Lelaki Pembenci Hujan

Pias di wajahnya tergambar begitu tegas, begitu lugas; seperti larik-larik gerimis yang jatuh satu per satu menyentuh birahi rindu burung kenari pada pohon-pohon trambesi. Dan di sisi lelaki itu terdapat sepasang lampu taman dengan warna pijar yang memudar, lelah menakut-nakuti jaman dengan berbagai hantu-hantu kenangan yang pernah kita bunuh di kursi lapuk ini dengan sebuah ciuman.

Hujan, adalah rintik-rintik sendu paling menakutkan, selain daripada hantu-hantu yang pernah kita bunuh di kursi lapuk ini. Tidakkah kau ingin berteduh di payung hitam milikku, Tuan? Atau barangkali, tubuhmu sudah bosan dengan harum lavender di tubuhku?

Pias di wajahnya tergambar begitu tegas, begitu lugas; seperti garis-garis pelangi yang enggan beranjak pergi. Siapakah gerangan yang memindahkan hujan bulan Juni ke dalam matamu, Tuan? Begitu tabah, nyaris pasrah.

Ini kali, aku ingin memaksamu berteduh di bawah payung hitam milikku; membunuh lagi hantu-hantu kenangan dengan tiga detik ciuman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s