Mata yang Menghidupkan Harapan

“Aku tak takut kau tinggalkan. Bukankah selama ini, sebelum kau datang ke kotaku aku telah terbiasa dengan kesendirian. Kesunyian seperti yang kau tahu, adalah sahabat karib yang paling memahami aku melebihi kau sendiri, kekasihku. Sungguh, aku tak takut kau tinggalkan. Pergilah, pergi. Sekiranya itu dapat membahagiakan hatimu. Aku tak sanggup lagi menahan kebahagiaanmu lebih lama dalam dekapku, seperti halnya aku yang tak sanggup berlama-lama kau sembunyikan  dalam kesedihanmu. Sungguh, aku tak takut kau tinggalkan. Aku hanya takut kau tak lagi memberiku ruang dalam ingatanmu. Aku takut kau lupakan.”

Daun-daun cahaya perlahan satu per satu redup di langit barat. Senja ungu menyeruak dari balik cakrawala, membahasakan kesedihan, dan beberapa jenak kemudian hilang tenggelam ke dalam pembaringan malam. Gadis bermata bulat kelereng masih duduk terpaku menatap rel-rel berkarat yang pernah membawanya ke kota ini. Aku membaca tiap geliat kornea matanya yang berwarna cokelat, namun justru aku terjebak dalam teka-teki yang tengah ia bangun di dalam kepalanya. Entah apa. Aku memahami betul, perpisahan tak semudah menutup malam dengan berbagai gurauan-gurauan.

Gadis itu tertunduk dan memejamkan matanya, mencari kalimat yang presisi untuk menenangkan kegundahan hatinya. Tubuhku tak tahan untuk berdekapan dengan busung dadanya, merasakan geletar suara hatinya.

Dalam dekapan hidungku memburu wangi rambutnya yang sepinggang, yang dimasaikan angin petang itu. Aku merasakan beberapa bulir air matanya terjatuh memenuhi bahuku. Tangisnya tertahan, mungkin hanya sampai tengorokan. Dalam pikirannya, ia tak ingin meninggalkan kesedihan untukku, cukup kenangan-kenangan manis yang beberapa bulan lalu ia rajutkan untukku.

“Aku tak pernah sedekat ini dengan kebahagiaan, dan aku tahu, kau pun tak pernah sedekat ini dengan kesedihan. Menangislah di sini, sebelum kau beranjak jauh dariku, sebelum kereta malam membawa tubuhmu yang ringkih karena kesedihan pergi. Menangislah, sebab aku ingin sekali menghapus air matamu dengan jari-jemariku sendiri.”

Kulepas dekapanku dari tubuhnya. Dan aku melihat di matanya, kota yang satu per satu lampu-lampunya dipadamkan, kota yang begitu hening, begitu dingin, kota yang menjeratku dengan tanda tanya. Seperti yang kukatakan, aku terbiasa hidup dalam kesendirian. Kini aku hidup di matanya, sendirian. Namun bukan kesendirian yang biasa memahamiku. Kesendirian di matanya begitu kelam, lebih kelam dari perpisahan yang segera ia tunaikan.

Gadis itu tertunduk dan kembali memejamkan matanya, mencari kalimat presisi agar tak melukai kepergiannya. Kugenggam jemarinya. Ia membuka matanya dan kemudian melengkungkan bibirnya, membentuk garis yang lebih indah dari pelangi. Dan di matanya yang kulihat seperti kota mati tadi, aku menemukan sepasang bintang berdiang di sana sekarang. Entah kalimat presisi apa yang telah ia temukan. Tetapi yang pasti aku tak lagi sendirian di sana, aku hidup bersama harapan-harapan dan impian-impiannya.

“Bagaimana aku bisa melupakanmu, jika seluruh aku adalah kamu. Terima kasih untuk mata yang indah ini. Terima kasih telah menghidupkan harapan untukku. Tidurlah dengan nyenyak, akan kubawakan mimpi baru untuk kita,” ujarnya dalam hati.

Kereta malam datang tepat waktu, seperti maut yang beberapa waktu lalu menjemputku. Langkah-langkah kaki jenjangnya membawanya memasuki gerbong-gerbong penuh cahaya. Tak ada kenang-kenangan yang bisa aku berikan selain dari sepasang mata yang begitu ia damba. Aku tak pernah sedekat ini dengan kebahagiaan. Entah siapa yang meninggalkan dan yang ditinggalkan, yang perlu ia tahu aku tak takut ditinggalkan. Itu saja.

4 thoughts on “Mata yang Menghidupkan Harapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s