Perempuan yang Berkarib dengan Kehilangan

Pada akhirnya kau harus memahami, atau mungkin juga menerima keberadaan tentang tiada dan hantu-hantu malam yang merengek kaujemput dengan senyuman. Ingatkah kau tentang hantu-hantu malam itu? Hantu yang pernah mengurung kita dalam ketidakberdayaan mencinta.

Tuan, seonggok jasad rindu yang terhampar di kepalaku kembali minta kaubangkitkan dengan segudang cerita lara perihal senja ungu yang terjatuh tak jauh dari asa-asa yang pernah kugurat di malam seribu lentera. Akankah waktu meminjamkan sedetik jenak untuk memunggut kembali repihan-repihan masa lalu? Entahlah.

Dan pada akhirnya kau harus memahami, atau mungkin juga menerima keberadaan tentang repetisi kehilangan. Kita, katamu, adalah benih air mata yang dieram juga diperam di dalam jasad kerinduan; dengan kehilangan kita menetas, karena kehilangan kita entas. Semoga waktu sempat menuliskan obituari lara pada lembar cahaya pertama senja ungu yang menyapamu, kendati musim bahagia telat tiba.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s