lebatkan rindu-rindu yang seharusnya dipangkas. Rindu, tanaman rambat yang benihnya tertanam di kepala, dan cinta adalah pupuk terhebat yang sanggup merimbunkan rindu dalam semalam. Namun terkadang benih yang tertanam itu adalah sesuatu yang terjatuh tanpa disengaja, dijatuhkan oleh burung-burung takdir yang dikirim Tuhan.

Dia, Rahasia. Kami bertemu di sebuah halte yang tak jauh dari tempatku berkantor. Perempuan dengan mata bak almond, dan bibir tipis seperti lengkung pelangi, kami kerapkali bertemu di halte sehabis pulang bekerja. Tak ada yang kami dapat lakukan selain daripada saling mencuri-curi pandang, sementara aku tak punya nyali untuk memulai sebuah perbincangan. Sebuah sedan keluaran eropa selalu berhenti di hadapannya dan setelahnya membawanya pergi. Entahlah, mungkin suami atau mungkin sopirnya. Tetapi yang pasti, sebelum Rahasia masuk ke dalam mobil itu dan membawanya pergi, ia selalu tersenyum kepadaku. Senyuman Rahasia adalah bibit dari tanaman rambat yang tumbuh di kepalaku kini.

Petang ini jarum jam di tanganku sudah menunjuk ke angka 17.15, namun sosok Rahasia belum juga tampak di halte. Apakah ia hari ini tak bekerja, atau ada sesuatu yang terjadi dengan dirinya? Pikiran-pikiran yang semestinya tak ada dalam pikiranku timbul-tenggelam. Senja jingga yang mengintip dari balik gedung-gedung pencakar langit perlahan-lahan rebah dan berganti dengan cahaya lampu-lampu jalan. Aku masih terduduk di halte, dan melewatkan beberapa bus yang seharusnya aku naiki. Di dalam pikiranku masih saja bergeliat Rahasia. Entah mengapa aku terlalu memikirkannya, inikah yang namanya rindu, tanaman rambat itu.

“Tumben, lembur juga?” ujar seorang wanita berkemeja warna baby blue dan rok mini warna deep blue, sewarna dengan blazer yang ia kenakan dan duduk di sampingku.

Aku tertegun, mataku terpaku pada wajahnya.

“Huufft… sudah jam 18.36, bus ke arah Depok masih ada nggak ya,” ucapnya kembali sembari menghela nafas setelah menilik jam tangannya.

“Nggak dijemput suami kamu? Mungkin masih ada, tapi kemungkinan penuh. Kenapa nggak naik taksi aja?” sahutku.

“Suami? Hahaha… Bukan, bukan, itu Ayahku. Naik taksi, ya nanti deh lihat aja gimana. Kamu belum jawab pertanyaanku yang tadi,” jawab wanita sambil tersenyum/

“Iya, aku lembur juga.”

Ah, seandainya kau tahu Rahasia, aku menunggumu untuk sebuah senyum itu.

“Oh iya, kita sering ketemu di halte ini tapi belum saling kenal. Namaku Mustika. Mustika Aprilia,” wanita itu menjulurkan tangannya.

Rahasia sekarang sudah punya nama. Mustika Aprilia, nama yang indah.

Beepp… Beepp…

Sebuah BBM masuk ke ponselku, membuyarkan lamunanku.

“Mas, meeting-nya hari ini juga, bisa? Di Kafe Ladania, jam 20.00. Besok katanya klien kita mau keluar kota.” Bunyi pesan itu.

Kafe Ladania pukul 20.00

“Mas, kenalkan, ini Klien kita. Mustika Aprilia.”

Aku terperangah, perempuan yang bernama Mustika Aprilia itu pun juga terperangah. Namanya seperti Rahasia, tapi ia bukan Rahasia.

“Apakah kita pernah bertemu sebelum ini? Saya seperti mengenal Anda, tapi entah di mana saya nggak tahu,” ucap perempuan itu.

“Entahlah, tapi nama anda juga tak asing di telinga saya,” sahutku.

*

Rahasia, sejak petang 2 tahun lalu itu, ia tak pernah lagi tampak di halte dekat kantorku. Dan rindu di dalam kepalaku kini telah menjadi hutan rimba yang mampu menyesatkan siapa saja. Entah kemana perginya Rahasia. Apakah ia datang seperti burung-burung takdir yang dikirim Tuhan untuk menjatuhkan benih-benih itu melalui senyumnya? Entahlah.

“Kak, makan malam dulu yuk. Nanti baru selesaikan deadline-nya, ” ucap Mustika Aprilia, menyadarkanku dari lamunan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s