Tak Perlu Ada Kesempatan Kedua

Kesempatan kedua. Aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah kesempatan kedua itu harus ada? Kalau demikian, maka kesempatan satu-satu yang diberikan menjadi sesuatu yang hilang makna. Sama seperti halnya hidup, kalaupun ada kehidupan setelah kematian, aku yakin benar itu bukan kesempatan kedua. Tetapi suatu kehidupan yang baru, yang mungkin saja tak ada sangkut-pautnya dengan kehidupan lalu.

Pagi, ponselku berdering menandakan sebaris pesan singkat diterima. Aku terbangun. Kepalaku masih agak terasa berat, efek alkohol semalam masih terasa mengendap di syaraf-syaraf kepalaku. Di sebelahku seorang wanita muda tertidur dengan memunggungiku. Selimutnya tersingkap, terlihat jelas, punggungnya yang begitu mulus dan tambah elok dengan sebuah tato bergambar kupu-kupu yang tengah hinggap di kelopak bunga mawar. Kukecup tengkuk lehernya sebelum beranjak dari ranjang untuk menggapai ponsel yang tergeletak di meja rias. Wanita itu menggeliat, dan membalikkan badan. Aku dan dia bersitatap. Ia mencoba membuka matanya. Ah mata itu, mata yang selalu kukagumi, mata yang membuatku takluk. Aku selalu menyukainya, bulat serupa kelereng, dan berwarna cokelat.

“Selamat pagi, kamu mau pulang?” ucapnya sambil melempariku senyum, seraya mengisyaratkan kepuasan telah berhasil menaklukanku.

“Nanti, di luar sepertinya masih hujan,” sahutku, dan kemudian beranjak dari tempat tidur menuju jendela untuk memastikan dugaanku benar.

Wanita itupun ikut beranjak dan memelukku dari belakang, sementara aku masih tertegun memandangi hujan yang kian menderas.

“Kudengar tadi ponselmu berdering? Mengapa tidak kamu angkat?” tanyanya di ujung telingaku hingga napas yang hangat begitu terasa menjalari hingga leher, dan lantas ke dada.

“SMS. Paling juga dari Laksmi, dari semalam dia mencariku.”

“Belum kau baca? Kasihan Tunanganmu, tak baik membuat hati perempuan khawatir.”

Bisa-bisanya wanita ini, wanita yang tidur dengan tunangan perempuan lain menasehatiku demikian.

“Nanti,” jawabku singkat, sambil membalikkan tubuh.

Kini kami kembali saling bertatapan. Ah, mata itu selalu berhasil menaklukkan aku. Kuhempaskan ke lantai selimut yang melilit di tubuh mulusnya. Kami saling memagut, hingga tubuh kami kembali terjerembab di ranjang. Bergumul menciptakan peluh. Erangan, juga leguhannya tersamar oleh hujan yang kian deras.

*

Cinta, apa itu cinta? Aku belum bisa mendefinisikan apa sebenarnya cinta. Perasaan meyukai seseorang tanpa syarat, kerelaan berkorban untuk orang yang disayangi, atau hanya sekadar romatisme erotik sebagai sarana pemuas hasrat. Entahlah. Tapi kalau rasa kekagumanku pada Naya bisa dikatakan sebagai bentuk sebuah cinta, tak apalah.

Naya, wanita dengan mata terindah. Aku berkenalan dengannya di atas kereta api Argo Muria. Kebetulan Naya dapat kursi di sebelahku, ah atau mungkin beruntungnya aku mendapatkan kursi di sebelah Naya. Menurutnya, ia ke Semarang dalam rangka promosi novel terbarunya. Ya, Naya seorang penulis. Dan aku baru menyadari novel yang dibeli tunanganku kemarin, saat aku mengunjunginya di Jakarta adalah novel karangan Naya. Oh My God! Dan Aku berjanji pada Naya, akan datang ke acara lauching novelnya di salah satu Mall di Semarang.

Itulah awal dari perkenalanku dengan Naya, wanita dengan mata terindah.

Dan hubunganku dengan Naya semakin dekat semenjak aku bekerja di Jakarta. Hubungan yang semestinya tak harus ada, karena pada akhirnya akan melukai orang lain. Tiap akhir pekan aku lebih sering menghabiskan waktuku dengan Naya daripada dengan Laksmi. Nongkrong dari kafe ke kafe. Saat bersama Naya, aku merasakan menjadi diriku yang seutuhnya, semaunya. Ia tak pernah mempermasalahkan penampilanku yang urakan. Kami saling memahami lebih dari sekadar sepasang kekasih. Sesuatu yang tak pernah Laksmi berikan padaku, kenyamanan.

*

“Sayang, maafin aku. Telponku diangkat dong.”

“Kamu kemana sih? Bales sms!!!!”

“Line nggak nyala, Whatapps nggak aktif, BBM cuma di-read doang. Mau kamu apa sih?”

Tiga pesan singkat dari Laksmi. Aku mendiamkan Laksmi bukan karena aku marah padanya. Aku ingin dia mengerti, aku juga ingin dihargai sebagai laki-laki. Aku tahu penghasilannya sebagai PNS eselon 2 di Instansi keuangan lebih besar dari gajiku yang hanya berprofesi sebagai seorang grafik desainer. Tapi bukan berarti dengan alasan itu dia bisa merendahkanku di hadapan teman-temannya, juga di hadapan keluarganya. Kalau benar dia mencintaiku, seharusnya dia membelaku, bukan malah memojokanku.

“Siapa? Tunanganmu?” Naya, menyadarkan lamunanku. Aku hanya mengangguk.

“Kamu mau pulang sekarang?” sambungnya.

“Iya. Dan besok aku balik ke Semarang. Kapan kita bisa ketemu lagi?”

“Kapanpun kamu mau dan butuh aku, datang saja,” Naya, beranjak dari tempat tidur, menghampiriku, lalu memelukku.

“Seharusnya kamu nggak perlu resign, tapi sudahlah itu keputusanmu. I love you,” bisiknya  sambil mengelus rambutku.

Aku bergeming. Merasakan perasaan yang ganjil dalam dadaku. Aku merasa seperti sangat takut kehilangannya. Inikah yang dinamakan cinta? Perasaan ini tak sekalipun pernah kurasakan saat berdekatan dengan Laksmi, selama kami menjalin hubungan tiga setengah tahun.

“Mungkin dua bulan mendatang kamu jangan hubungin aku dulu, aku mau berkonsentrasi menyelesaikan novelku yang tertunda. Hmm… jangan buat khawatir tunanganmu. Hubungi dia, kalau kamu tak nyaman dengan perlakuannya. Ambillah sikap, hatimu juga perlu bahagia. Hati-hati di jalan,” ucapnya saat akan melepasku pergi.

*

Suatu sore di sebuah toko buku. Ramai dan padat pengunjung. Sore yang tak biasa, di toko buku itu novel terakhir dari trilogi Cinta di Atas Pasir karangan Ranggani Naraya di lauching.

“Nay…” sapaku saat hendak meminta tandatangan.

Naya yang menunduk kemudian mendangak ke wajahku. Kami saling menatap, matanya masih seperti dulu. Bulat serupa kelereng, dan berwarna cokelat. Indah.

“Ndra?” sahutnya.

Dan dari baris di belakangku, aku menarik seorang perempuan yang tak lain adalah Laksmi.

“Kenalin, Nay. Ini Laksmi. Dia nggak percaya kalau aku mengenalmu.”

Lalu kedua perempuan yang bersemayam dalam hatiku itu saling berjabat.

“Jadi benar, Mbak Naya kenal sama Mas Indra?” tanya Laksmi.

“Iya,” jawabnya singkat.

“Ya sudah, kayaknya antreannya masih panjang. Nay, ini undangan pernikahan kami. Kalau tidak sibuk datang ya,” ucapku sambil menyerahkan selembar undangan di atas tumpukan novel-novelnya.

“Kamu akan menikah, Ndra?” ucapnya, sambil memandang selembar undangn yang kuberikan.

“Selamat ya,” sambungnya, sambil memasang senyum palsu.

Ya, aku tahu benar dan memahami betul apa yang Naya rasakan saat ini. Tapi mau bagaimana lagi, aku dan keluargaku berhutang banyak dengan Laksmi. Bagiku pernikahan yang akan kujalani dengan Laksmi hanya sekadar balas budi, itu saja. Semoga Naya mengerti.

*

Ting… tong…

Wanita muda di hadapanku begitu terheran-heran sesaat setelah ia membukakan pintu untukku.

“Mengapa kamu ada di sini? Bukankah hari ini akad nikahmu?”

“Kamu bilang aku harus mengambil sikap. Dan ini sikapku. Aku memilihmu, Nay.”

Kesempatan kedua? Aku tak perlu kesempatan kedua, dan aku tak akan memberi kesempatan kedua baik untuk orang lain atau pun untuk diriku sendiri. Aku tak mau menyesali kesempatan yang telah diberikan padaku, dan meminta-minta kesempatan kedua. Sebab itu, aku memilihnya. Renggani Naraya, wanita dengan mata terindah.

***

One thought on “Tak Perlu Ada Kesempatan Kedua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s